Eddy Way (*)

Sa pu nyawa ini sudah terlatih untuk kerja sama dan kerja bersama. Bukan karena sa lemah dan tidak bisa kerja sendiri, justru karena sa tahu betul bahayanya kalau semua hal dikerjakan secara sendiri-sendiri. Sa pernah alami, dan sa tidak mau ulangi. Ketika seseorang hanya kerja sendiri, satu hal yang paling cepat muncul adalah musuh. Dan bukan musuh dari luar, tapi dari dalam, dari orang-orang dekat, dari teman sendiri yang satu atap, satu kantor.

Jadi kalau sekarang sa lihat ada yang begitu, kerja sendiri terus, tidak libatkan orang lain, sa langsung ingatkan: woiii, ada teman di samping! Stop kerja sendiri! Kita ini bukan mesin, kita ini manusia yang butuh satu sama lain. Kerja sendiri-sendiri itu memang bisa cepat, tapi hasilnya rapuh. Yang paling bahaya, dia menciptakan musuh tanpa sadar. Padahal awalnya teman baik.

Sa pahami itu baik-baik. Maka sa hindari kerja yang bersentuhan langsung dengan “rasa” atau perasaan. Biar sa bawa masuk orang-orang yang punya potensi, sa rangkul mereka dengan arahan-arahan umum, bukan perintah. Biasanya sa cuma bilang begini, dengan nada ringan tapi serius: “libatkan teman-teman eee…” Supaya kita sadar, bahwa pekerjaan itu bukan hanya soal hasil, tapi juga proses, dan proses itu harus dilalui bersama.

Intinya cuma satu: jangan jadikan temanmu sebagai musuhmu. Kadang kita anggap musuh itu datang dari luar. Tapi ternyata, musuh itu tumbuh dari cara kita bekerja yang egois. Otak kita bisa mati, hati bisa beku, karena terlalu terbiasa dengan kesendirian dalam pekerjaan. Lama-lama, kita lupa bahwa kita ini hidup dan bekerja dalam komunitas.

Dari banyak tempat yang pernah sa singgahi, dari kantor ke kantor, sa selalu temui hal yang sama: musuh dalam rumah sendiri. Dan kalau ditelusuri, alasan paling dasar kenapa sampai ada musuh, jawabannya selalu kembali ke hal ini: individualisme. Tidak mau kerja sama, tidak mau kerja bersama. Cuma mau nama sendiri yang naik, cuma mau pujian, cuma mau kuasai semua. Prinsip individualis itu cenderung sombong dan menguasai. Berbeda dengan prinsip kerja bersama, yang lebih banyak mengajarkan kita untuk merendah dan berbagi.

Kadang sa bilang begini, dengan bahasa yang sederhana, biar bisa masuk sampai hati orang: ko pu piring makan itu tidak selebar bumi, piring makan ada ukuran tooo… Itu artinya, piring makan kita masing-masing itu terbatas. Sudah ada batasannya. Jadi kalau memang piring itu kecil, jangan jadi galojo, jangan rakus, mau ambil punya orang juga. Semua sudah ada ukurannya, sudah ada porsinya.

Makanya, ketika ada orang balas bicara dengan emosi, sa suka jawab pakai metafora juga. Supaya yang kita bangun adalah dialektika, bukan dendam. Supaya tumbuh pengertian, bukan ketersinggungan. Dunia ini memang sempit kalau kita hanya pakai rasa ingin kuasai semua. Tapi dunia bisa luas kalau kita mau buka diri untuk kerja sama.

Kalau mau jujur, pengalaman yang sa dapat dari bekerja di organisasi manapun, itu selalu kembali ke dua prinsip utama: kerja sama dan kerja bersama. Dua hal ini adalah fondasi. Mau kamu kerja di kantor pemerintah, LSM, perusahaan, bahkan dalam pelayanan keagamaan, semua berdiri di atas dua prinsip ini. Jadi kalau ada yang terlalu berbakat dalam sikap individualis, pasti cepat atau lambat dia akan bertabrakan dengan prinsip dasar organisasi itu sendiri.

