Sorong, Petarung.org- Melihat Kehidupan korban pasca penembakan di wilayah Ainod, muara kali kamundan distrik aifat timur Tengah 13 Agustus 2026 yang mengakibatkan 3 korban (luka), yakni mama Anike Fati alami luka tembak pada bagian bahu kanan dan telingan kanan, mama Selvina Sorry alami luka akibat peluru tembus paha dan Silfester Assem korban luka tembak pada betis kaki kanan. Mereka warga sipil yang terluka secara fisik, mereka juga yang menyaksikan kejadian tersebut mengalami perubahan drastis yang mempengaruhi emosional dan fisik korban.
Mama Anike Fati misalnya Korban sering mengalami trauma jika memikirkan kembali peristiwa itu dalam benaknya, sebuah kilas balik yang terlihat hanya kecemasan tinggi dan mama trauma untuk Kembali ke kampung dan selalu waspa seolah-olah bahaya akan datang kembali.
kita masyarakat kecil, punya darah jatuh saja kaya hewan alami lukan tembak di bahu dan telinga, pakian yang kita pake semua semua robek di badan karena tembakan, kita ini salah apa, sebagai Masyarakat biasa yang hidup susah darah jatu saja kaya begini saya malu, saya kasi tah untuk bunuh babi bayar kita punya malu dan bayar kita punya darah
saya korban penembakan oleh aparat, aparat kita tau, kita lihat mereka yang lakukan dan siapa yang mau tolong kita. Pemeintah tidak peduli dengan kita Masyarakat kecil jadi biar saya punya dara ini saya bawa saja ke pengadilan, naik sidang mau menang k, kalah k, tidak papa saya malu jadi harus saya punya dara ini, saya punya luka ini harus kita naik sidang saja supaya pemerintah bertanggungjawab.
“Saya punya dara, saya punya malu ini biar saya naik sidang saja supaya lihat kita punya salah Dimana sampai orang tembak kita kaya begini, dara sudah tumpa biar siding saja supaya pemerintah buka mata lihat kita Masyarakat kecil,” ujar Anike Fatie. Ketiga korban sementara berjuang melawan luka dan terus mengupayakan kesembuhan atas luka yang mereka derita secara Fisik. Sementara kondisi luka dan apa pun namanya soalnya kontrol, operasi, resep, obat, makan dan biaya minum semua butuh Finansial sementara para korban hanya Masyarakat kecil.
Korban harus menerima kenyataan kehilangan fungsi anggota tubuh atau mengalami disabilitas jangka panjang, dan para korban terkendala biaya perawatan medis, operasi. Belum lagi, harus terapi psikologis bagi anak-anak saat di tempat kejadian serta, ditambah dengan hilangnya kemampuan untuk bekerja, akan menciptakan krisis keuangan bagi korban dan keluarganya.
Mama Selvina Sorri sampaikan bahwa, mereka masyrakat kecil, hanya didusun bikin kebun, tokok sagu, cari ikan, satur untuk kebutuhan sehari hari mempertahankan hidup
“kita hidup di kampung, pemerintah Maybrat tidak hadir kasi makan kita, pejabat tidak hadir untuk lihat kebutuhan kita sehari-hari, kita masyarakat kecil sendiri yang berusaha. Sekarang kita korban begini, siapa yang mau memperhatikan kami, kita menderita saja atas luka yang orang lain sebabkan untuk kita tanpa salah,” ujar mama Selvina.
Mama selvina dalam waktu dekat akan kembali jalani operasi yang ketiga di RSUD Selebesolu Kota Sorong dan biaya operasi tidak sedikit, karena BPJS tidak berlaku bagi luka tembak dan siapa yang mau beratnggungjawab dengan biaya ini.
Hari ini, kondisi sosial dari ketiga korban penembakan ini berubah drastis, belum lagi kondisi finansial yang terus terpuruk. Karena tidak bekerja dan berkebun, berjualan dan mencari ikan membuat kesejahteraan keluarga menjadi imbas dari reristiwa penembakan ini.
Dari pantau media pateraung, hingga saat ini belum ada satu bantuan pun dari pejabat maybrat, pemerintah kampung, pejabat maybrat di kota kabupaten sorong dan peemrintah Maybrat dan pemerintah papua barat daya yang membantu meringankan biaya berobat mereka, membantu bahan makanan bagi korban. Korban hari ini bertahan dengan bantuan keluarga, bertahan dengan kualisi tim pengacara, bertahan karena bantuan pemuda mahasiswa papua di manokwari yang gelar aksi di jalan selama tiga hari untuk bantu ringankan beban korban dan keluarga korban, serta Kawan Kawan fron di kota sorong yang setia mendamping korban sampai kasus ini pelaku diungkap dan diadili.
Dengan peristiwa penembakan ini, solidaritas dari orang Papua Maybrat di uji, kalo pola penanganan korban kalo model begini jaminan bahwa pemerintah maybrat menjaga dan mengayomis Masyarakat Maybrat itu hanya omong kosong. Mari kita menghargai martabat korban, kita menghormati dan mengangkat derajat korban yang ditembak tanpa sebab dan dara mereka turun tanpa sebab.
Kami sudah 5 tahun korban dari pengungsian tahun 2021, kami Kembali ke kampung karna pemerintah yang ajak dan kasi jaminan, hari ini masyarakat sudah Kembali namun mereka korban dari kejahatan kemanusiaan dan penyalagunaan senjata api dari aparat bersenjata (13/9/2026) dan pemerintah terkesan masa bodoh dan tanpa solusinyata melindungi warga, dan menghormati martabat korban sebagai manusia Maybrat yang terhormat. (CR1)





