Maybrat, Petarung.org- Danau Ayamaru dan Danau Uter di Kabupaten Maybrat, Provinsi Papua Barat Daya, bukan sekadar hamparan air tawar yang indah. Keduanya adalah simbol ekologi dan kebudayaan masyarakat setempat.

Danau ini menyediakan air bersih, menjadi sumber pangan, tempat rekreasi, bahkan menyimpan sejarah dan identitas suku-suku di sekitarnya. Namun, pesona dan fungsi penting danau ini terancam oleh satu musuh yang tampak sepele namun dampaknya mengerikan: limbah. Hal itu disampaikan oleh Eddy Way kepada Petarung.org via telepon, belum lama ini.

“Ada berbagai jenis limbah, dari limbah rumah tangga, limbah industri (seperti logam berat dan minyak), limbah pertanian (pupuk kimia, pestisida, kotoran ternak), limbah medis (jarum suntik bekas, jaringan tubuh, bahan kimia), limbah komersial (sisa makanan, kemasan plastik dan kertas), limbah konstruksi dan pembongkaran (puing bangunan, kayu bekas, logam), limbah elektronik (ponsel rusak, baterai, kabel), hingga limbah tambang (tailing, lumpur, batuan sisa tambang),” ujarnya.

Ia menambahkan hari ini, jika kita berjalan menyusuri bantaran kali atau sungai kecil yang bermuara ke danau, kita bisa melihat langsung plastik, deterjen, sisa makanan, dan berbagai jenis limbah cair yang mengalir perlahan ke dalam danau.

“Semua limbah itu berasal dari aktivitas rumah tangga sehari-hari, mencuci, mandi, buang air, dan sebagainya. Ini adalah ancaman nyata yang, jika tidak segera ditangani, akan merusak ekosistem danau secara permanen,” ujarnya.

Ia menambahkan, sebagian orang mungkin menganggap limbah rumah tangga bukan persoalan serius. Toh, katanya, air danau tetap tampak jernih di permukaan. Tapi kenyataannya, pencemaran yang disebabkan oleh limbah rumah tangga adalah salah satu penyebab utama kerusakan danau.

“Limbah ini mengandung fosfat, nitrat, dan bahan kimia berbahaya lainnya yang memicu pertumbuhan alga secara berlebihan. Fenomena ini dikenal sebagai eutrofikasi,” tandasnya

Ia menjelaskan, eutrofikasi kelak menyebabkan air danau kehilangan oksigen, membunuh ikan, dan membuat air menjadi keruh serta berbau.

“Jika dibiarkan, danau akan mengalami kematian ekologis secara perlahan. Ini sudah terjadi di banyak tempat lain, dan Danau Ayamaru serta Uter bukan pengecualian.  Apalagi, dengan pertumbuhan penduduk dan meningkatnya aktivitas domestik, volume limbah pun terus bertambah setiap tahun,” tandasnya. (CR1)