Oleh: Imanuel Tahrin (*)
Waktu yang Menjadi Saksi Aku memutar jarum takdir, kembali ke tanah Negunia14 Juli 1960 Sorong. Siang itu, angin Sorong berembus menyejukkan jiwa,gunung-gunung berdiri sebagai benteng keabadian,laut menyanyikan mazmur tanpa jeda,dan awan membentang, menjadi payung bagi takdir yang berjanji.Langkahku terayun dari Kampung Baru menuju Pasar Remu,
di mana helai-helai rambut panjang terurai mengurai sunyi.Dalam takjub, akal bertanya pada rasa: Siapakah gerangan Hawa ini?Parasnya adalah magnet, memikat hati yang semula tenang.”Selamat siang, siapa namamu?” sapaku menembus jarak.Ia menoleh, bersuara bagai gerimis lembut: “Namaku Mabioh.””Dari jauh, kupikir engkau bidadari yang singgah sejenak,”
bisikku, Kerokesiah, lelaki yang mendadak kehilangan penawarnya.”Lalu dari tanah mana engkau meminjam keindahan ini? “Aku Mabioh Jitmau, dari Mapura kampung di tepi Danau Ayamaru.” Pantas saja,” balasku terpukau.”Engkau memantulkan pesona Ayamaru yang tak pernah padam.Gunung, laut, dan hutanmu menjelma dalam parasmu.Mungkin engkau malaikat yang dikirim untuk menjadi ratuku, abadi selamanya.”Pria mati pada penglihatannya, terpaku pada elok yang kasatmata;
wanita luluh pada pendengarannya, terhanyut oleh bait-bait makna.”Dari jauh hatiku melumpuh,” bisikku lagi, “namun dari dekat, ada kamu yang memberi daya.””Lalu siapa gerangan engkau, Pria Berdasi?” tanyanya lugas.”Aku Kerokesiah, dari Susumuk. Ibuku pun berdarah Jitmau.””Ya ampun, kalau begitu engkau Mama Ade-ku,” panggilnya hangat.
Di antara Rafidin dan Share Klademak Satu, perkenalan itu terhenti sementara.Namun aku pulang membawa bunga di dada.Tuhan, jika ia takdirku, pertemukan kami kembali dalam tatap yang mesra.
Takdir dan Pertautan Kembali (Katapop Pantai)Cinta adalah keharusan metafisik: walau sejauh apa pun terpisah,ia akan menemukan jalan kembali ke muasalnya.
Di Katapop Pantai, tempat tugas bertaut dengan rumah sang ayah,langkahku menuntun pada pintu yang sama.
“Selamat sore…” sapa ku di ambang pintu.”Silakan masuk, Anak,” sambut ayahnya penuh kehangatan suku yang sama.Di sana, ia kembali berdiri bunga yang pernah kupikir hilang dalam waktu.Tuhan menyambungkan kembali benang yang sempat terputus.
“Mari kita menikah,” kataku tanpa ragu.”Aku siap menjagamu melewati badai yang paling dingin.Paras hitam manismu menyimpan rahim keturunan dan kekayaan,seperti mutiara hitam di balik danau, seperti emas yang tersembunyi di balik hijau gunungmu.”Malam-malam setelahnya menjadi ruang rindu yang pekat.
Aku bertanya pada langit dan membisikkan doa pada angin Ayamaru.
Nama Mabioh menjelma mantra; dengan segala daya, hatinya harus kupeluk.Dua dunia tidak boleh tetap dua; mereka harus lebur menjadi satu kesadaran.
Penyatuan dalam Restu Abadi di rumah tua yang menjadi saksi,di hadapan kerabat yang menatap penuh ragu pada orang baru,Mabioh berdiri di persimpangan keputusan.Mabioh mengenang:”Dengan mata yang berkaca-kaca, dada yang tersengat, dan napas yang panjang,aku memilihnya menjadi pelindung hingga hari tuaku.Meski sebagian keluargaku menolak karena belum mengenal perangainya,cinta kami tetap berjalan menembus keraguan.”
Di bawah terik matahari dan cahaya rembulan yang menjadi saksi bisu,percakapan demi percakapan meruntuhkan dinding penolakan.Hingga akhirnya, restu terpancar dari orang tua,melangkahkan kami menuju hukum adat dan ikatan suci:Bukan lagi dua jiwa yang berjalan sendiri-sendiri,melainkan satu entitas yang berlayar bersama dalam bahtera rumah tangga abadi.
