Imanuel Tahrin (*)
Pohon Pangi , bahasa latin Pangium edule, dalam Bahasa Maybrat disebut Naa atau Seruwiam.
Pada siang yang terik, ketika mentari tropis menggantung tinggi dan membakar ubun-ubun, kami melangkah masuk ke hutan Kampung Susumuk, Distrik Aifat, Kabupaten Maybrat. Rabu, 23 Juli 2025, bersama dua putra tanah, Samuel Tahrin dan Imanuel Tahrin, kami memulai perjalanan kecil namun bermakna menyusuri lorong-lorong hijau yang masih bernapas, dari pukul 11.30 hingga 14.33 WIT.
Hutan itu menyambut kami dalam diamnya yang megah. Gunung-gunung berjajar bagai barisan penjaga purba, sementara lembah-lembah menganga curam, menggambarkan lanskap liar yang belum tersentuh sepenuhnya oleh tangan manusia. Suara burung-burung hutan kontaif, karok, iek,Arit dan kawanan lain bersahutan dari kanopi pepohonan, seolah menyanyikan nyanyian lama yang hanya bisa didengar oleh mereka yang datang dengan hati terbuka.
Jejak babi hutan tampak samar di tanah lembap. Bekas galian tikus tanah menganga kecil di balik rimbun perdu. Alam masih hidup, masih berbicara. Di tengah kerimbunan itu, kami menemukan kembali satu nama yang nyaris dilupakan: pohon pangi atau dalam bahasa Maybrat, seruwiam, juga disebut naa.
Pohon ini bukan sekadar tumbuhan liar. Ia adalah lembaran dari kitab kehidupan orang Maybrat. Ia bukan hanya tumbuh dari tanah, tetapi dari sejarah, dari kearifan, dari relasi sakral antara manusia dan alam. Sejak masa leluhur, buah dan daunnya menjadi sumber kehidupan. Buah seruwiam yang matang dipetik dengan hati-hati, direbus, lalu dikupas kulitnya. Isinya diiris tipis, dimasukkan ke dalam batang bambu, dan direndam dalam air selama dua hari. Dari proses itu muncullah aroma khas yang menggoda, pertanda bahwa ia telah siap disantap. Teksturnya lembut, rasanya alami, dan kandungan gizinya tinggi. Bagi orang Maybrat, ini bukan sekadar makanan. Ini adalah warisan. Ini adalah identitas.
Tak hanya itu, daunnya pun menyimpan rahasia pengobatan tradisional. Dalam kebiasaan turun-temurun, daun seruwiam dipercaya ampuh membasmi kutu rambut. Daun dipanaskan di atas api, dibungkuskan ke rambut, dan dibiarkan selama satu jam. Saat dibuka, kutu-kutu telah mati. Tak ada bahan kimia. Tak ada efek samping. Hanya ramuan alam dan keyakinan turun-temurun.
Ilmu ini dahulu diwariskan dengan penuh hormat dari para tetua, tokoh adat, dan orang tua kampung. Setiap langkah memetik, mengolah, hingga menyajikan dilakukan dengan petuah dan kebijaksanaan. Tidak ada yang tergesa, tidak ada yang sembrono. Semua berjalan dalam kesadaran bahwa pohon juga memiliki ruh; bahwa hidup berdampingan berarti saling menghargai.
Namun zaman berganti. Angin perubahan membawa kabar yang tak selalu menjanjikan. Di tengah arus teknologi dan modernisasi yang tak terbendung, pohon seruwiam perlahan-lahan memudar dari ingatan kolektif. Hutan tempat ia tumbuh jarang dijejak. Anak-anak muda lebih akrab dengan layar gawai daripada dengan nama-nama pohon di sekeliling mereka. Pengetahuan yang dahulu disampaikan lewat cerita lisan kini nyaris menghilang, tenggelam oleh bisingnya dunia digital.
Padahal, seruwiam bukan sekadar pohon. Ia adalah arsip hidup dari kebijaksanaan lokal. Ia mengingatkan bahwa manusia dan alam pernah hidup dalam harmoni. Bahwa makanan, kesehatan, dan keberlanjutan bisa ditemukan dari apa yang tumbuh di sekeliling, jika manusia cukup rendah hati untuk mendengar dan belajar. Kini, pertanyaan besar pun menggantung di langit Maybrat. Akankah kita mempertahankan warisan ini, atau membiarkannya hilang ditelan zaman?
Mungkin, masa depan kita tersembunyi dalam apa yang sedang kita lupakan. Maka marilah menoleh ke belakang bukan untuk mundur, tetapi untuk mengakar. Sebab dari akarlah, pohon-pohon besar bisa tumbuh kembali.




