Ringkasan

Bendungan Dua Danau Ayamaru adalah dua buah bendungan yang dibangun sebagai bagian dari program revitalisasi Danau Ayamaru, sebuah danau karst yang khas di Kabupaten Maybrat, Provinsi Papua Barat Daya. Bendungan ini berlokasi di Kampung Bawi, Distrik Ayamaru Tengah, dan dibangun oleh Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) melalui Balai Wilayah Sungai (BWS) Papua Barat. Danau Ayamaru masuk dalam daftar 15 danau prioritas nasional yang direvitalisasi karena mengalami pendangkalan akibat eceng gondok, sedimentasi, dan okupasi lahan, serta periode kekeringan pada musim kemarau.

Tujuan utama pembangunan dua bendungan ini adalah menampung air dari pegunungan, menahan serta meninggikan muka air danau, dan mengembalikan fungsi alaminya sebagai tampungan air bagi masyarakat sekitar. Dengan adanya bendungan ini, kebutuhan pengairan tambak, air baku, serta mata pencaharian perikanan masyarakat Ayamaru dapat terpenuhi secara lebih stabil. Saat ini, kawasan ini juga berkembang menjadi Desa Wisata Bendungan Ayamaru yang terdaftar dalam jejaring Desa Wisata Kementerian Pariwisata, sehingga memberikan nilai tambah ekonomi bagi masyarakat lokal.

1. Pendahuluan dan Latar Belakang

Danau Ayamaru merupakan salah satu danau alami terpenting di Pulau Papua dan masuk dalam daftar 15 danau prioritas nasional yang menjadi program revitalisasi Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR). Penetapan ini dilatarbelakangi oleh kondisi danau yang terus mengalami penurunan fungsi akibat pendangkalan, pertumbuhan eceng gondok, sedimentasi, serta okupasi lahan di sekitar bantaran danau. Bagi masyarakat Kabupaten Maybrat, danau ini bukan sekadar sumber air, melainkan juga penopang mata pencaharian, transportasi, dan elemen identitas budaya yang melekat erat dengan sebutan “aya” (air) dan “maru” (danau).

Karakteristik danau karst di Plato Ayamaru menyebabkan danau ini bersifat musiman, yakni muka airnya naik pada musim hujan dan menyurut drastis pada musim kemarau. Pada periode kemarau panjang, sebagian hamparan perairan bahkan berubah menjadi kolam-kolam kecil dangkal. Kondisi ini mengganggu ketersediaan air baku, menurunkan hasil tangkapan ikan, dan menyulitkan aktivitas tambak masyarakat. Untuk mengatasi persoalan struktural tersebut, Pemerintah pusat bersama Pemerintah Daerah memutuskan membangun dua bendungan fisik sebagai bagian dari intervensi revitalisasi yang lebih luas.

Naskah ini disusun untuk memberikan gambaran umum mengenai Bendungan Dua Danau Ayamaru, mencakup profil danau, latar belakang pembangunan, lokasi dan pelaksana proyek, tujuan dan manfaat, serta tantangan pengelolaan ke depan. Penjelasan ditujukan bagi pembaca umum agar dapat memahami konteks, urgensi, dan nilai strategis proyek ini bagi masyarakat Maybrat dan lingkungan setempat.

2. Profil Danau Ayamaru

Danau Ayamaru terletak di Distrik Ayamaru, Kabupaten Maybrat, Provinsi Papua Barat Daya, pada Semenanjung Doberai, sekitar 170 kilometer di selatan Kota Sorong. Danau ini berada di hamparan karst (gamping atau kapur) yang dikenal sebagai Plato Ayamaru pada ketinggian 280–385 meter di atas permukaan laut (mdpl). Nama “Ayamaru” sendiri merupakan perpaduan dua kata dalam bahasa lokal, yaitu “aya” yang berarti air dan “maru” yang berarti danau.

Secara limnologi, Danau Ayamaru merupakan perluasan aliran Sungai Ayamaru yang membentuk rangkaian tiga danau, yaitu Danau Jow, Danau Semitu, dan Danau Yate. Ketiga danau ini bersinambung membentuk kaskade pada satu Daerah Aliran Sungai (DAS) Ayamaru dan bertipe Paternoster, yakni rangkaian danau serupa tasbih di elevasi yang menurun secara bertahap. Danau Jow memiliki panjang sekitar 7 km dan lebar 2 km; Danau Semitu panjang 2 km dan lebar 1,5 km; sedangkan Danau Yate panjang 3 km dengan lebar kurang dari 1,5 km.