Aku Memilihmu Sebagai Pelindung
Keniscayaan yang Terikat Ufuk timur Negunia membiaskan rembulan,Malam berbisik pada janjimu yang perlahan mengakar.Di Susumuk, aku serahkan takdir dan pangkuan,Menatap hadirmu sebagai rumah, tempat jiwa bertukar.Aku melayani tungku, mencuci duka,Merajut ikatan darah dalam adat yang utuh.Di Yukase dan Mapura, kuperkenalkan segalanya tanpa curiga:Hutan, gunung, dan danau yang bersaksi atas kasih yang patuh.
Dialektika Kasih dan Kendali Namun cinta yang kau ucapkan menjadi teka-teki eksistensi:Apakah kau memeluk jiwaku, atau sekadar memburu materi?Dari Katapop hingga Aimas, kau tegakkan daulat sebagai kepala,Napas hutan ditebang, sungai ditaklukkan atas nama tahta.Sanak saudaramu berdatangan merajai ruang,Sementara keluargaku yang hening terdesak hilang.Kau bentangkan jala gawai dan ilusi masa depan,Melumpuhkan nalar generasi dalam sunyi ketergantungan.
Racun dalam Sangkar Emas Kau beri mereka jabatan agar bungkam dalam kesibukan,Kau beri mereka mahkota, namun mencabut kebebasan.Ganja dan racun menyusup ke urat nadi adik-adikku,Membunuh mimpi mereka perlahan di bawah pengawasanmu.Dan ketika aku ragu, kau datang membawa rayuan lama,Sebuah estetik kata yang melumpuhkan kesadaran jiwa.Aku terperangkap kembali dalam dekapan yang gusar,Menyesali ketidaktahuanku saat cinta pertama kali mekar.
Merenung di Hadapan Alam Seandainya sang waktu dapat kuputar kembali,Aku ingin pulang ke masa lajang yang suci,Menyusuri jalan di mana ketulusan benar-benar menjaga,Bukan topeng penguasa yang lapar akan kuasa.Kini aku berguru pada burung dan berdialog dengan sungai,Memanjatkan doa pada langit yang bisu mengintai.Sebab di saat rahimku memangku benih kehidupan,Langkahku kian berat menanggung luka dan kedukaan.
Kebenaran yang Terungkap Kau katakan kau mencintaiku sepenuh jiwa,Namun tanah, rumah, dan darahku kau buat berduka.Keluargaku yang bersuara kau cap pembawa kekacauan,Cendekiawan dan saudaraku kau jebloskan dalam penjarahan.Darah ibu, ayah, dan adik-saudaraku gugur di tanah sendiri,Hanya karena mereka menagih janji yang kau ingkari.Janji “setia sampai maut memisahkan” kini terkelupas,Ternyata hanya majas indah dari pemangsa yang buas.
Kesaksian Waktu Tahun-tahun berganti, anak-anak kita tumbuh dewasa,Mereka tidak hanya mendengar, tapi melihat kebenaran yang nyata.Mereka menyaksikan tangan ayah mereka yang berdarah,Yang menikmati paras ibunya, sembari meremukkan tanah kelahirannya. Rayuanmu dulu melumpuhkan sanubari tanpa kusadari,Kini yang tersisa hanyalah cangkang kata tanpa arti.Aku memilihmu sebagai pelindung dalam ketidaktahuan,Namun sejarah akan mencatatmu sebagai penakluk yang penuh kepalsuan.
Jiwa Dan Ragaku Yang Kau Bunuh Perlahan
Rumah Tangga Tanpa Makna Hari-hari berlarut dalam bahtera tanpa sukma, Memeluk cinta palsu yang kehilangan hakikatnya. Hanya pada rahimku, makna itu pernah bernyawa Melahirkan benih-benih yang tetap terikat garis silsilahmu, Meski jiwa mereka merintih dalam pengasingan.
Saudara-saudaraku menatap nanar nestapa ini, Hidup berdampingan dengan kasih yang menjelma duri. Batinku remuk disiksa kekerasan berbalut pelukan, Sebab generasi kami hanya diajar untuk patuh dan bungkam. Engkau tidak memberi mereka pencerahan sejati; Hanya selembar ijazah kertas kosong tanpa ruang bagi etika, Sebuah ilusi pengetahuan yang menanggalkan fondasi kehidupan.
Pengawasan dan Racun Jiwa Buku-buku yang kami baca engkau kontrol dengan curiga, Suara-suara kritis dan berakal engkau singkirkan tanpa sisa. Mengapa engkau sekejam itu, Kerokesiah? Jiwa dan raga yang muda engkau susupi candu dan dosa; Minuman keras, kejahatan, dan keputusasaan engkau legalkan Di balik sanksi-sanksi tumpul yang kehilangan taring keadilan.
