“Sebuah catatan dan refleksi kritis”
Oleh: Origenes Asmuruf (*)
Kalau kita bicara kesejahteran, sebenarnya kesejahteraan itu milik penguasa hingga saat ini masi banyak orang Indonesia dibelahan pulau lain di Nusantara yang hidup sungguh memprihatinkan dan jauh dari kata sejahtera itu sendiri.
Kadang kita katakan bawa hanya di Papua saja yang orang hidup masi jauh dari kata sejahtera, ternyata hampir diseluruh Indonesia masi banyak daerah, masi banyak suku, masi banyak komunitas yang jauh dari kata sejahtera.
Di Jakarta masi banyak orang miskin, orang tidak sekolah, orang tidak punya rumah, tidak punya tanah, tidak punya pekerjaan, susah makan, susah dapat uang, kondisi ini masi terdapat di kota besar seperti Jakarta. Bukan saja di Jakarta, jawa pada umumnya, masi ada masyarakat baik di kota-kota maupun di pelosok, juga mengalami hal yang sama, mereka juga masi banyak yang miskin, susah makan, susah bangun rumah, susah sekolahkan anak, sudah dapat air bersih, banyak pengangguran dan sebagainya.
Di Kalimantan atau sumatra, Aceh hingga ke Bandar Lampung, Sulawesi, NTT, Maluku, sebagian wilayah alami kondisi yang sama juga dialami, ada saja kemiskinan, kebodohan, kemelaratan. Masi banyak orang yang tidak punya rumah, tidak punya pekerjaan, tidak punya penghasilan, tidak punya akses, banyak Infrastruktur baik jalan, jembatan yang rusak, tidak di perhatikan serta kurangnya pelayanan dari pemerintah.
Kalau begitu, lantas yang sejahtera, yang hidup enak, yang segala akses bisa di dapat dengan mudah, jawabanya adalah mereka yang sebagai penguasa dan juga para pejabat.
Mereka ini hidup begitu enak, hidup serba lengkap, apa saja bisa didapat dengan begitu mudah, begitu gampang,segampang membalakbalik tangan, semua bisa di akses dengan begitu mudahnya.
Segelintir orang, sekelompok orang elit, sekelompok orang penguasa, mereka ini yang mengendalikan kehidupan berjuta umat, mereka ini juga penyebab orang menjadi miskin, melarat, susah, dan sebagainya, sekelompok orang ini yang mengendalikan hukum, aturan dan juga keuangan.
Sekelompok orang elit dan penguasa, mereka yang bisa membuat rakyat jadi sejahtera atau rakyat jadi susah, melarat, menderita dan sebagainya. Jadi mereka inilah penyebabnya kemiskinan itu.
Hai kamu yang miskin, melarat, menderita, jangan percaya atau bangga kepada para elit atau pejabat, walau itu keluarga mu, walau itu satu suku, satu ama, satu bahasa. Bagi mereka adalah kesejahteran mereka lebih utama dibandingkan hubungan saudara, keluarga, sahabat ataupun saudara.
Kalau si Yakobus duduk bersama Sugiono berbagi kekuasaan dan uang, maka mereka adalah saudara sekandung, kalau si Simon Petrus makan bersama Abdulah dalam satu meja dengan menu yang enak maka mereka adalah saudara sekandung.
Karena kesejahteran tidak milik agama, suku, dan ras. kesejahteraan hanya milik kaum penguasa dan kaum elit.
—————————
Sebuah catatan dan refleksi kritis Origenes Asmuruf dikutip dari