Danau ini termasuk dalam geomorfologi karst yang relatif masih alami dan dikelilingi bukit-bukit, terbentuk dari terumbu karang yang terangkat akibat aktivitas tumbukan lempeng Pasifik dan Australia. Luas permukaan danau berkisar 8,9 hingga 10,85 km² (sekitar 980 hektar menurut referensi National Geographic) dengan kedalaman rata-rata sekitar 9 meter dan kedalaman maksimal sekitar 12 meter. Sifat hidrologi karst menyebabkan danau mengalami periode pasang surut secara musiman. Tabel 1 merangkum data fisik Danau Ayamaru.

ParameterNilai
LokasiDistrik Ayamaru, Kabupaten Maybrat, Papua Barat Daya
Jarak dari Kota SorongSekitar 170 km ke arah selatan
Ketinggian (mdpl)280–385 meter di atas permukaan laut
Jenis danauDanau karst, tipe Paternoster (rangkaian tiga danau)
Rangkaian danauDanau Jow, Danau Semitu, Danau Yate
Luas permukaan8,9–10,85 km² (sekitar 980 hektar)
Kedalaman rata-rataSekitar 9 meter
Kedalaman maksimalSekitar 12 meter
Aliran keluar utamaSungai Ayamaru dan Sungai Kais

Tabel 1. Data fisik Danau Ayamaru (disaripada dari berbagai sumber).

Danau Ayamaru juga memiliki nilai ekologis tinggi. Danau ini menjadi habitat ikan pelangi irian endemik dan langka, yaitu Melanotaenia boosemani, Melanotaenia ajamaruensis, dan Melanotaenia fasinensis, yang pada awal 1990-an dieksploitasi besar-besaran sebagai ikan hias ekspor. Selain itu, danau ini menjadi tempat singgah burung migran dari Australia, seperti Ephippiorhynchus asiaticus, Himantopus leucocephalus, Platalea regia, dan Threskiornis aethiopicus. Kehadiran burung migran ini mengaitkan Danau Ayamaru dengan Konvensi Ramsar yang telah diratifikasi Pemerintah Indonesia, sehingga kawasan lahan basah ini penting untuk dilindungi.

3. Latar Belakang Pembangunan Dua Bendungan

Pada kondisi alaminya, danau-danau di Ayamaru terbentuk oleh sebuah bentangan alam kecil yang telah ada sejak dulu dan berfungsi sebagai bendungan sekaligus pemisah air antar-danau. Seiring waktu, fungsi alami bentangan ini melemah akibat erosi, sedimentasi, dan perubahan tata guna lahan di sekitarnya. Akibatnya, daya tampung air menurun, muka air menyurut, dan pada musim kemarau sebagian danau mulai kering, meninggalkan kolam-kolam kecil dangkal.

Tekanan terhadap danau diperberat oleh pertumbuhan eceng gondok yang menutupi permukaan air, sedimentasi yang terus memperdangkalan dasar danau, serta okupasi lahan oleh aktivitas permukiman dan pertanian. Permintaan masyarakat akan pengairan tambak yang semakin tinggi juga menuntut ketersediaan air yang lebih stabil sepanjang tahun. Atas dasar inilah, Kementerian PUPR menempatkan Danau Ayamaru sebagai salah satu dari 15 danau kritis prioritas nasional yang direvitalisasi, dan pembangunan dua bendungan fisik menjadi salah satu intervensi utama untuk mengembalikan fungsi danau sebagai tampungan air.

4. Lokasi, Pelaksana, dan Tahapan Proyek

Pembangunan dua bendungan dilaksanakan di Danau Ayamaru, tepatnya di Kampung Bawi, Distrik Ayamaru Tengah, Kabupaten Maybrat (pada saat proyek dimulai masih masuk Provinsi Papua Barat, yang kini menjadi Provinsi Papua Barat Daya). Penunjukan kontraktor dan konsultan dilakukan oleh BWS Papua Barat sebagai unit pelaksana teknis Direktorat Jenderal Sumber Daya Air, Kementerian PUPR. Tabel 2 merangkum informasi pokok pelaksanaan proyek.

