Maybrat, Petarung.org- Masyarakat Kampung Martaim, Distrik Aifat, Kabupaten Maybrat, melaksanakan Musyawarah Kampung (Muskam) Dana Desa Tahun Anggaran 2026 di alam bebas sebagai wujud kebersamaan, keterbukaan, dan komitmen dalam menentukan arah pembangunan kampung secara partisipatif.

Muskam dilakukan di kampung Martaim, Distrik Aifat, Aifat, 18 Maret 2026 ini, meski menghadapi kondisi defisit anggaran yang sangat besar, yakni lebih dari Rp 400.000.000 (Empat Ratus Juta Rupiah) dari total Dana Desa yang sebelumnya berkisar Rp 700.000.000 (Tuju Ratus Juta Rupiah), masyarakat Kampung Martaim tetap menunjukkan semangat dan tekad untuk menetapkan program prioritas yang benar-benar menyentuh kebutuhan warga.

Dalam Muskam tersebut, masyarakat sepakat untuk tetap memfokuskan program ketahanan pangan pada pelatihan pembuatan kripik keladi, sebagai salah satu langkah strategis memperkuat ekonomi rumah tangga masyarakat.

“Program ini, dinilai realistis dan berbasis potensi lokal serta memiliki nilai tambah yang dapat dikembangkan oleh kelompok masyarakat, khususnya mama-mama papua di kampung dan juga untuk generasi muda,” ujar Amus Ibiah, Kepala Kampung Martaim yang diterima Petarung.org melalui pesan Whatsapp.

Ia menambahkan, keladi sebagai salah satu komoditas lokal yang mudah diperoleh di Kampung Martaim dipandang memiliki prospek yang baik untuk diolah menjadi produk pangan bernilai jual. Karena itu, pelatihan pembuatan kripik keladi bukan hanya menjadi bagian dari program ketahanan pangan, tetapi juga merupakan bentuk pemberdayaan masyarakat menuju kemandirian ekonomi kampung.

Pelaksanaan Muskam di alam bebas juga mencerminkan kedekatan masyarakat dengan tanah, lingkungan, dan kehidupan kampung yang sederhana namun penuh semangat gotong royong. Di tengah keterbatasan anggaran, masyarakat Martaim membuktikan bahwa pembangunan tidak boleh berhenti, dan inovasi harus terus tumbuh dari kampung.

Keputusan ini menjadi pesan kuat bahwa meskipun anggaran desa mengalami penurunan signifikan, masyarakat Kampung Martaim tidak kehilangan arah. Sebaliknya, mereka tetap memilih program yang produktif, bermanfaat, dan berkelanjutan demi menjaga ketahanan pangan serta meningkatkan kesejahteraan warga.

“Walaupun Dana Desa tahun ini mengalami defisit sangat besar, masyarakat Martaim tetap berkomitmen memanfaatkan anggaran yang ada secara bijak, tepat sasaran, dan berpihak pada kebutuhan riil warga,” ujar Amus.

Ia menambahkan, pelatihan pembuatan kripik keladi adalah pilihan strategis untuk memperkuat ketahanan pangan sekaligus membuka peluang usaha Masyarakat.

Amus menegaskan bahwa tantangan efisiensi anggaran bukan alasan untuk menyerah, melainkan momentum untuk melahirkan program-program kreatif yang berakar pada potensi lokal dan kebutuhan nyata masyarakat. (CR2)