Gawai mereka engkau jejali arus informasi tanpa batas, Menyaksikan kejahatan yang melumat nilai-nilai luhur. Ketika mereka bernyanyi menyuarakan kebenaran, Engkau memburu mereka hingga ke ujung bumi, Bahkan mencabut nyawa hanya karena bait-bait nada sederhana Lagu yang lahir dari kepedihan hati, Menceritakan gunung, lembah, dan tanah air yang mereka cintai.
Pembungkaman dan Teror Ketika keluarga menggantungkan harapannya di langit, engkau mencurigainya. Ketika aku menuliskan kepedihan di media sosial, engkau menganggapku musuh. Ketika keluargaku menyampaikan pendapat, engkau membungkam suaranya. Peluru panas menjadi jawaban atas rindu kami akan keadilan, Lalu engkau lempar tuduhan pada “orang tak dikenal” yang serba kabur.
Di lorong-lorong jalan, ide-ide kami engkau buntuti, Menjaga keluarga kami bagai tahanan di balik jeruji yang tak terlihat. Banyak jiwa tewas hanya karena berbeda pandangan, Padahal kita adalah sama: manusia yang dirajut oleh Pencipta yang satu.
Rintihan di Bawah Langit Malam Dalam tidur, mataku tak pernah benar-benar terpejam. Aku bergeming, bertanya pada sunyinya semesta: Mengapa cinta yang dulu dijanjikan indah, kini terasa begitu merajam? Bukan beban fisik yang meremukkan, Melainkan jiwa dan ragaku yang engkau tekan setiap helaan napas.
Dalam cengkeraman rasa takut, aku melarikan diri ke dalam lagu Membiarkan bait nada menghiasi kehampaan rumah tangga ini, Sebuah bangunan yang berdiri di atas pasir kepalsuan. Penyesalan datang terlambat, dan aku terpaksa diam dalam keheningan.
Tanah Surga yang Terluka Kerokesiah, mengapa engkau padamkan jiwa dan raga kami? Aku menangis di bawah cuaca mendung dan rimbun hutan yang terluka Hutan yang kini berganti wajah menjadi hamparan sawit yang asing. Engkau boyong keluargamu dari Susumuk untuk menetap, Menyerahkan lahan kami atas nama pengajaran bertani. Namun tak ada ilmu yang ditanam, selain kehancuran: Hutan yang rusak, air yang tercemar, pangan lokal yang sirna, Dan rumah-rumah adat yang dirubuhkan atas nama “kesejahteraan.”
Mabioh berjalan menuju Frekawe, duduk di tepi sungai, Mencurahkan isi hatinya pada alir air yang tak lagi jernih. Di atas tanah kami, engkau dirikan hotel dan bangunan megah versimu. Rumah ibadah menjulang tinggi, namun iman kehilangan rohnyaSebab jiwa masyarakatnya telah mati, Sementara para pemuka sibuk menghitung jumlah umat, Tanpa pernah menyentuh luka dan menjalankan firman yang nyata.
Kasih yang Menjelma Ketakutan Adik-adikku yang menyuarakan kebenaran berakhir di balik jeruji besi, Sebagian dari mereka gugur dalam sunyinya sel tahanan. Sungguh malang nasib cinta ini Dari ikatan manis berubah menjadi cengkeraman ganas, Sebab engkau tak pernah melandasinya dengan kasih sejati. Engkau hanya mengejar keindahan fisiku dan digerakkan oleh nafsu menguasai, Tanpa pernah menyayangi tanah dan keluargaku.
Ternyata engkau tak pernah jujur mencintai. Semua janji manis hanyalah ilusi untuk melumpuhkan kesadaran. Kiprah anak-anak yang lahir dari rahimku Engkau manfaatkan demi keuntunganmu sendiri.
Asa di Tepi Danau Ayamaru Di kala malam tiba, mataku enggan terpejam. Di kala senja memancarkan warna indahnya, Hatiku tak seelok guratan langit itu. Saat menyaksikan kilauan Danau Ayamaru di hadapanku, Batinku berbisik lirik: Sampai kapan engkau membungkam jiwa dan ragaku?
Aku memang terkurung dalam duniaku sendiri, Namun di relung hati yang paling dalam, aku percaya: Kebebasan suatu hari nanti akan datang menyelamatkanku.Dulu, nasihat tua-tua pernah bergema: Menjalani ikatan cinta yang terpaksa hanya akan menyengsarakan, Terutama jika suami hanya memandang kecantikan lahiriah. Kini aku duduk di atas tanah surgaku, merenungi nasib yang terpenjara, Menyaksikan orang-orang tercinta lenyap perlahan Oleh kekerasan yang dibalut kasih sayang palsu.
