Maybrat, Petarung.org- Pagi itu, Kamis, 29 Januari 2026 di Kampung Susumuk, Distrik Aifat, Kabupaten Maybrat. Dari ufuk timur sang surya menyapa dengan hangat, embun mulai memudar perlahan, suara ayam berkokok dan suara burung terdengar berkicau.
Secara filosofis, harmoni alam ini memberikan tanda bahwa saatnya beraktivitas, memulai hari baru dengan pekerjaan baru, sebagai bentuk tanggung jawab manusia atas hidupnya.
Terlihat dari jauh seorang mama Angganeta Iek yang sedang duduk menjemur koba-koba atau am. Aku menghampirinya dan menyampaikan, “Rabu oh teme,” (selamat pagi mama) dan diskusi pun berjalan hangat.
Mama menjelaskan bahwa tahapan dan proses pembuatan am ati (koba koba yang asli) dimulai dari pergi memotong di tempat yang ditanam, dibawa pulang, dibersihkan durinya, lalu dijemur di bawah matahari.
Setelah itu dilipat dan ditaruh di atas tungku api rumah (kaberiu) selama tiga sampai lima hari, baru kemudian dijahit untuk digunakan.
Secara antropologi budaya, teknik ini menunjukkan kecerdasan luar biasa. Benang yang dipakai menjahit diambil dari kulit bunga hutan yang disebut harerem. Kulitnya dikupas, dijemur kering, lalu dipintal menjadi benang.
Suku Maybrat membagi koba-koba dalam dua jenis: Am ati yang ditanam di tempat basah atau rawa, dan Am mara yang tumbuh liar di hutan kering atau pegunungan. Pembagian ini mencerminkan kearifan lokal dalam memahami ekosistem lingkungan mereka.
Kegunaan koba-koba sangatlah multifungsi: sebagai payung pelindung hujan dan panas, sebagai tikar alas tidur, sebagai pengganti noken untuk isi barang kebun maupun kain timur, hingga alas menutup benda pusaka adat seperti bokek, toba, rarim, dan wan.
Bahkan, dalam praktik sosiologi tradisional, ia berfungsi sebagai noken khusus untuk dukun anak kecil yang disebut yuu anta. Ini membuktikan bahwa koba-koba adalah pusat dari kehidupan sosial masyarakat Maybrat.
Namun, saat ini pengaruh modernitas membawa perubahan perilaku. Banyak perempuan muda Maybrat sebagian besar sudah tidak menjahit am (koba-koba) lagi. Mereka memilih membeli payung karena praktis, tanpa menyadari bahwa secara sosiologis, mereka terjebak dalam teori Cargo Cult (Kultus Kargo).
Fenomena ini muncul ketika masyarakat tradisional mengadopsi teknologi maju (payung pabrikan) tanpa memikirkan dampaknya terhadap hilangnya keahlian asli dan identitas budaya mereka.
Secara ekonomi dan ekologi, payung modern hanya menguntungkan perusahaan dan penjual, sementara bagi kita hanya menyisakan sampah anorganik yang sulit terurai.
Sebaliknya, koba-koba adalah bentuk kedaulatan ekonomi karena bisa dibuat sendiri tanpa uang, dan secara agama, ini adalah bentuk menjaga kesucian alam ciptaan Tuhan karena sifatnya yang organik dan mudah menyatu kembali dengan tanah.
Dari sudut pandang budaya, proses pembuatan koba-koba memang sulit, namun di situlah letak nilai perjuangannya. Dengan memakai karya sendiri, kita sedang menjaga warisan leluhur.
Jika kita terus bergantung pada produk luar, kita secara tidak sadar sedang merusak budaya sendiri di tanah sendiri. Secara filosofis, kedaulatan sebuah bangsa dimulai dari kebanggaan memakai hasil ciptaan tangannya sendiri.
Oleh karena itu, saatnya perempuan Maybrat kembali menjahit koba-koba agar tetap terjaga di tengah arus globalisasi. Kita tidak bisa menghindar dari perkembangan zaman, namun kita harus bijak memanfaatkannya untuk kemajuan tanpa membuang jati diri.
Pemerintah, LSM, Gereja, Pemuda, dan Masyarakat harus bersinergi menyiapkan Perda tentang penggunaan bahan lokal seperti noken dan koba-koba dan alat tradisional lainnya di lakukan Perlombaan di setiap distrik perlu dilakukan agar orang tua yang masih mengerti bisa menjadi mentor bagi generasi muda. Menjaga Maybrat berarti harus menjaga budaya agar tidak pudar oleh zaman. (Mantah)





