Sorong, Petarung.org- Aktivis Lembaga Intelektual Tanah Papua (LITP) Kota Sorong, Robert Nauw mengatakan kondisi korban penembakan warga sipil di Kampung Ainod, Distirk Aifat Timur Tengah, Kabupaten Maybrat saat ini sangat memprihatinkan, terutama dari kondisi bahan makanan. Ini baru kebutuhan bama belum termasuk biaya obat yang ditanggung sendiri dan biaya kontrol pasca 3 korban selesai operasi dan rawat nginap di RSUD. Sele Be Solu, biaya transportasi untuk kontrol dan kondisi korban yang tunggu pemulihan ini butuh perhatian yang serius dari pemerintah Maybrat dan perhatian dari semua pihak.
“Bahan makanan sebagai asupan gisi dan biaya pengobatan pasca keluar dari rumah sakit, itu penting agar kondisi korban kembali pulih seperti sediakala,” ujar Robert kepada media ini Senin (7/9/2026).
Ia menambahkan, saat 3 korban pulang dari rawat nginap, Selasa (25/8/2026), pihak RSUD tidak memberikan resep selama rawat jalan dan kondisi rawat jalan ini ditanggung oleh pihak korban. Para korban butuh perhatian serius dari semua pihak, baik pemerintah daerah dan sumbangan dari siapapun untuk membantu ringatnkan beban keluarga korban.
“Selama di Sorong, 3 korban penembakan dan keluarga mereka entah mau tinggal di mana, mereka tidak punya uang untuk kos, kontrakan atau penginapan. Belum lagi pejabat Maybrat dan keluarga besar A3 rata-rata takut berkunjung, lihat kondisi korban terkesan mereka takut karena masalah politik. Selama ini mereka ditampung mandiri oleh tim penasehat hukum korban dan Kawan Kawan yang berfron untuk ketiga korban,” ujarnya.
Ia menambahkan, situasi ini justru sangat memprihatinkan dan sebagai anak Maybrat, kami minta ketiga korban wajib dapat perhatian yang serius dari pemerintah. Terlepas dari ini isu penembakan, ini isu politik, para korban dan keluarga korban wajib mendapat perhatian yang serius.
6 tahun sebelumnya mereka sudah alami kondisi hidup memprihatinkan sebagai pengungsi Maybrat, jangan lagi kondisi korban penembakan ini, membuat mereka sendiri dan menderita dengan keadaan luka yang orang lain hasilkan untuk mereka.
“Beberapa minggu ini saja para korban dan keluarga mereka, sudah dua kali pindah rumah dari rumah satu ke rumah lain, dikasi tumpangan oleh orang-orang baik yang bukan keluarga agar mereka dapat istirahat dan tinggal dengan baik,” ujarnya. (CR1)