AspekKeterangan
Lokasi proyekKampung Bawi, Distrik Ayamaru Tengah, Kabupaten Maybrat
Pemberi tugasKementerian PUPR c.q. BWS Papua Barat
Konsultan supervisiPT Hegar Daya
Penyedia jasaPT RUM-KELMAN, KSO
Tahun mulaiSebelum Oktober 2019
Capaian fisik (Oktober 2019)Sekitar 40%, ditargetkan 70% pada Desember 2019
Tahap lanjutanKontrak lanjutan Tahun Anggaran 2020
Target berfungsi penuhDiharapkan tahun 2021 (jika anggaran lanjutan tersedia)

Tabel 2. Informasi pokok pelaksanaan proyek Bendungan Dua Danau Ayamaru.

Pencapaian fisik proyek per Oktober 2019 dilaporkan mencapai sekitar 40%, dengan target penyelesaian 70% pada akhir Desember 2019. Sisa pekerjaan diselesaikan melalui kontrak lanjutan pada Tahun Anggaran 2020, dan diharapkan bendungan dapat berfungsi penuh pada tahun 2021 seandainya anggaran lanjutan tersedia. Skema pembiayaan mengikuti mekanisme DAK (Dana Alokasi Khusus) dan APBN melalui Direktorat Jenderal Sumber Daya Air, dengan pengawasan teknis oleh BWS Papua Barat.

5. Tujuan dan Manfaat

Pembangunan dua bendungan di Danau Ayamaru dimaksudkan untuk mewujudkan kembali fungsi awal danau sebagai tampungan air yang menahan dan meninggikan muka air, sehingga danau tidak lagi menyurut drastis pada musim kemarau. Secara spesifik, tujuan proyek ini meliputi: (1) menampung air dari pegunungan di sekitar danau; (2) menahan air dan meninggikan muka air danau; (3) mengatasi kekeringan danau yang sudah mulai kering; serta (4) memenuhi permintaan masyarakat akan pengairan tambak.

Manfaat yang diharapkan dari bendungan ini cukup luas. Pertama, sebagai sumber air baku masyarakat Maybrat, danau menopang kebutuhan air bersih untuk rumah tangga dan sanitasi. Kedua, danau mendukung mata pencaharian masyarakat di sektor perikanan dan transportasi air antarkampung. Ketiga, dengan muka air yang lebih stabil, kebutuhan pengairan tambak dan pertanian dapat terpenuhi sepanjang tahun. Keempat, kawasan ini berkembang menjadi Desa Wisata Bendungan Ayamaru yang terdaftar dalam jejaring Desa Wisata (Jadesta) Kementerian Pariwisata, sehingga membuka peluang ekonomi melalui pariwisata berbasis masyarakat.

Selain manfaat sosial-ekonomi, bendungan ini juga mendukung konservasi ekologi. Dengan muka air yang terjaga, habitat ikan pelangi irian endemik (Melanotaenia boosemani, M. ajamaruensis, dan M. fasinensis) dapat terlestari, demikian pula fungsi danau sebagai tempat singgah burung migran dari Australia yang terkait dengan komitmen Indonesia dalam Konvensi Ramsar. Dengan demikian, bendungan ini berperan ganda: sebagai infrastruktur pengendali air sekaligus penopang keanekaragaman hayati lahan basah.

6. Tantangan dan Isu Lingkungan

Meskipun bendungan menjadi solusi fisik yang penting, keberhasilan revitalisasi Danau Ayamaru tidak hanya bergantung pada infrastruktur. Aktivitas masyarakat yang tidak seimbang tetap menjadi ancaman serius terhadap kelestarian danau. Beberapa tekanan utama yang teridentifikasi antara lain pembuangan limbah rumah tangga dan sampah yang mendekati sumber air danau, pembukaan permukiman dan jalan, pembukaan kawasan hutan secara sembarangan, serta perluasan perkebunan dan pertanian di sekitar bantaran danau.

Tekanan tersebut berdampak pada kualitas air, kelestarian biota endemik, dan keberlanjutan fungsi danau secara keseluruhan. Sejumlah pakar memperkirakan, apabila tekanan tidak terkendali, biota endemik Danau Ayamaru berpotensi punah dalam 10–20 tahun ke depan. Bagi masyarakat, danau yang tercemar dan kering berarti hilangnya sumber air konsumsi, menurunnya hasil tangkapan ikan, dan terganggunya biaya pendidikan anak karena menurunnya pendapatan keluarga dari sektor perikanan.

