Oleh: Catatan Petarung
Sebuah catatan kritis untuk Refleksi Iman, Krisis Ekologi, dan Melihat Realitas Pembangunan di wilayah Maybrat dari sisi rekonstruksi konteks historis-spiritual dalam melihat hakikat 75 Tahun Theofani di Bumi A3. Sebuah perjalanan sejarah spiritualitas dan kebudayaan orang Maybrat yang dinubuatkan untuk New Guinea, mencatat pilar historis mendasar melalui peringatan 75 tahun perayaan Theofani di Bumi A3, Maybrat.
Selama tujuh decade lebih, perjumpaan spiritual ini tidak hanya menjadi penanda masuknya terang iman Kristiani untuk janji berkat, tetapi secara hakiki menetapkan mandat etis bagi masyarakat Maybrat untuk hidup bersahaja dan selaras dengan alam tempat kelahiran mereka. Secara strategis, momentum tujuh puluh lima tahun ini seharusnya merupakan titik pijak dalam membentuk identitas moral, kesadaran ekologis, dan etika sosial masyarakat Maybrat dalam visi manusia pembangun di New Guinea.
Perayaan Theofani bukanlah sekadar pengulangan ritus keagamaan tahunan, melainkan sebuah kompas keberadaban yang memandu manusia Maybrat agar tumbuh menjadi manusia-manusa pembangun, yang berhikmat, yang visi politik merangkul dan mewujudkan Thefani itu nyata di kehidupan keseharian, membangun semua elem, bertenggang rasa dan bertanggung jawab atas kelestarian warisan ciptaan Tuhan di tanah leluhurnya. Apalagi pesan spiritual Theofani mengakar kuat pada empat pilar ajaran etis yang dirancang sebagai panduan hidup kolektif yang wajib diwariskan secara turun-temurun lintas generasi yakni pelihara;
Kesatuan, komitmen moral untuk merawat keutuhan persaudaraan sejati antar-sesama manusia dan menjaga keterhubungan yang tak terputus dengan alam lingkungan, guna mencegah perpecahan sosial serta kehancuran ruang hidup di bumi A3.
Kerendahan Hati, sikap batin yang secara sadar menanggalkan keangkuhan, kesombongan, dan egoisme individual, serta mengakui keterbatasan hakiki manusia di hadapan Sang Pencipta dan hukum-hukum alam.
Kasih, landasan utama tindakan yang memancarkan pemeliharaan tulus, kepedulian mendalam, dan perlindungan aktif terhadap sesama manusia maupun seluruh komponen makhluk hidup di dalam ekosistem dan
Kehormatan Kepada Semua Orang, penghargaan yang setara terhadap martabat setiap insan tanpa terkecuali, sehingga seluruh rahmat dan karunia spiritual tetap terawat menjadi warisan yang memberkati anak cucu secara berkesinambungan.
Penjiwaan sejati atas nilai-nilai Theofani menuntut keberanian batin untuk mempraktikkan kesederhanaan. Dalam perspektif etika lingkungan Maybrat, kesederhanaan bukanlah manifestasi dari keterbelakangan, kemiskinan, ataupun ketiadaan cita-cita, melainkan sebuah kesiapan batin yang kokoh untuk hidup berkecukupan, sebuah kapasitas jiwa untuk bersyukur secara tulus atas apa yang telah dicurahkan oleh alam dan Tuhan.
Di tengah pusaran kehidupan modern yang sarat akan kebisingan dan tekanan psikologis, penderitaan manusia Maybrat justru berakar dari amuk hasrat yang tak terkuasai, dahaga akan materi, pangkat, jabatan, status sosial, hingga pemburuan validasi eksternal. Hasrat tak bertepi para elit inilah, yang menjadi akar penyebab eksploitasi alam yang destruktif.
Kebebasan batin dan ketenangan jiwa yang hakiki hanya dapat diraih tatkala manusia mampu menguasai dirinya sendiri, membebaskan jiwa dari perbudakan materi, dan menarik diri dari konsumerisme yang merusak bentang alam kars Maybrat.Dan orang Maybrat punya filsafat tradisional (Fret bo) “Tabam to sikowah ra fe, ra oh mi sikowah tabam,” kita orang Maybrat, jangan lupa filsafat lama dari suku ini.
