Maybrat, Petarung.org- Terik matahari siang memancar terak di tengah musim kemarau yang panjang. Di kejauhan, deru kendaraan bersahut-sahutan di jalan raya. Namun, di sudut Kampung Yukase, Distrik Ayamaru Utara, Kabupaten Maybrat, Papua Barat Daya, ada simfoni lain yang menenangkan jiwa, gemericik aliran Kali Yase dan nyanyian burung-burung kontef yang setia menemani.
Di saat sebagian besar pemuda mengisi waktu luang dengan berolahraga atau bergelut dengan gawai, lima pemuda lokal Luis Kambuaya, Otniel Kareth, Otis Kareth, Yulianus Semunya, dan Izak Yumame memilih jalan berbeda. Membawa semangat “Tim Peduli Kali Yase”, mereka turun langsung berkubang di dalam air untuk memungut sampah-sampah yang mengotori aliran kali pada Rabu, (07/10/2026).
Kali Yase bukan sekadar aliran air biasa. Sungai ini merupakan penopang utama kehidupan warga Kampung Yukase, Hohoyar, dan Setta. Airnya yang bening dimanfaatkan untuk minum, mandi, hingga mencuci oleh masyarakat lokal, warga Distrik Ayamaru Utara, hingga para pelintas jalan.
Aliran Kali Yase meliuk melewati kampung-kampung sebelum akhirnya bermuara di Danau Ayamaru. Sungai ini juga menjadi benteng pertahanan bagi keanekaragaman hayati pedalaman Papua, termasuk rumah bagi Ikan Pelangi (Segiah), udang, serta ikan gabus.
Langkah kecil para pemuda ini dilandasi kesadaran mendalam akan pentingnya menjaga kualitas air demi kesehatan warga dan kelestarian biota sungai.
“Sungai Yase ini banyak dipakai warga untuk mandi, cuci, bahkan masak. Kalau sungai bersih, warga terhindar dari penyakit kulit, kusta, diare, dan gatal-gatal. Selain itu, kalau sungai penuh sampah plastik dan oli, ikan bisa mati. Jika bersih, ikan pelangi dan biota lain bisa hidup lagi, dan masyarakat yang mendapat hasilnya,” tutur Isak Yumame, kepada melalui pesan WhatsApp yang diterim media ini.
Bagi Isak dan kawan-kawannya, aksi ini bukan sekadar urusan kebersihan lingkungan, melainkan panggilan iman. “Dalam ajaran gereja, kita diajarkan untuk menjaga ciptaan Tuhan. Sungai itu berkat, jangan dirusak,” tambahnya.
Selain menjaga kelestarian alam, Kali Yase yang bersih juga menyimpan potensi pariwisata dan ruang bermain yang aman bagi anak-anak.
Aksi aksi peduli lingkungan ini rupanya tidak berdiri sendiri. Gelombang kesadaran warga Maybrat untuk menjaga bumi dari jerat sampah mulai meluas ke berbagai wilayah: Pemuda-Pemudi Kampung Ikuf Raya aktif menggalang gerakan kebersihan. Kepala Distrik Ayamaru Tengah bergotong royong bersama warga membersihkan lingkungan. Dan Warga Kampung Susumuk Raya membersihkan lingkungan bahkan belum lama ini, Kepala Distrik Aitinyo Utara dalam aksi serupa membersihkan lingkungan mereka.

Sementara itu, Pendiri Komunitas Peduli Tata Ruang Kabupaten Maybrat, Imanuel Tahrin, memberikan apresiasi setinggi-tingginya atas kesadaran kolektif yang tumbuh dari akar rumput ini. Ia berharap niat baik dan aksi nyata ini terus menular ke seluruh lapisan masyarakat agar Kabupaten Maybrat tetap bersih, sehat, dan aman. Kesadaran ini, mulai pelan-pelan tumbuh dan merambat ke wilayah lain.
Aksi nyata warga dan para pemuda ini sejalan dengan amanat Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah. Dalam pasal 1, sampah didefinisikan sebagai sisa kegiatan sehari-hari manusia dan/atau proses alam yang berbentuk padat.
Gerakan swadaya masyarakat ini mempertegas pelaksanaan BAB IX (Peran Masyarakat), Pasal 28, yang menyatakan bahwa masyarakat berhak berperan aktif dalam pengelolaan sampah bersama pemerintah daerah melalui pemberian usul, saran, hingga perumusan kebijakan.
Tak hanya itu, aksi pembersihan ini juga menjadi penegas atas larangan yang tertera pada BAB X, Pasal 29 UU No. 18/2008, yang secara tegas melarang setiap orang untuk: Membuang sampah tidak pada tempat yang telah ditentukan dan disediakan. Mengelola sampah yang menyebabkan pencemaran dan/atau perusakan lingkungan. Melakukan penanganan sampah dengan pembuangan terbuka (open dumping). Membakar sampah yang tidak sesuai dengan persyaratan teknis.
Sore pun menjelang, menandai berakhirnya aksi bersih-bersih di Kali Yase hari itu. Rasa lelah yang menggelayuti raga para pemuda terbayar lunas saat melihat air Kali Yase kembali mengalir jernih.
melangkah pulang membawa kebahagiaan bagi satwa-satwa endemik yang menghuni sungai, sekaligus menitipkan seberkas harapan baru bagi masa depan Tanah Maybrat. (CR2)





