Maybrat, Petarung.org- Seorang ibu sedang sibuk merajut mimpi melalui usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM). Ia adalah Agustina Ijie, seorang Pegawai Negeri Sipil yang menjabat sebagai Kasub Bagian Keuangan, Umum, dan Logistik di KPU Kabupaten Maybrat. Di sela-sela kesibukan birokrasinya, Agustina masi memilih di dapur untuk mengembangkan usaha kerik keladi sebagai sebuah usaha rumahan yang konsisten memproduksi ankea keripik dengan farian rasa.
Berawal dari Pelatihan, Berlanjut Jadi Peluang, langkah Agustina di dunia UMKM dimulai sejak 11 Desember 2025, saat ia mengikuti pelatihan pengolahan keripik keladi yang diselenggarakan oleh Dinas Pertanian di Ayamaru. Tak sekadar ikut serta, ia langsung mempraktikkan ilmu tersebut di rumah.
Dengan dukungan penuh dari sang suami, Agustina mulai memproduksi keripik dari jenis ubi talas kimpul (Xanthosoma sagittifolium). Jenis umbi ini dipilih karena teksturnya yang pas untuk dijadikan camilan renyah.
“Saya melakukan sendiri proses produksinya, mulai dari pemilihan bahan dasar keladi hingga pengemasan. Puji Tuhan, produk ini sudah beberapa kali diproduksi dan laku terjual di pasar,” ungkap Agustina saat ditemui Petarung.org di kediamannya. Senin (16/03/2026)
Usaha yang dijalankan Agustina bukan sekadar mencari profit pribadi. Ia membangun sistem ekonomi yang melibatkan masyarakat sekitar. Jika bahan baku tersedia melimpah, ia berproduksi setiap hari. Namun, jika stok menipis, produksi dilakukan dua kali seminggu.
“Pendapatan dari hasil keripik ini juga saya putar kembali ke masyarakat. Saya membeli keladi langsung dari warga yang punya persediaan, jadi kita sama-sama bertumbuh secara ekonomi,” jelasnya.
Dari sisi pendapatan, usaha ini cukup menjanjikan. Dengan harga per bungkus Rp20.000, Agustina mampu menghasilkan sekitar 30 bungkus dalam seminggu dengan omzet mencapai Rp600.000, tergantung pada ketersediaan bahan baku.

Meski berstatus sebagai PNS, Agustina menekankan pentingnya memiliki usaha sampingan yang positif. Ia ingin membuang stigma bahwa pegawai negeri tidak boleh berwirausaha.
“Saya mengajak rekan-rekan semua, meskipun kita pegawai negeri, kita harus membangun kemandirian melalui usaha kecil untuk memberdayakan orang lain,” tuturnya semangat.
Namun, ia juga mengakui adanya kendala teknis, terutama pada alat produksi. Hingga saat ini, Agustina masih menggunakan alat parut manual. Ia berharap Pemerintah Daerah dapat memberikan perhatian berupa bantuan mesin produksi untuk meningkatkan kapasitas usahanya.
Agustina memiliki keinginan, Jika usahanya berkembang dan mendapat dukungan alat yang memadai, ia berencana merekrut tenaga kerja dari lingkungan sekitar.
“Harapan saya, jika Tuhan berkenan dan pemerintah ikut campur tangan, saya ingin merekrut tenaga kerja lokal. Saya ingin warga di lingkungan ini punya penghasilan untuk menghidupi keluarga mereka,” pungkasnya menutup pembicaraan. (CR2)





