Oleh: Imanuel Tahrin (*)

Kabut asap tipis mulai menyelimuti Kampung Susumuk, Distrik Aifat, Kabupaten Maybrat, Papua Barat Daya. Pukul 17.26 WIT, matahari perlahan condong ke ufuk barat, membasuh tanah Negunea dengan cahaya jingga yang redup. Di tengah heningnya sore itu, ingatan kolektif tentang asal-usul seorang manusia kembali dibangkitkan. Ini bukan sekadar cerita pengantar tidur, melainkan peta identitas bagi Marga Sowe.

Marga Sowe, yang berpusat di Distrik Aifat Selatan, secara geografis dan genealogis terbagi menjadi dua sub-marga besar: Sowe UU (Orang Sowe yang berdiam di daratan tinggi atau atas gunung) dan Sowe Tee (Orang Sowe yang mendiami lembah atau daratan rendah). Namun, sebelum pembagian wilayah itu terjadi, ada sebuah kisah purba tentang pertemuan antara manusia dan alam, antara daging dan roh leluhur.

Bertemu Karena Asap

Konon, jauh sebelum pemukiman modern berdiri, hiduplah seorang perempuan keturunan dari “Weret” (tikus). Ia lahir dari rahim alam liar, namun memiliki rupa manusia. Suatu hari, saat berada di tanah Sowe Kisor, matanya tertuju pada gumpalan asap yang mengepul tinggi ke angkasa.

Asap itu berasal dari api unggun seorang laki-laki bernama Wera. Penasaran, perempuan itu meninggalkan dusun asalnya, Srefin di Mokamat, dan menyusuri jalan setapak hutan. Matanya tak lepas dari arah asap. Saat tiba di sumber asap, ia menemukan Wera, sang pembakar api.

Dalam tradisi masyarakat Maybrat, pertemuan pertama seringkali diuji melalui ritual adat bernama “Mawi”. Perempuan itu pun melaksanakan Mawi untuk mengetahui hakikat sosok di hadapannya. “Au memat ait yabo, mamo saso bo tana, moo tane mawe ait fo kabes fee rae tu, bo tana maut rae tunu,” bunyi doa atau mantranya. Artinya kurang lebih: “Saya melihat sesuatu, apakah ini manusia atau roh/setan? Biarlah Mawi (adat) memberikan tanda.”

Hasil Mawi menunjukkan tanda baik; sosok itu adalah manusia, bukan roh jahat. Dengan restu adat, perempuan itu tinggal bersama Wera. Beberapa waktu berselang, kerinduan pada kampung halaman membawanya mengajak Wera kembali ke dusun Fiyo Niweret di Srefin.

Perpisahan dengan Dunia Tikus

Kedatangan mereka disambut malam yang sunyi. Sang istri memasak, namun ketenangan terusik oleh kedatangan gerombolan tikus. Wera, suaminya, merasa terganggu dan marah, “Mengapa begitu banyak tikus datang ke rumah kita?” Istrinya hanya diam, menyadari bahwa tikus-tikus itu adalah keluarganya sendiri—kelompok yang melahirkannya. Mereka datang karena senang melihat “anak” mereka kembali.

Malam itu, setelah Wera tertidur, sang istri berbisik kepada para tikus, “Anu NEMA fee rae-rae mefo” (Jangan lagi datang ke sini, ini tempat orang lain/tamu).

Mendengar penolakan halus dari anak perempuannya, para tikus murka. Sebagai tanda perpisahan abadi dan kemarahan, mereka menyumbat lubang-lubang tanah tempat tinggal mereka dengan daun-daunan. Sejak pagi buta, ketika pasangan itu bangun, tidak ada lagi tikus yang berkunjung. Lubang-lubang itu tertutup rapat, menandai putusnya ikatan fisik sang perempuan dengan dunia binatang, dan teguhnya ia sebagai manusia seutuhnya bersama Wera.

Kelahiran Generasi dan Pembagian Wilayah

Waktu bergulir. Rahim sang istri melahirkan anak pertama bernama Rofof, disusul anak kedua bernama Ruaof. Ketika kedua putra ini dewasa, Wera membagi warisan tanah leluhur.

Rofof, si sulung, memilih tinggal di daratan tinggi. Ia menjadi cikal bakal Sowe UU (atau Yohau Sowe UU). Sementara Ruaof menempati daratan rendah, menjadi leluhur Sowe Tee (Yehu Sowe Tee).

Garis keturunan terus berlanjut. Rofof menikah dan memiliki anak yang diberi nama sama dengan kakeknya, Wera. Dari garis keturunan inilah lahir Ukera dan Yumatit. Ukera kemudian menetap di perbatasan dengan Marga Fatem, membentuk sub-marga Sowe Seru Makit, yang berarti “Orang Sowe yang tinggal di ujung gunung”.

Di sisi lain, Ruaof di dataran rendah memiliki putra bernama Atebais. Atebais kemudian menurunkan Kamawe Yabi dan Kamawe Yaku. Kamawe Yaku dikenal memiliki lima istri, memperluas cabang keluarga Sowe Tee. Salah satu cabang penting di dataran rendah adalah Sowe Niweret, dinamakan sesuai tempat tinggal mereka di Niweret. Ada pula kelompok Sowe Asiaf yang menjadi bagian dari mosaik penyebaran marga ini.

Warisan yang Tak Terlihat

Hingga kini, bukti kepemilikan tanah adat Marga Sowe tidak hanya berupa batas pohon atau sungai, tetapi juga artefak sakral seperti Wai (taring babi) dan manik-manik kuno. Benda-benda ini adalah saksi bisu perjanjian leluhur dan legitimasi historis atas tanah yang mereka injak.

Saat saya mengakhiri wawancara, kabut di Susumuk kian pekat. Matahari telah sepenuhnya tenggelam. Namun, di dalam dada, api sejarah justru menyala terang. Menulis sejarah Marga Sowe adalah upaya menahan lupa. Seperti kata pepatah, “Pohon tumbuh kuat karena akarnya dalam.” Jika generasi muda Maybrat ingin berdiri tegak menghadapi zaman, mereka harus tahu dari mana akar mereka bercabang.

Dari wajah Rut Sowe yang berseri-seri, tersirat pesan senyap:” Sudah saatnya kita mencatat sejarah masing-masing. Bukan untuk membangkitkan masa lalu yang kelam, melainkan sebagai kompas agar kita tidak tersesat menentukan masa depan. Identitas adalah penjaga tanah. Dan tanah, hanya akan menjaga mereka yang ingat asalnya.”

Cerita Marga Sowe mungkin berakhir di sini, namun jejaknya akan terus berjalan di setiap langkah generasi penerus.

(*) Imanuel Tahrin adalah seorang aktivis lingkungan, pemerhati budaya, penulis, pendiri komunitas Peduli Tata Ruang. Sebagai catatan : Cerita Asal Usul Marga Sowe, di Distrik Aifat Kabupaten Maybrat ini dituturkan oleh Mama Rut Sowe.