Engkau bahkan memilih pemimpin-pemimpin boneka Tubuh-tubuh bernyawa yang mudah engkau kendalikan. Aku melihat semuanya, namun hanya bisa diam seribu bahasa, Sebab jika bersuara, engkau akan murka dan mencabut nyawaku.
Epilog: Majas Tanpa Makna Aku hidup terkurung dalam penjara cinta yang engkau ciptakan. Kerokesiah, betapa tega engkau mendustai kasih ini. Semua kata indah dari bibirmu hanyalah majas tanpa makna, Sekadar penghibur sesaat bagi jiwa yang engkau lumpuhkan.
Dari keheningan ini, aku terus melahirkan lagu untuk dunia, Agar bumi menyaksikan apa yang kualami. Engkau tak pernah jujur sejak awal hubungan kita. Nafsu serakah yang engkau simpan telah merobek cinta ini hingga hancur, Menyisa penderitaan pada jiwa dan raga yang engkau bunuh perlahan.
Tuan Rumah Menjadi Tamu
Bisik Semula dan Luka yang Tumbuh Aku memutar jarum waktu ke masa lalu, saat bisikmu mengikat jiwa yang lugu. Kau janjikan kasih yang kau sebut tak kan layu, lewat ronce kata manis, aku pasrah bersamamu. Kupikir kau adalah pelindung dan tempatku berteduh, namun kini aku tersisih dalam kehidupanku yang runtuh.
Pernah kupertanyakan penyesalan di dada: Mengapa dulu kupilih kau sebagai pelengkap jiwa? Padahal paras ini elok dan tanah ini berlimpah harta, pasti ada cinta lain yang datang dengan tulus dan setia. Namun nasihat waktu berkata bahwa tanya itu telah basi, sebab cinta yang manis di bibir kini berubah menjadi racun mematikan hati.
Surga yang Memudar Hutanku yang dulu rindang kini luka merintih, sumber air jernihku tercemar, berganti kemasan yang asing dan pedih. Dusun-dusun sagu ditebas, mengganti ingatan masa lalu, dada ini tersengal, bernapas bersama asap dan debu. Surgaku yang dipuji dunia, kini perlahan memudar tak secantik dulu, aku menyaksikan keindahan itu melayang, dirampas tanpa ragu.
Dulu mereka bilang aku tinggal di taman surga, kini aku hanya meratap di atas tanah susu dan madu milik sendiri yang nelangsa. Bukan karena aku tinggal di kota yang dinamai Malang, melainkan karena nasibku yang malang di tengah riak yang membentang.
Bayang-Bayang di Danau Ayamaru Di tepi Danau Ayamaru, saat sunyi merayap tenang, aku merenung menatap air, bertanya pada Tuhan yang Maha Penyayang: “Mengapa Engkau ciptakan aku begitu jelita di tanah yang kaya, jika hanya untuk membuat sang kekasih bernafsu menguasai, bukan mencinta?”
Dia tidak mencintai jiwaku, hanya mendahului dahaga hartaku, menukar kehangatan cinta dengan racun yang membunuhku perlahan di malam kelabu. Matahari dan bintang-bintang di tata surya menjadi saksi bisu, mereka melihat tetapi pura-pura buta, mendengar jeritku tapi memilih tuli tanpa ragu.
Generasi yang Terasing Di usia enam puluh tiga tahun yang kian senja, kudengar jeritan adik-adikku yang lugu dan penuh luka. Mereka yang berpendidikan kini tak punya ruang untuk berkarya, pintu-pintu di rumah sendiri ditutup oleh aturan yang mereka cipta. Mereka terlempar menjadi kuli di tanah yang didirikan sang ayah, melampiaskan amarah dalam tegukan pahit untuk melupakan kebenaran yang parah.
Rumah ini adalah tempatmu mencari makan dan bertahan, namun kau makan di tempatmu, meninggalkan kami dalam ketiadaan. Kami yang melahirkan harapan, kini hanya menonton dari sudut sepi, menjadi tamu di rumah sendiri yang dijarah setiap hari.
Majas Tanpa Makna Kini baru kusedari dalam remuknya dada yang fana: Cintamu hanyalah majas tanpa makna. Megah dalam rangkaian kata, namun hampa dalam nyata. Kau sesap manisnya, lalu kau racuni akarnya.
Namun di atas luka yang menganga ini, aku berserah pada Sang Semesta, memohon agar kelak ada cinta tulus yang turun dari surga. Cinta yang membawa janji baru bagi anak cucu di tanah ini, agar mereka tak lagi kelaparan di atas surga mereka sendiri, dan aku dapat menikmati kembali surgaku, tanpa luka yang kau tinggalkan di hati. salam