75 tahun ikut Tuhan, tapi kasi rusak danau, 75 tahun ikut Tuhan kita buang sampah sembarang, kasi rusak hutan, ijinkan pengusaha kasi rusak tanah dan hutan, manusia Maybrat yang katanya terhormat bangsawan dan bobot itu hanya untuk menghibur diri dan untuk slogan sebagai bahan tepuk dada semata, namun tidak mampu menjaga keseimbangan alam di bumi A3.
Idealisme ajaran spiritual Theofani memanggil setiap insan Maybrat untuk hidup dalam kesucian niat dan Tindakan. Namun ketika idealisme iman ini disandingkan dengan realitas di lapangan, terpapar sebuah jurang pemisah yang tajam antara pengakuan spiritualitas dan krisis ekologis yang tengah mengancam keberlanjutan tanah kelahiran, salah satunya kepunahan ikan Pelangi, ikan Pelangi tercantik di dunia ada di Danau Ayamaru dan Danau Uter, namun apa daya spesies itu hilang karena kita serakah, dan manusia pembangun yang kita banggakan perlahan tidak ada artinya karena tidak melindungi kehidupan ekologis di alama Maybrat, ikan yang terancam punah dan kerusakan ekologis ini akan menjadi luka ekologis bagi anak cucu kita.
Degradasi Danau Ayamaru, Danau Uter, dan Ancaman Kepunahan ikan endemik
Bentang alam kars Danau Ayamaru dan Danau Uter merupakan sistem hidro-geologi akuifer terbuka yang sangat unik, bernilai strategis, sekaligus sensitif terhadap intervensi luar. Sebagai pilar penyangga kehidupan dan pusat keanekaragaman hayati air tawar di Maybrat, kedua danau kars ini memiliki fungsi ekologis dan spiritual yang tak tergantikan.
Namun, rentang sejarah 75 tahun beriman justru memperlihatkan disonansi yang mengerikan. Ketidakmampuan masyarakat dan pemerintah lokal dalam mentransformasikan nilai iman menjadi etika perlindungan lingkungan. Ketidakpedulian terhadap rentannya ekosistem kars ini merupakan bentuk pengkhianatan spiritual terhadap mandat Theofani, di mana pengrusakan terhadap alam dilakukan secara terbuka di tengah megahnya seremoni keagamaan.
Audit kerusakan lingkungan secara holistik mencatat bahwa akumulasi aktivitas destruktif selama tujuh dekade terakhir telah merusak struktur resapan air dan merusak kualitas habitat perairan danau kars. Pemetaan antara indikator perusakan lingkungan dan dampak ekologis langsung, misalnya dampak ekologis langsung seperti pencemaran sampah padat & plastik, pembuangan limbah domestik & medis, pembukaan tutupan hutan kars, pendangkalan air & pembuatan bendungan dan introduksi massal spesies invasif
Sementara indikator perusakan lingkungan seperti ditemukannya 83 jenis sampah yang terapung hingga mengendap di dasar Danau Ayamaru dan Danau Uter, mengkontaminasi rantai makanan dan merusak estetika akuatik. Dampak ekologis langsung yang lain adalah pengalihan saluran limbah rumah tangga dan pembuangan langsung sampah bekas alat kesehatan (medis) ke danau, memicu pencemaran mikroba dan zat kimia berbahaya.
Dampak ekologis langsung seperti penebangan hutan kars secara masif untuk pembukaan lahan dan infrastruktur, merusak struktur resapan hidro-geologi alami serta memicu erosi permukaan dan pendangkalan perairan akibat sedimentasi pesat serta pemotongan aliran air melalui bendungan, mengubah dinamika hidrologi dan merusak area pemijahan ikan alami. dan dampak ekologis langsung seperti pelepasan puluhan ribu ikan asing/invasif secara tak terkendali, mendesak, memangsa, dan memicu krisis kepunahan bagi spesies endemik lokal juga menjadi ancaman.
Tragedi ekologis paling menyayat hati dari disonansi ini adalah terancam punahnya fauna akuatik endemik kebanggaan dunia. Pada tahun 1951, Ichthyolog Marnius Boseman menemukan spesies ikan hias air tawar tercantik di dunia di Danau Ayamaru, yakni Ikan Pelangi Boeseman (Melanotaenia boesemani) dan Ikan Pelangi Ajamaruensis (Melanotaenia ajamaruensis).