Untuk merespons isu tersebut, muncul inisiatif masyarakat seperti Komunitas Save Ayamaru Lake yang dipimpin oleh Marthen, dengan dukungan The Samdana Institut dan tokoh-tokoh lokal seperti Sepianus Bless (Staf Cabang Dinas Kehutanan Wilayah VIII Maybrat) dan Aser Kareth (nelayan). Komunitas ini mendorong penyusunan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten Maybrat yang melindungi kawasan danau, serta menggelar sosialisasi dan aksi nyata di kampung-kampung pinggiran danau. Pesan yang ingin disampaikan adalah bahwa bendungan hanya salah satu bagian dari solusi; tanpa pengelolaan DAS terpadu dan kesadaran masyarakat, fungsi danau sulit dipulihkan secara berkelanjutan.

7. Penutup

Bendungan Dua Danau Ayamaru merupakan intervensi fisik penting dalam upaya revitalisasi Danau Ayamaru, sebuah danau karst yang unik dan strategis di Kabupaten Maybrat, Provinsi Papua Barat Daya. Dengan menahan dan menaikkan muka air, bendungan ini membantu memulihkan fungsi danau sebagai tampungan air, sekaligus menopang kebutuhan air baku, perikanan, irigasi tambak, dan potensi pariwisata bagi masyarakat lokal.

Namun, keberhasilan jangka panjang bergantung pada kesinambungan anggaran, pengelolaan Daerah Aliran Sungai (DAS) yang terpadu, serta keterlibatan aktif masyarakat dan pemerintah daerah. Bagi orang Ayamaru, danau bukan sekadar sumber air, melainkan bagian dari identitas dan kehidupan. Mempertahankan Danau Ayamaru berarti mempertahankan ruang hidup, mata pencaharian, dan warisan budaya untuk anak cucu generasi berikutnya.Bendungan Dua, Danau Ayamaru

Kabupaten Maybrat, Provinsi Papua Barat Daya

Ringkasan

Bendungan Dua Danau Ayamaru adalah dua buah bendungan yang dibangun sebagai bagian dari program revitalisasi Danau Ayamaru, sebuah danau karst yang khas di Kabupaten Maybrat, Provinsi Papua Barat Daya. Bendungan ini berlokasi di Kampung Bawi, Distrik Ayamaru Tengah, dan dibangun oleh Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) melalui Balai Wilayah Sungai (BWS) Papua Barat. Danau Ayamaru masuk dalam daftar 15 danau prioritas nasional yang direvitalisasi karena mengalami pendangkalan akibat eceng gondok, sedimentasi, dan okupasi lahan, serta periode kekeringan pada musim kemarau.

Tujuan utama pembangunan dua bendungan ini adalah menampung air dari pegunungan, menahan serta meninggikan muka air danau, dan mengembalikan fungsi alaminya sebagai tampungan air bagi masyarakat sekitar. Dengan adanya bendungan ini, kebutuhan pengairan tambak, air baku, serta mata pencaharian perikanan masyarakat Ayamaru dapat terpenuhi secara lebih stabil. Saat ini, kawasan ini juga berkembang menjadi Desa Wisata Bendungan Ayamaru yang terdaftar dalam jejaring Desa Wisata Kementerian Pariwisata, sehingga memberikan nilai tambah ekonomi bagi masyarakat lokal.

1. Pendahuluan dan Latar Belakang

Danau Ayamaru merupakan salah satu danau alami terpenting di Pulau Papua dan masuk dalam daftar 15 danau prioritas nasional yang menjadi program revitalisasi Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR). Penetapan ini dilatarbelakangi oleh kondisi danau yang terus mengalami penurunan fungsi akibat pendangkalan, pertumbuhan eceng gondok, sedimentasi, serta okupasi lahan di sekitar bantaran danau. Bagi masyarakat Kabupaten Maybrat, danau ini bukan sekadar sumber air, melainkan juga penopang mata pencaharian, transportasi, dan elemen identitas budaya yang melekat erat dengan sebutan “aya” (air) dan “maru” (danau).

