Sorong, Petarung.org- Pendamping Perkumpuan Pedagang Mama-mama Papua Kota Sorong (P2MP-KS) Yohanis Mambrasar, SH mengatakatan Perjuangan mama-mama Papua bukan hanya tentang akses ke ruang publik namun lebih dari itu, perjuangan mereka adalah upaya mereka telah warnai dengan makna budaya. Pasar bukan hanya soal menjaga mata pencarian, melainkan juga mengenai martabat, harga diri dan kelangsungan budaya. karena mama-mama menjalankan lebih dari sekedar kelangsungan ekonomi, karena hanya di pasarlah mama-mama pasar mereka menegosiasikan Prasyarat hidup dan jati diri budaya mereka.
“Kalo hari ini, mama-mama asli Papua jualan di atas tanah beralas karung dan mereka jualan ala kadarnya dengan akses modal yang buruk, usia mereka yang sudah tidak muda lagi, mereka bisa duduk dirumah namun siapa yang kasi makan mereka. Siapa yang kasi makan keluarga mereka dan siapa yang lihat kelangsungan hidup mereka,” ujar Mambrasar kepada Petarung.org usai gelar diskusi bersam mama-mama di halaman kantor Gubernur PBD. Selasa, (6/5/2025).
Ia menambahkan, mama-mama ini terpaksa masuk pasar sentral, masuk pasar moderen dan harus berjualan dengan mengikuti sistem monopoli pasar, yang bukan budaya mereka. mereka dipaksa bersaing dengan pedagang non Papua yang punya budaya koperasi moderen, dan manajemen pasar moderen sistem modal baik. sudah pasti mama-mama Papua akan tersingkir.
Dana otsus Jilid Pertama (2002-2021) telah selesai, dana miliaran itu tidak ada satu pun yang menyentuh kebutuhan dasar mama mama papua dalam hal pembangunan pasar khusus, kebijakan khusus dan akses modal usaha, pembinaan usaha.
“Mama-mama Papua sudah sedikit, kehidupan ekonomi mereka sangat kompleks dan mereka tidak bersatu, itu yang bahaya” ujarnya.
Ia menambahkan, dana otsus Jilid 2 sudah berlangsung 4 tahun itu artinya uang otsus juga akan berahir dan di efaluasi per 20 tahun (2022-2041) apakah nasip ekonomi mama-mama Papua, membaik atau memburuk biar itu menjadi renungan bagi mereka yang duduk di Dinas Perdagangan, Dinas Koperasi dan UMKM, Dinas Sosial, Dinas Pendapatan Daerah, BAPPEDA, Keuangan dan DPRP, DPRK, MRP, Wakil Bupati, Wakil Gubernur, Bupati dan Gubernur.
“Orang Papua juga bisa jualan di pasar sentral, Orang Papua juga bisa jualan di pasar moderen Orang Papua juga bisa kelola kelompok dagang dengan koperasi moderen mereka bisa berdampingan hidup dan cari makan di pasar bersama saudara-saudara non papua lainnya. namun pertanyaannya siapa yang ingin bina mereka, siapa yang ingin ajar mereka dan siapa yang mau bantu modal usaha yang berkelanjutan untuk mereka,” tandasnya.
Bagi Mambrasar, mama-mama harus gelar pertemuan siang ini, di halaman kantor gubernur PBD untuk update informasi pendataan pedagang mama-mama Papua di Kota Sorong, dan kami memfasilitasi pertemuan untuk samakan persepsi dari semua mama-mama dari berbagai perwakilan baik itu pasar sentral Remu, pasar moderen Rufei, pasar jembatan puri, eks pasar Boswesen dan pasar-pasar kompleks serta pegiat ekonoi trotoar dan emperan toko serta pondok pinang yang ada di sorong.
“Dari hasil diskusi kami siang ini, hanya mengerucut ke progra jangka panjang penertiban pedagang mama-mama Papua di pasar sentral Remu Sorong pasca kebakaran, pembangunan pasar khusus pasar lokal di lokasi eks pasar boswesen, pemberian stimulant, akses pembinaan dan modal usaha, dan transportasi,” ujarnya.
Ia menjelaskan, semua masukan ini kami tamping dan rencana pertemuan dengan pihak Gubernur Papua Barat Daya di jumat mendatang kita coba mempresentasian hal itu, baik kami dari pendamping, pedagang dan pihak pemerintah provinsi sendiri.
“Kita juga belum tau mekanisme penangan jangka pendek dan jangka panjang dari pak gubernur untuk mama-mama itu seperti apa, jadi alangkah baiknya kita diskusi dulu untuk samakan persepsi dan kita sudah sepakat dengan beberapa kebutuhan mama-mama yang mendasar, semoga Gubernur Papua Barat Daya, bisa membawa perubahan yang berarti bagi penderitaan mama-mama,” ujarnya. (CR1)




