Kami di pedalaman tidak butuh janji-janji indah,
janji di baliho dan seremonial di Ibu Kota
Kami butuh keadilan yang nyata.
Tolong lihatlah foto ini, wahai pemerintah, di foto ini bukan sedang kegiatan prakarya.
ini adalah pembangunan Pagar dan Gapura sekolah kami di pedalaman Aifat Timur.
di saat sekolah di tempat lain sudah pakai pagar Beton,Gapura dengan Seng
anak-anak di sini masih harus duduk di tanah, di bawah pohon,
menganyam daun sagu untuk jadi atap Gapura sekolah
ini bukan soal kearifan lokal, ini murni keterpaksaan
Jangan bungkus kemiskinan ini dengan kalimat indah
pemanfaatan kearifan lokal atau sekolah berbasis budaya.
Ini bukan pilihan. Ini karena seng tidak pernah sampai ke sini
karena pemerintah tidak mau anak-anak ini ingin sekolah yang sama layaknya anak di kota.
Tuntutan kami sederhana, jangan suruh kami buat daftar hadir
untuk lapor, foto² kerusakan untuk kirim, upload modul ajar kurikulum merdeka di PMM.
Kalau pagar kami saja, masih dari kayu
atap Gapura kami saja masih dari daun sagu yang akan lapuk dalam 6 bulan.
Jangan suruh kami asesmen, digital kalau Internet belum ada.
Datang dan lihat sendiri, bangunkan untuk kami satu pagar bersama gapura yang layak,
yang beratap seng, berdinding semen.
Bukan untuk gaya, tapi agar anak-anak ini percaya bahwa mereka juga diperhatikan oleh pemerintah Maybrat.
kami bisa anyam daun, tapi seharusnya pemerintah tidak membiarkan kami terus menganyam kemiskinan
di wilayah yang katanya negeri manusia beradap dan bangsawan Ra Bobot ini.
—
Sebuah catatan di media sosial (Facebook) pribadi milik Apolos Kosamah