Karakteristik danau karst di Plato Ayamaru menyebabkan danau ini bersifat musiman, yakni muka airnya naik pada musim hujan dan menyurut drastis pada musim kemarau. Pada periode kemarau panjang, sebagian hamparan perairan bahkan berubah menjadi kolam-kolam kecil dangkal. Kondisi ini mengganggu ketersediaan air baku, menurunkan hasil tangkapan ikan, dan menyulitkan aktivitas tambak masyarakat. Untuk mengatasi persoalan struktural tersebut, Pemerintah pusat bersama Pemerintah Daerah memutuskan membangun dua bendungan fisik sebagai bagian dari intervensi revitalisasi yang lebih luas.

Naskah ini disusun untuk memberikan gambaran umum mengenai Bendungan Dua Danau Ayamaru, mencakup profil danau, latar belakang pembangunan, lokasi dan pelaksana proyek, tujuan dan manfaat, serta tantangan pengelolaan ke depan. Penjelasan ditujukan bagi pembaca umum agar dapat memahami konteks, urgensi, dan nilai strategis proyek ini bagi masyarakat Maybrat dan lingkungan setempat.

2. Profil Danau Ayamaru

Danau Ayamaru terletak di Distrik Ayamaru, Kabupaten Maybrat, Provinsi Papua Barat Daya, pada Semenanjung Doberai, sekitar 170 kilometer di selatan Kota Sorong. Danau ini berada di hamparan karst (gamping atau kapur) yang dikenal sebagai Plato Ayamaru pada ketinggian 280–385 meter di atas permukaan laut (mdpl). Nama “Ayamaru” sendiri merupakan perpaduan dua kata dalam bahasa lokal, yaitu “aya” yang berarti air dan “maru” yang berarti danau.

Secara limnologi, Danau Ayamaru merupakan perluasan aliran Sungai Ayamaru yang membentuk rangkaian tiga danau, yaitu Danau Jow, Danau Semitu, dan Danau Yate. Ketiga danau ini bersinambung membentuk kaskade pada satu Daerah Aliran Sungai (DAS) Ayamaru dan bertipe Paternoster, yakni rangkaian danau serupa tasbih di elevasi yang menurun secara bertahap. Danau Jow memiliki panjang sekitar 7 km dan lebar 2 km; Danau Semitu panjang 2 km dan lebar 1,5 km; sedangkan Danau Yate panjang 3 km dengan lebar kurang dari 1,5 km.

Danau ini termasuk dalam geomorfologi karst yang relatif masih alami dan dikelilingi bukit-bukit, terbentuk dari terumbu karang yang terangkat akibat aktivitas tumbukan lempeng Pasifik dan Australia. Luas permukaan danau berkisar 8,9 hingga 10,85 km² (sekitar 980 hektar menurut referensi National Geographic) dengan kedalaman rata-rata sekitar 9 meter dan kedalaman maksimal sekitar 12 meter. Sifat hidrologi karst menyebabkan danau mengalami periode pasang surut secara musiman. Tabel 1 merangkum data fisik Danau Ayamaru.

ParameterNilai
LokasiDistrik Ayamaru, Kabupaten Maybrat, Papua Barat Daya
Jarak dari Kota SorongSekitar 170 km ke arah selatan
Ketinggian (mdpl)280–385 meter di atas permukaan laut
Jenis danauDanau karst, tipe Paternoster (rangkaian tiga danau)
Rangkaian danauDanau Jow, Danau Semitu, Danau Yate
Luas permukaan8,9–10,85 km² (sekitar 980 hektar)
Kedalaman rata-rataSekitar 9 meter
Kedalaman maksimalSekitar 12 meter
Aliran keluar utamaSungai Ayamaru dan Sungai Kais

Tabel 1. Data fisik Danau Ayamaru (disaripada dari berbagai sumber).

Danau Ayamaru juga memiliki nilai ekologis tinggi. Danau ini menjadi habitat ikan pelangi irian endemik dan langka, yaitu Melanotaenia boosemani, Melanotaenia ajamaruensis, dan Melanotaenia fasinensis, yang pada awal 1990-an dieksploitasi besar-besaran sebagai ikan hias ekspor. Selain itu, danau ini menjadi tempat singgah burung migran dari Australia, seperti Ephippiorhynchus asiaticus, Himantopus leucocephalus, Platalea regia, dan Threskiornis aethiopicus. Kehadiran burung migran ini mengaitkan Danau Ayamaru dengan Konvensi Ramsar yang telah diratifikasi Pemerintah Indonesia, sehingga kawasan lahan basah ini penting untuk dilindungi.

