Sorong, Petarung.org- Kisah petani rambutan kerap menyoroti perjuangan hidup yang gigih demi keluarga, mereka menanam dengan iman dan menanti hasil panen dengan sabar. Disaat musim panen tiba, banyak petani kerap kali menjadikan musim panen buah Rambutan sebagai sandaran, mata pencaharian utama di selah-selah aktivitas baik sebagai Petani, ASN, pekerja swasta, pemborong dan profesi lainnya.

Kita lihat di emperan toko, pasar, trotoar dan pondok pondok jualan di antero kota ini, memperlihatkan realitas dan kisah nyata perjuangan seorang pedagang rambutan di tengah kerasnya kehidupan, baik realita perjuangan hidup dari sudut pandang seorang penjual rambutan dan juga realitas sebagai para petani rambutan yang menggantungkan pendapatan dari hasil pertanian mereka.

Seperti halnya, kiasah bapa Dorteis Kambu (56) pria paru baya, asal Kampung Kambuskato (Sipat), Distrik Ayamaru Timur Selatan, Kabupaten Maybrat, yang berdomisili di Km 18 Kota Sorong, Kepada Petarung.org Sabtu, (11/7/2026).

saat ditemui disela-sela panen rambutan, beliau sampaikan bahwa, awal menanam beliau tidak belajar langsung dari orang, 10 tahun lalu (2014) beliau hanya lihat dari orang, langsung beliau coba ikut menanam, beliau nekat gunakan modal awal Rp 3.000.000 (Tiga Juta Rupiah) untuk beli bibit rambutan binjai, di Dinas Pertanian Kota Sorong, di Km 14 untuk isi di Lokasi yang kosong di Km 18 di Kelurahan Klaurung, Distrik Klaurung, Kota Sorong, Provinsi Papua Barat Daya.

Ia menambahkan, walaupun saya seorang PNS saya tetap bertani untuk hidup, untuk menambah kebutuhan ekonomi keluarga dan juga kebutuhan pendidikan bagi anak-anak, alasan say menanam saat itu sederhana saja, saya melihat anak saya baru masuk sekolah dasar dan saya merenung untuk pekerjaan sambilan apa agar kelak menopang biaya pendidikan anak-anak saya dan saya memilih untuk menanam rambutan, saat itu anak saya baru masuk SD, supaya saat dia duduk di SMP atau SMA suda masuk usia panen, dan hasil jualannya kelak untuk tambahan biaya Pendidikan.

“Saya juga ingin mencoba seperti orang lain yang sukses di pertanian, anak bisa lihat saya menanam saja sebelah kiri sana itu saya beli bibit awalnya itu10 pohon, masa itu satu bibit (pohon) rambutan dijual seharga Rp 250.000 (Dua Ratus Lima Puluh Ribu Rupiah) per pohon, waktu itu. saya tidak pikir bahwa itu mahal, karena saya punya niat bahwa saya rugi satu kali dan kelak hasilnya akan melebihi nilai uang yang saya gunakan di awal untuk beli bibit, apalagi anak saya baru mau masuk Sekolah Dasar,” ujar ayah dua anak ini.

Ia menambahkan, soal manis dan tidak, rambutan itu semua tergantung perawatannya saja agar rasanya beda Di kebun ini, saya punya sekitar 20 pohon dan ada juga sebagian pohon yang mati karena hama.

Saat ditanya soal hasil panen, biasa bapak jualalan per pohon atau perkilo? beliau sampaikan bahwa semua hasil pertanian di jual per kilo dan untuk 1 kg, di jual Rp 50.000 (Lima Puluh Ribu Rupiah) dan sesekali juga biasa jualan per pohon Rp 700.000 dan Itu harga dari dulu sampai sekarang masi bertahan di harga itu.

“Biar rambutan lagi banjir di Kota Sorong, saya tetap jual di harga itu, sudah harga tetap karena banyak pelanggang mereka makan dan rasa sehingga banyak yang berlangganan,” ujarnya.

kami bertahan jualan di harga itu, karena dari hasil jualan nanti kami gunkan untuk kebutuhan hidup sehari-hari. Sisanya simpan untuk biaya pendidikan, terutama untuk anak saya yang saat ini, masih menempuh pendidikan tinggi, jurusan Teknik Informatika di Bandung dan saya biayai dari hasil jualan selain jualan rambutan, ada juga sayur kacang panjang, jagung, buncis dan lain sebagainya. (CR1)