Oleh: Imanuel Tahrin (*)

Angin sepoi-sepoi bertiup pelan di Kelurahan Klamalu, Distrik Mariat,Jln Belibis SP 1 Kabupaten Sorong, Senin (28/9/2026) siang. Terik matahari dan kepulan debu di sepanjang Jalan Belibis menjadi pertanda musim kemarau panjang tengah melanda. Di saat banyak warga gelisah menghadapi krisis air, dua pemuda asal Maybrat Frans Assem dan Yakobos Assem justru mengukir kisah perjuangan di atas tanah retak tersebut.

Frans dan Yakobos bukan petani biasa. Mereka adalah pemuda Orang Asli Papua (OAP) yang berani mendobrak keterbatasan. Berawal dari niat belajar, mereka menyerap ilmu budidaya semangka dari rekan-rekan non-OAP yang bermurah hati membagi pengetahuan pertanian modern.

Tak membiarkan ilmu itu mengendap, Frans dan Yakobos memutuskan memanfaatkan lahan tidur di samping rumah mereka. Dengan peralatan seadanya, mereka mulai mencangkul tanah keras tersebut untuk dijadikan bedengan.

Dua pemuda ini bekerja tanpa traktor. Semangat mereka berpacu di tengah riuhnya euforia Piala Dunia saat itu. Selama empat hari penuh, di bawah sengatan matahari, suara pacul yang menghantam tanah bersahut-sahutan dengan helaan napas yang tersengal.

“Keringat dan napas yang terengah-engah itu menjadi saksi bisu awal mula kerja keras kami,” tutur Frans mengenang momen tersebut.

Patungan Modal Demi Pembuktian Diri

Keberanian mereka tidak hanya diuji oleh tenaga, tetapi juga modal. Demi menanam 1.200 pohon semangka, Frans dan Yakobos mengumpulkan uang saku secara mandiri. Mereka membeli empat bungkus benih semangka seharga Rp350.000 per bungkus (total Rp1,4 juta) serta plastik mulsa senilai Rp1 juta.

“Uang ini hasil patungan kami berdua. Kami tekadkan diri, ilmu yang sudah dipelajari harus diaplikasikan di tanah sendiri agar menjadi sesuatu yang bermanfaat,” ungkap Yakobos.

Di tengah musim kemarau, menyiram 1.200 bibit tanaman menjadi tantangan berat harian. Setiap pagi, mereka mengandalkan mesin pemompa air (alkon) untuk menarik air demi membasahi tanah bedengan agar bibit muda tidak mati terpanggang terik matahari.

Menagih Mandat UUD 1945 dan UU Otsus Papua

Perjuangan Frans dan Yakobos adalah cerminan riil dari semangat Pasal 27 ayat (2) UUD 1945, yang menyatakan bahwa setiap warga negara berhak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi kemanusiaan. Lebih dari sekadar bertahan hidup, apa yang mereka lakukan adalah bentuk kemandirian ekonomi masyarakat adat.

Upaya ini sepatutnya mendapatkan keberpihakan nyata dari pemerintah. Hal ini sesuai dengan amanat Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2021 tentang Otonomi Khusus Papua (UU Otsus Papua), khususnya Pasal 38 dan Pasal 42 yang menegaskan pentingnya perlindungan, pemberdayaan, dan peningkatan ekonomi berbasis masyarakat adat serta Orang Asli Papua. UU Otsus mengamanatkan agar pemerintah daerah hadir memberi pendampingan, membuka akses pasar, serta memfasilitasi sarana dan prasarana produksi bagi petani OAP.

Potensi pasar semangka di Sorong sebenarnya sangat terbuka. Namun, tantangan utama yang dihadapi Frans dan Yakobos saat ini adalah fluktuasi harga di tingkat pedagang yang tidak menentu, serta minimnya alat pertanian modern.

“Peluang pasar itu ada. Kami pernah mencoba komoditas lain seperti ikan, tapi harganya tidak pasti. Kami sangat berharap pemerintah daerah hadir memfasilitasi, mulai dari penyediaan alat pertanian (alsintan), pengelolaan lahan, hingga kepastian harga di pasar,” ujar Assem dengan nada pelan namun penuh harap.

Pantang Malas, Papua Bisa

Sambil menundukkan kepala dan menatap jemarinya yang masih berbekal bekas tanah kering, Frans membagikan pesan mendalam bagi generasi muda di tanah Papua.

“Sebagai pemuda OAP, kita sebenarnya bisa menghasilkan uang dari mana saja. Yang paling penting itu jangan malas dan harus fokus. Kalau kita tekun, semua pasti terlaksana. Kita orang Papua juga bisa!” tegasnya mantap.

Matahari makin meninggi menembus celah pepohonan. Kami pun bergeser mencari tempat berteduh di bawah rindangnya pepohonan. Di kejauhan, daun-daun nyiur melambai ditiup angin seolah alam turut memberikan restu bagi dua pemuda Papua yang pantang menyerah menaklukkan musim kering. (*)