3. Latar Belakang Pembangunan Dua Bendungan

Pada kondisi alaminya, danau-danau di Ayamaru terbentuk oleh sebuah bentangan alam kecil yang telah ada sejak dulu dan berfungsi sebagai bendungan sekaligus pemisah air antar-danau. Seiring waktu, fungsi alami bentangan ini melemah akibat erosi, sedimentasi, dan perubahan tata guna lahan di sekitarnya. Akibatnya, daya tampung air menurun, muka air menyurut, dan pada musim kemarau sebagian danau mulai kering, meninggalkan kolam-kolam kecil dangkal.

Tekanan terhadap danau diperberat oleh pertumbuhan eceng gondok yang menutupi permukaan air, sedimentasi yang terus memperdangkalan dasar danau, serta okupasi lahan oleh aktivitas permukiman dan pertanian. Permintaan masyarakat akan pengairan tambak yang semakin tinggi juga menuntut ketersediaan air yang lebih stabil sepanjang tahun. Atas dasar inilah, Kementerian PUPR menempatkan Danau Ayamaru sebagai salah satu dari 15 danau kritis prioritas nasional yang direvitalisasi, dan pembangunan dua bendungan fisik menjadi salah satu intervensi utama untuk mengembalikan fungsi danau sebagai tampungan air.

4. Lokasi, Pelaksana, dan Tahapan Proyek

Pembangunan dua bendungan dilaksanakan di Danau Ayamaru, tepatnya di Kampung Bawi, Distrik Ayamaru Tengah, Kabupaten Maybrat (pada saat proyek dimulai masih masuk Provinsi Papua Barat, yang kini menjadi Provinsi Papua Barat Daya). Penunjukan kontraktor dan konsultan dilakukan oleh BWS Papua Barat sebagai unit pelaksana teknis Direktorat Jenderal Sumber Daya Air, Kementerian PUPR. Tabel 2 merangkum informasi pokok pelaksanaan proyek.

AspekKeterangan
Lokasi proyekKampung Bawi, Distrik Ayamaru Tengah, Kabupaten Maybrat
Pemberi tugasKementerian PUPR c.q. BWS Papua Barat
Konsultan supervisiPT Hegar Daya
Penyedia jasaPT RUM-KELMAN, KSO
Tahun mulaiSebelum Oktober 2019
Capaian fisik (Oktober 2019)Sekitar 40%, ditargetkan 70% pada Desember 2019
Tahap lanjutanKontrak lanjutan Tahun Anggaran 2020
Target berfungsi penuhDiharapkan tahun 2021 (jika anggaran lanjutan tersedia)

Tabel 2. Informasi pokok pelaksanaan proyek Bendungan Dua Danau Ayamaru.

Pencapaian fisik proyek per Oktober 2019 dilaporkan mencapai sekitar 40%, dengan target penyelesaian 70% pada akhir Desember 2019. Sisa pekerjaan diselesaikan melalui kontrak lanjutan pada Tahun Anggaran 2020, dan diharapkan bendungan dapat berfungsi penuh pada tahun 2021 seandainya anggaran lanjutan tersedia. Skema pembiayaan mengikuti mekanisme DAK (Dana Alokasi Khusus) dan APBN melalui Direktorat Jenderal Sumber Daya Air, dengan pengawasan teknis oleh BWS Papua Barat.

5. Tujuan dan Manfaat

Pembangunan dua bendungan di Danau Ayamaru dimaksudkan untuk mewujudkan kembali fungsi awal danau sebagai tampungan air yang menahan dan meninggikan muka air, sehingga danau tidak lagi menyurut drastis pada musim kemarau. Secara spesifik, tujuan proyek ini meliputi: (1) menampung air dari pegunungan di sekitar danau; (2) menahan air dan meninggikan muka air danau; (3) mengatasi kekeringan danau yang sudah mulai kering; serta (4) memenuhi permintaan masyarakat akan pengairan tambak.

