Cinta di antara waktu dan keabadian, membuat maut tak mampu memadamkan kasih sekalipun itu akan menjadi keheningan di hari-hari terakhir kita, di balik tirai keheningan sebuah ruang yang tenang, dua insan melangkah mendekati batas takdir yang tak tertahankan. Ia dengan keteguhan iman dan caranya sendiri, menjalani hari-hari terakhirnya di tengah rasa sakit yang tersembunyi rapat.

Ia menolak tindakan perawatan medis bukan karena keberanian semata, melainkan karena kedalaman imannya yang memandang keselamatan jiwa jauh melebihi perjuangan raga di dunia.

Antara memilih meninggalkan perjalanan kehidupan dengan caranya sendiri dan jalani dan akhiri saja takdir ini dengan cinta adalah pilihan yang terasa amat getir dan menyakitkan bagi keluarga yang mengasihinya, suami, serta putri kecil yang ditinggalkannya.

Di detik-detik berharga itu, tidak ada keriuhan, yang tersisa hanyalah kepasrahan dan genggaman tangan di dalam ruang sunyi tempat janji kasih diuji.

Di saat kata-kata perpisahan diucapkan, perlahan doa dinaikan, sebelum air mata terakhir mengalir dan sayup pembicaraan tentang cinta yang tulus dan rasa sakit akibat mengenal seseorang secara mendalam tanpa benar-benar bisa memilikinya selamanya, dalam sebuah perpisahan selamanya di bumi yang fana ini.

Tiga belas tahun di dalam waktu yang terbatas dan perjalanan 13 tahun yang telah dilalui bersama bukanlah sekadar hitungan angka, melainkan wujud nyata bagaimana cinta bersemi di dalam rentang waktu yang serba terbatas.

Manusia hidup dan bergerak menuju satu hal yang paling pasti di alam semesta yaitu kematian dan kematian sering kali hadir seperti pencuri di malam hari, tanpa pemberitahuan dan tanpa memandang siapa yang dijemputnya. Namun, di situlah letak keindahan sekaligus ujian terbesar dari kasih sayang, cinta pada hakikatnya selalu merindukan keabadian.

Ketika takdir kematian datang, ia menghadirkan duka, kehilangan dan keheningan, cinta bertarung melintasi alur waktu yang menari di antara kenangan dan harapan. Keabadian yang dirindukan itu justru bersemi dan bermekaran di dalam masa hidup yang singkat yang tersisa hanya luka yang entah kapan baru sembuh untuk melupakan hari Tuhan itu, hari yang selalu dalam ingatan.

Sekalipun luka, duka, doa, dan Keikhlasan tanpa rasa takut, perpisahan itu harus dilalu dengan iklas, maut meninggalkan duka mendalam bagi mereka yang ditinggalkan, termasuk untuk putri kecilmu dan ayahnya yang memikul patah hati yang sama, dalam Jalani hari-hari berikutnya tanpamu selamanya.

Air mata yang menetes, dukacita yang dalam tak akan pernah mampu membawa sosok yang dicintai sepertimu mampu kembali ke dunia raga. Namun, pesan mendalam dari perjalanan ini mengajarkan bahwa kematian tidak seharusnya dihadapi dengan ketakutan berlebih yang harus mengikis iman kita.

Kematian dapat dimengerti dan diterima, sebagai suatu keharusan alami dalam rencana Tuhan. Dengan sikap mental yang bijaksana, tekun dalam doa, serta menaruh firman dalam hati, rasa takut akan kehilangan dapat diubah menjadi pengharapan murni dan ucapan syukur selama masa hidup yang masih dianugerahkan, sekalpun akan tertati dengan luka dan cinta, kerinduan dan kasih mesra.

Karena cintamu kuat seperti maut dan cintamu yang melampaui maut itu kini kau telah berpisah dalam raga. Kisah ini, bukanlah sekadar cerita tentang perjuangan melawan takdir perpisahan, melainkan tentang keinginan cinta di dalam batas waktu dan rasa rindu di dalam keabadian.

Ketika raga terpisah oleh liang kubur dan alam maut, kenangan akan kasih tulus, kebaikan, dan janji untuk tetap kuat dan soa darimu agar kami berdua selalu baik-baik saja, akan menjadi pelita yang menerangi jalan bagi kami dalam melanjutkan hidup di bumi.

Raga kita memang telah berpisah namun cinta sejati tidak pernah benar-benar mati, ia bertransformasi menjadi doa, ketenangan pikiran, dan keikhlasan untuk merelakan sosok terbaik dan tersayang, kembali ke Sion Yerusalem Sorgawi Kembali ke haribaan Sang Pencipta finyaatira,.

Selamat tidur manisku, kau bakungku menuju keabadian, selamat mimpi indah dalam istirahatmu yang panjang, beristirahat dari jeri lelahmu biar segala perbuatanmu selalu menyertaimu, berbahagialah orang-orang yang mati di dalam Tuhan, biarkan hambamu pergi dalam damai sejahtera dan beristirahat dari jeri lelah karena hamba tau dan yakin semaca hidup, tubuh dan jiwa serta hidupnya milik Kristus. BERSAMBUNG (*)

By. Maria Roza Gurion (*)