Spesies langka yang di alam liar memiliki potensi usia hidup hingga 9 tahun ini kini berada di ambang kepunahan dari habitat aslinya. Sebuah ironi intelektual dan moral yang sangat mendalam terjadi, di tengah hadirnya ribuan orang pintar asal Maybrat yang menyusun dokumen Analisis Dampak Lingkungan (AMDAL), instrumen teknokratis tersebut gagal total dalam melindungi habitat alami danau kars.
Dokumen AMDAL seolah menjadi formalitas di atas kertas, sementara izin pembukaan hutan, pencemaran limbah, bendungan ugal-ugalan, dan pelepasan puluhan ribu ikan invasif terus dibiarkan menghancurkan habitat ikan Melanotaenia Boesemani dan Melanotaenia Ajamaruensis. Kegagalan sistematis dalam melindungi bentang alam kars dan spesies endemik ini bukanlah sekadar kecelakaan ekologis, melainkan cerminan langsung dari kebobrokan tata kelola pemerintahan serta krisis moral para elit lokal yang kehilangan kompas spiritualnya.
Analisis Kritis Tata Kelola, Pembangunan, dan Realitas Sosial Masyarakat
Dalam membedah realitas pembangunan di Maybrat, sangat krusial untuk menarik garis tegas antara akumulasi fisik berupa beton dan jalan dengan kesejahteraan substansial yang dirasakan oleh masyarakat kecil (ra kinyah, ku kra warek). Birokrasi pemerintahan lokal kerap melanggengkan paradigma pembangunan yang mengaburkan makna kemajuan, di mana pembangunan fisik dijadikan kedok untuk mengalihkan perhatian dari kegagalan penyediaan layanan publik mendasar dan penegakan keadilan sosial.
Penderitaan yang dialami masyarakat modern Maybrat sejatinya tidak berakar dari keterbatasan sumber daya alam, melainkan bersumber dari amuk keinginan tak terbatas para elit politik dan pejabat birokrasi. Ketakakutan para elit akan status, gelar kehormatan (bobot), kebiasaan pamer kekuasaan, dan perburuan akumulasi modal pribadi telah memisahkan mereka dari kebutuhan riil rakyat di akar rumput. Kebutuhan mendasar masyarakat kecil (ra kinyah, ku kra warek) yang terabaikan mencakup empat sektor vital antara lain ketersediaan dan kelayakan pasar rakyat, akses transportasi murah, pembukaan lapangan kerja produktif dan transparansi dan keadilan APBD Maybrat dan Dana Kampung.
Mengingat perlu ada representasi pembangunan fasilitas pasar tradisional yang bersih, layak, dan teratur guna memfasilitasi aktivitas ekonomi komoditas lokal milik masyarakat kecil. Perlu penyediaan sarana transportasi publik yang terjangkau dan aman untuk menghubungkan interaksi ekonomi serta sosial antar-kampung dan antar-distrik dan Penyerapan tenaga kerja yang berkelanjutan bagi generasi muda Maybrat guna mencegah stagnasi ekonomi, pengangguran, dan keputusasaan sosial. Serta transparansi dan keadilan dalam mengelola APBD Maybrat dan Dana Kampung. Pengelolaan, penyaluran, serta pelaporan anggaran dana kampung secara jujur, terbuka, dan bertanggung jawab tanpa penyelewengan.
Praktik Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme (KKN) yang berkelanjutan, dipadu dengan “nafsu pembangunan tak terbatas”, telah mendegradasi nilai-nilai sakral Theofani. Peristiwa iman yang seharusya memicu introspeksi emosional dan pertobatan ekologis diubah menjadi sekadar arena seremonial yang mahal, ajang hiburan musiman, dan panggung tepuk dada bagi kaum elit yang merasa terhormat dengan status bobot.
Namun di balik kemewahan seremoni tersebut, kenyataan pahit memperlihatkan bahwa jiwa mereka limbung, seperti kapal yang sarat muatan dan terancam karam dalam eforia Theofani. Mereka bangga akan gelar dan jabatan, namun membiarkan tanah, danau, dan masyarakatnya tenggelam dalam krisis multidimensional. Untuk menghentikan laju degradasi moral dan ekologis ini, dibutuhkan sebuah reorientasi mendasar yang mampu mengembalikan Theofani dari sekadar perayaan seremonial menjadi etika hidup harian yang mentransformasi tata kelola pemerintahan dan perilaku masyarakat. (*)