Kita bisa ambil contoh dari tubuh kita sendiri. Tangan tidak bisa kerja sendiri tanpa mata. Kaki butuh mulut, dan semua bagian tubuh butuh jantung. Mereka kerja sama dan kerja bersama untuk satu tujuan: hidup sehat. Itu adalah bentuk kerja tim paling sempurna. Tubuh kita sendiri mengajarkan kita.

Tapi sayangnya, kadang manusia tidak belajar dari tubuhnya sendiri. Kita lebih suka jadi “kepala tanpa leher”, atau “mata tanpa tangan”. Kita lupa bahwa kerja tim bukan pilihan, tapi kebutuhan. Bahkan orang paling pintar sekalipun, dia tetap butuh orang lain untuk mewujudkan sesuatu.

Catatan lain yang sa mau tambahkan untuk kita semua: tonk ini semua beragama. Semua mengaku punya Tuhan. Tapi coba lihat keadaan di kantor, tempat kerja, bahkan dalam organisasi rohani, sering sekali kita jumpai perilaku yang tidak sesuai dengan ajaran agama. Ini tanda bahwa keagamaan kita belum sampai ke tataran praktek. Mungkin juga pengetahuan kita tentang agama belum cukup. Kalau benar kita beragama, maka mestinya ajaran itu jadi pengingat. Supaya keegoisan ditekan, individualisme ditanggalkan, dan kerja bersama dijadikan jalan hidup.

Agama itu mestinya menjadi cermin. Kalau kita beragama, kita harus bisa melihat diri sendiri. Jangan hanya bangga dengan hafalan ayat, tapi dalam pekerjaan kita menjadi orang yang menyakiti banyak orang. Apa gunanya salat, ibadah, misa, doa rosario, puasa, atau persembahan, kalau kita justru menjadi batu sandungan bagi rekan-rekan kerja kita?

Dalam dunia kerja, kerja sama adalah ibadah, dan kerja bersama adalah pelayanan. Bukan hanya soal menyelesaikan tugas, tapi juga soal menjaga hubungan. Karena dalam banyak kasus, pekerjaan yang rusak bukan karena tidak ada uang atau fasilitas, tapi karena relasi antar manusia yang tidak sehat. Karena orang-orang yang terlalu sibuk bangun tembok, bukan jembatan.

Jadi, mari kita belajar. Kalau memang sudah sepakat gabung dalam organisasi, maka kita juga harus sepakat menjalankan prinsip dasarnya. Kalau kita ingin dihargai, maka kita juga harus menghargai. Kalau kita ingin dihormati, maka kita juga harus rendah hati. Kita tidak bisa hidup dalam dunia sendiri. Kita tidak bisa jadi pahlawan tunggal dalam organisasi yang dibentuk untuk kerja kolektif.

Akhirnya, kembali lagi ke kesadaran awal: jangan jadikan temanmu musuhmu. Jangan karena jabatan atau target, kamu injak-injak relasi. Jangan karena ingin cepat naik, kamu rusak kerja tim. Karena ketika kamu jatuh nanti, orang pertama yang kamu butuhkan adalah mereka yang selama ini kamu abaikan.

Jadi mari sama-sama sadar: kita ini bukan hidup untuk sendiri, dan kita tidak akan pernah berhasil jika berjalan sendiri. Kalau hari ini kamu merasa sendiri dalam pekerjaan, jangan buru-buru salahkan orang lain. Coba lihat ke dalam, mungkin kamu sendiri yang terlalu menutup diri. Kalau kamu merasa tidak ada yang bantu, mungkin kamu belum pernah benar-benar mengajak mereka. Bukalah hati, rendahkan diri, dan mulailah dengan kata sederhana: “mari kita kerja sama.”

Karena pada akhirnya, kita semua akan duduk makan di piring yang ukurannya sama: cukup untuk berbagi. Salam.