Manfaat yang diharapkan dari bendungan ini cukup luas. Pertama, sebagai sumber air baku masyarakat Maybrat, danau menopang kebutuhan air bersih untuk rumah tangga dan sanitasi. Kedua, danau mendukung mata pencaharian masyarakat di sektor perikanan dan transportasi air antarkampung. Ketiga, dengan muka air yang lebih stabil, kebutuhan pengairan tambak dan pertanian dapat terpenuhi sepanjang tahun. Keempat, kawasan ini berkembang menjadi Desa Wisata Bendungan Ayamaru yang terdaftar dalam jejaring Desa Wisata (Jadesta) Kementerian Pariwisata, sehingga membuka peluang ekonomi melalui pariwisata berbasis masyarakat.

Selain manfaat sosial-ekonomi, bendungan ini juga mendukung konservasi ekologi. Dengan muka air yang terjaga, habitat ikan pelangi irian endemik (Melanotaenia boosemani, M. ajamaruensis, dan M. fasinensis) dapat terlestari, demikian pula fungsi danau sebagai tempat singgah burung migran dari Australia yang terkait dengan komitmen Indonesia dalam Konvensi Ramsar. Dengan demikian, bendungan ini berperan ganda: sebagai infrastruktur pengendali air sekaligus penopang keanekaragaman hayati lahan basah.

6. Tantangan dan Isu Lingkungan

Meskipun bendungan menjadi solusi fisik yang penting, keberhasilan revitalisasi Danau Ayamaru tidak hanya bergantung pada infrastruktur. Aktivitas masyarakat yang tidak seimbang tetap menjadi ancaman serius terhadap kelestarian danau. Beberapa tekanan utama yang teridentifikasi antara lain pembuangan limbah rumah tangga dan sampah yang mendekati sumber air danau, pembukaan permukiman dan jalan, pembukaan kawasan hutan secara sembarangan, serta perluasan perkebunan dan pertanian di sekitar bantaran danau.

Tekanan tersebut berdampak pada kualitas air, kelestarian biota endemik, dan keberlanjutan fungsi danau secara keseluruhan. Sejumlah pakar memperkirakan, apabila tekanan tidak terkendali, biota endemik Danau Ayamaru berpotensi punah dalam 10–20 tahun ke depan. Bagi masyarakat, danau yang tercemar dan kering berarti hilangnya sumber air konsumsi, menurunnya hasil tangkapan ikan, dan terganggunya biaya pendidikan anak karena menurunnya pendapatan keluarga dari sektor perikanan.

Untuk merespons isu tersebut, muncul inisiatif masyarakat seperti Komunitas Save Ayamaru Lake yang dipimpin oleh Marthen, dengan dukungan The Samdana Institut dan tokoh-tokoh lokal seperti Sepianus Bless (Staf Cabang Dinas Kehutanan Wilayah VIII Maybrat) dan Aser Kareth (nelayan). Komunitas ini mendorong penyusunan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten Maybrat yang melindungi kawasan danau, serta menggelar sosialisasi dan aksi nyata di kampung-kampung pinggiran danau. Pesan yang ingin disampaikan adalah bahwa bendungan hanya salah satu bagian dari solusi; tanpa pengelolaan DAS terpadu dan kesadaran masyarakat, fungsi danau sulit dipulihkan secara berkelanjutan.

7. Penutup

Bendungan Dua Danau Ayamaru merupakan intervensi fisik penting dalam upaya revitalisasi Danau Ayamaru, sebuah danau karst yang unik dan strategis di Kabupaten Maybrat, Provinsi Papua Barat Daya. Dengan menahan dan menaikkan muka air, bendungan ini membantu memulihkan fungsi danau sebagai tampungan air, sekaligus menopang kebutuhan air baku, perikanan, irigasi tambak, dan potensi pariwisata bagi masyarakat lokal.

Namun, keberhasilan jangka panjang bergantung pada kesinambungan anggaran, pengelolaan Daerah Aliran Sungai (DAS) yang terpadu, serta keterlibatan aktif masyarakat dan pemerintah daerah. Bagi orang Ayamaru, danau bukan sekadar sumber air, melainkan bagian dari identitas dan kehidupan. Mempertahankan Danau Ayamaru berarti mempertahankan ruang hidup, mata pencaharian, dan warisan budaya untuk anak cucu generasi berikutnya.