Oleh: Imanuel Tahrin
Di bawah atap Sekretariat Kampung Susumuk, waktu seolah melambat. Matahari siang itu tidak sekadar bersinar di langit, tapi juga menyaksikan sesuatu yang lebih penting di tanah: musyawarah, suara hati, dan uang rakyat yang sedang bicara.
Pada Jumat siang, 18 Juli 2025, warga Kampung Susumuk berkumpul dalam sebuah rapat terbuka. Bukan sekadar duduk, tapi menyatukan pikiran dan rasa. Di ruangan itu, rakyat mendengar, bertanya, dan mencatat. Rapat ini dibuka secara resmi oleh Sekretaris Kampung, Yustinus Tahrin, yang menyampaikan arahan pembuka dengan nada tenang namun tegas. Seolah ingin mengajak semua yang hadir untuk melihat bahwa anggaran bukan hanya angka, tapi amanah.
Kemudian, Kepala Kampung Susumuk, Hanok Waimbewer, berdiri. Dengan suara yang menyentuh, ia menegaskan bahwa. “Uang yang dipakai ini disesuaikan dengan RAP yang ada dan sudah diberikan oleh pemerintah. Kenapa kita ragu, kalau sudah tertulis jelas?” Sebuah kalimat pendek, namun penuh makna. Bukan hanya soal administrasi, tapi tentang kepercayaan antara pemimpin dan rakyatnya.
Lalu hadirlah Fredrik Wafom, Pendamping Dana Desa, yang membuka lembaran rincian dengan suara datar dan dengan sabar, menyampaikan:
pencairan Dana Desa Kampung Susumuk Tahap I : Rp 359.000.600 dan pencairan dilakukan hanya dua tahap. Dana turun dari Pemerintah; kampung hanya melanjutkan program yang sudah ditentukan. Setiap uang datang bersama rincian kegiatan dan nominal yang harus dijaga penggunaannya
Fredrik mengingatkan, bahwa uang ini bukan untuk dibagi, tetapi untuk dijalankan sesuai rencana yang sudah ditetapkan dalam RAP. Ia menutup dengan harapan yang sederhana, namun dalam:
“Jangan ribut dengan kepala kampung. Mari kita jaga keamanan dan bangun kampung bersama.”
Warga menyimak. Tak sedikit yang mengangguk, tanda sepakat. Di antara kursi plastik dan kertas agenda, terselip rasa: rasa ingin tahu, rasa percaya, dan rasa tanggung jawab.
Rapat ini bukan hanya pertemuan administratif. Ia menjadi ruang sastra di mana kata-kata berubah menjadi janji, dan angka-angka berubah menjadi harapan. Ketika rapat selesai, warga perlahan meninggalkan sekretariat. Tapi suara dana yang barusan mereka dengar, tetap tinggal di hati masing-masing: bahwa pembangunan kampung adalah urusan bersama dan uang yang datang dari negara adalah warisan yang harus dijaga. Salam




