Sorong, Petarung.org- Malam itu suasana ramai dan hiruk pikuk antara pembeli dengan pedagang ramai terlihat di emperan toko, di sepanjang jalan utama kompleks Masjit Raya Kota Sorong.
Tepatnya di emperan Bukit Barisan terdapat beberapa warung tenda yang menjajakan Mie Ayam, Lalapan, Café Mini Dan Nasi Goreng, warung ini buka setiap jam 18:00 WIT (6 Sore) sampai pukul 24:00 WIT baru tutup.
Tempat ini ramai, lokasi strategis di pinggir jalan utama warga sering keluar masuk untuk nongkrong santai dan menikmati pesanan mereka menjadi pemandangan biasa. Tetapi jika kita memberi perhatian lebih pada area parkir di tempat tersebut, maka akan terlihat pemandangan unik.
Seorang Perempuan Asli Papua bertubuh tambun Fera Doo (33), ia Perempuan Papua Moi asal Kampung Malaumkarta, Distrik Makbon, Kabupaten Sorong yang berdomisili di Kota Sorong. Tepatnya di Lorong Emaus, Kelurahan Kofkerbu, ia terlihat sibuk memarkirkan kendaraan bermotor milik para pengunjung warung dan sesekali berteriak membantu pengendara mobil, mencarikan posisi parkir yang tepat dan tidak mengganggu lalu lintas di lajur utama.
Peluh bercucuran membasahi wajahnya, mungkin bagi sebagian orang itu merupakan suatu hal yang unik karena seorang wanita tidak lazim berprofesi sebagai juru parkir, notabene itu pekerjan yang harus dikerjakan oleh para lelaki.
Wanita bertubuh tambun itu, biasa dipanggil “Mama Doo” bekerja sebagai juru parkir ini, sudah ia tekuni selama 5 tahun (2000) dan tahun 2026 masuk tahun ke 6 ia masi setia bekerja di tempat ini.
Sejak awal-awal bekerja, ia kerap mendapat pandangan yang negatif dari warga Kota Sorong yang melintas di area kerjanya dan juga perna dapat perlakuan buruk dari keluarga di sekitar lingungan dan itu bukan masalh dengan saya namun pernyataan itu mereka sampaikan ke anak-anak saya, karena pekerjaan mama mereka sebagai tukang parkir.
“Waktu awal-awal saya jadi tukang parkir banyak orang sering tatap saya, mungkin aneh karena lihat perempuan jadi tukang parkir, bahkan perna ada pengendara mobil yang mara saya, karena mereka pikir saya perempuan mabuk yang bikin malu orang Papua karena jaga parkir, tapi lama-lama sudah terbiasa,” ujarnya saat ditemui Petarung.org di Lokasi parkiran. Rabu, (20/01/2026)
Ia mengatakan, sebenarnya saya tidak ingin menjalani pekerjaan ini, kalo saya tinggal di rumah terus, nanti siapa yang mau datang kasi makan saya dan anak-anak, suami sebagai kuli bangunan juga pekerjaan tidak menentu.
Tuntutan ekonomi dari hari ke hari, kian mengimpit dan menuntut kita untuk memutar otak mencari penghasilan untuk sekedar makan.
Mengingat tempat hidup mertua saya Mama Muratan sebelumnya itu di bandara DEO, namun karena lahan kolam kangkung kami ditimbun kita mau bikin bagimana kita harus kerja serabutan.
“Kalo hanya mengandalkan penghasilan suami, tidak akan mencukupi. Suami juga bekerja sebagai kuli bangunan dengan penghasilan yang pas-pasan, syukur-syukur ada pekerjaan dan ada panggilan dari kenalan atau mandor, kalo tidak ada panggilan ya tinggal di rumah saja,” ujarnya.
Hal ini yang memaksa Mama Doo, mulai kerja sebagai juru parkir liar 5 tahun lalu, tepanya di awal Tahun 2000 saya mulai kerja karena tuntutan ekonomi dan saya harus kerja sebagai tukang parkir demi 4 orang anak saya.
“Saat itu kami tertekan dengan kondisi ekonomi karena anak saya yang tua, harus masuk kelas awal di Sekolah Dasar di SD Inpres 65 Kampung Nenas Kota Sorong, sekarang suda ganti nama menjadi SD Negeri 29 dan kita harus butuh biaya, hal itu yang buat saya haru bekerja sebagai tukang parkir” ujarnya.

Ia menambahkan, hari pertama jadi juru parkir diwarnai dengan perasaan malu yang tingi, apalagi saat orang lalu lalang dan pengunjung yang nongkrong di warung itu, mereka mulai lihat saya kasi mundur kendaraan dan beberapa kali harus putar motor untuk atur kasi rapi.
Tetapi karena keteguhan dan semangat untuk bagimana anak saya bisa sekolah dan mereka bisa makan, baik untuk kehidupan saya dan keluarga saya ke depan menjadi lebih baik, perlahan semangat itu menghilangkan perasaan malu saya secara perlahan.
Hal itu dibuktikan karena mama Doo masih menggeluti profesi uniknya itu sampai saat ini (2026), bahkan anak pertama saya yang sering saya bawa ke parkiran saat ini sudah duduk di kelas 5 SD dan anak yang nomor dua sudah duduk di kelas 2 SD.
“Saya sadar, ini merupakan profesi yang tidak cocok untuk saya Perempuan, tetapi tuntutan ekonomi memang tidak dapat ditoleransi,” ujarnya.
Saat ditanya soal, berapa penghasilan perhari yang biasa mama Doo dapat saat menjaga dari warung mulai buka jam 6 sore sampe malam jam 12:00 WIT ia mengatakan penghasilan perhari dari tukang parkir tidak seberapa, karena ia sehari hanya dapat Rp 80.000 – Rp 100.000 (Delapan Puluh Ribu Rupiah Sampai Seratus Ribu Rupiah) perhari. Itupun kalo pengunjung sepi, kalo rame pengunjung pendapatan bisa dapat Rp 170.000 (Seratus Tuju Puluh Ribu Rupiah).
“Besar atau kecil kita tetap bersyukur, dengan berapapun hasil yang saya dapatkan saya menganggap cukup, saya yakin Tuhan pasti akan memberikan berkat sesuai dengan apa yang kita butuhkan,” ujar ibu 4 orang anak ini.
Ia menambhakan, ia sudah punya komitmen untuk menyekolahkan anaknya agar ke depan mereka mendapatkan nasib yang lebih baik dari saya, jangan mereka jadi tukang parkir lagi saat mereka dewasa nanti.
Gereja GKI Jemaat Syaloom Klademak itu saksi, saya kalo ibadah, setiap ibadah dan setiap di rumah saya selalu berdoa, agar Tuhan kasi saya kesehatan yang baik untuk jalani pekerjaan ini.
Biar saya sanggup menjadi ibu yang baik, bagi keempat anak saya dan saya dikasi umur panjang untuk lihat anak-anak saya punya masa depan sekalipun saya tukang parkir.
“Selalu saya berdoa, agar Tuhan kasi saya kesehatan, biar saya sanggup menjadi ibu yang baik bagi keempat anak saya,” ujarnya. (CR1)




