Oleh: Imanuel Tahrin (*)

Perjalanan kami dimulai pada 2 Oktober pukul 10.00 WIT. Kami berangkat dari Kampung Susumuk, melintasi Kampung Awet Maim, melewati Kampung Roma dan Tolak, hingga akhirnya tiba di Kampung Kaitana sebelum mencapai tujuan akhir kami, yaitu Kampung Martaim.

Setelah memarkirkan mobil dan menurunkan barang bawaan, kami mulai menelusuri jalan setapak. Di kiri dan kanan jalan, pohon-pohon besar berdiri kokoh layaknya atap alami yang meneduhkan langkah kami. Rumput di bawah pepohonan tampak kering dan tidak mampu tumbuh subur akibat musim kemarau panjang yang sedang berlangsung.

Dari kejauhan, kami terus menelusuri jalan hingga tiba di tempat tujuan: Dusun atau RUF Ibiah. Aku terkejut melihat keindahan “kali surga” yang terselip di tengah hutan belantara. Sesampainya di sana, kami meletakkan barang-barang dan segera menyiapkan peralatan masak. Rasa haus akibat perjalanan dan cuaca panas langsung kulari dengan melompat ke dalam kali. Suara gemericik air menjadi musik alami yang menemani kami, menghapus lelah seketika.

Saat aku naik dari kali, Mama Mina Jitmau memanggil, “Anak-anak, datanglah! Ambil keladi ini, makan!” Aku pun menyantapnya sambil berbagi cerita, mengenang masa lalu di tahun 1998. Saat itu, aku masih duduk di bangku SD di YPK Emaus Susumuk. Kami sering berjalan kaki dari Kampung Susumuk menelusuri setapak bersama orang tua, hingga menebang sagu di dusun ini untuk memenuhi kebutuhan pangan sehari-hari.

Usai makan dan mandi kembali, Kakak Maikel Kaitana mengajak kami melihat proses pengolahan sagu. Kami mengikuti pinggiran Kali Ibiah hingga bertemu dengan Isti yang sedang meramas sagu. Kami disambut hangat dengan saling bersalam dan diajak mencicipi papeda langsung dari sumbernya. Kami menikmati papeda hangat berpadu dengan sayur-sayuran segar. Sambil makan, kami menyaksikan Bapak Mikael Kaitana menokok sagu, sambil berbagi cerita kehidupan.

Tepat pukul lima sore, kami mulai kembali ke Rasita, tempat kami sebelumnya menanak nasi. Tiba di sana, kami makan lagi di pinggir kali yang indah sambil menikmati segarnya air untuk mandi.

RUF di dusun itu terbentang indah dengan Kali Ibiah sebagai nadi kehidupannya. Kali ini menjadi penopang utama bagi masyarakat Kampung Kisor Raya dan Susumuk Raya. Airnya masih sangat asri, jernih bagaikan kaca bening di tengah rimbunnya hutan belantara.

Dahulu, Dusun Ibiah adalah kawasan yang penuh dengan pohon sagu. Sagu bukan hanya sumber pangan lokal, tetapi setiap bagian pohonnya memiliki manfaat besar. Daunnya dulu dipakai untuk atap rumah (sekarang sudah banyak diganti seng), kulit batangnya digunakan untuk lantai, dan bahkan dinding rumah.

Masyarakat Maybrat memiliki kearifan lokal dalam membagi ruang berdasarkan pemanfaatannya, yaitu:

Remo (Kampung): Daratan yang digunakan untuk pemukiman, tempat tinggal manusia, dan pusat pemerintahan kampung. Ora (Kebun): Lahan untuk bercocok tanam seperti keladi, petatas, kasbi, dan sayuran untuk konsumsi sehari-hari. Ruf (Dusun/Hutan Sagu): Kawasan untuk menanam sagu, langsat, dan durian. Ini menjadi cadangan pangan ketika hasil kebun (ora) masih muda. Sagu juga menjadi alternatif makanan dan komoditas jual untuk memenuhi kebutuhan sekolah.

Atro (Hutan Buruan): Tempat berburu binatang seperti burung dan babi untuk dijadikan lauk pauk pendamping keladi, sagu, atau nasi. Tempat ini juga menjadi rumah bagi satwa liar untuk melangsungkan hidupnya.

Maru (Perairan/Danau): Daratan berair atau danau tempat masyarakat mencari ikan dan udang. Ini menjadi sumber mata pencaharian ekonomi melalui hasil tangkapan ikan yang dijual.

Meskipun di masa lalu pemahaman teknologi mungkin terbatas, nenek moyang masyarakat Maybrat sudah sangat bijak dalam mengelola dan membagi ruang hidup mereka secara berkelanjutan.

Kali Ibiah yang indah di tengah hutan Maybrat ini merupakan salah satu potensi wisata alam yang sangat layak dikembangkan.

Setelah puas mandi dan berfoto-foto, kami pun bersiap pulang. Dalam hati, aku berpikir, “Coba saja air seindah ini ada di dekat permukiman Susumuk, pasti kami bisa mandi di sini setiap hari.”

Kami naik mobil dan pulang, sempat singgah di Kampung Kaitana untuk menunggu keluarga lain yang bergabung. Kami tiba kembali di Susumuk pukul 17.55 WIT. Hati terasa lega dan bahagia setelah menikmati keindahan air yang bagaikan surga di tengah hutan. (CR1)

(*) Imanuel Tahrin adalah aktivis Lingkungan, Pemerhati Budaya, Serta Pendiri Komunitas Peduli Tata Ruang (Petarung) Papua yang berbasis di Kabupaten Maybrat, Provinsi Papua Barat Daya.