Oleh: Musell M Safkaur (*)

Theovani menurut saya telah ditafsirkan sepihak. Ditafsirkan menurut cara pandang penguasa atau kaki-tangan penguasa. Sementara dari sisi realitas objektif yang berpadu dengan keniscayaan sejarah rakyat Papua tidak terakomodir sama sekali. Ini pertama karena yang memegang pena dan mikrofon adalah penguasa atau kaki tangan penguasa. Sementara sebaliknya, yang mewakili sudut pandang rakyat kecil yang teraniaya dan menderita, yang menuntut perubahan radikal, belum atau tidak ada hingga saat ini.

Theovani adalah landasan Teologis suku-bangsa A3 (Ayamaru, Aitiyo, dan Aifat atau Maybrat) yang terus dipegang hingga hari ini. Theovani pertama kali dicetuskan oleh Rasul Ruben Rumbiak, missionaris kelahiran Biak yang ditempatkan untuk melayani di Wilayah Maybrat pertengahan Abad ke-20. Dalam sebuah doa di kaki bukit Kayahai (sekarang kampung Kambuaya-Ayamaru) tanggal 21 Oktober 1951, ia mendapat sebuah “petunjuk” tentang masa depan Suku-Bangsa A3. “Petunjuk” ini mengandung dua hal yaitu janji berkat dan kewajiban yang harus dipenuhi. Petunjuk itu berbunyi:

“Aku berkata kepadamu bahwa sesungguhnya pemuda-pemudi A3: daerah Ayamaru, Aitinyo, dan Aifat nanti setelah 10 tahun, 15 tahun, 25 tahun dan 30 tahun akan menjadi manusia-manusia pembangun di New Guinea. Asalkan, 1) pelihara kesatuan, 2) kerendahan hati, 3) kasih, dan 4) kehormatan kepada semua orang. Kasih karunia menjadi turun-temurun.”

Nubuat ini kemudian disampaikan kepada keempatnya pemuda dari wilayah ini yaitu Abraham Kambuaya, Markus Solossa, Habel Tamunete, dan Simon Isir. Keempat pemuda ini kemudian meneruskan petunjuk tersebut kepada semua orang dan terus dipegang hingga hari ini. Bagi suku-bangsa A3, ini adalah landasan teologis yang tidak bisa diganggu-gugat oleh siapapun hingga hari ini. Janji tersebut adalah berkat tapi sekaligus kewajiban yang harus dipenuhi setiap hari. Tapi sayangnya, pergeseran corak produksi dan dengan begitu kebudayaannya, telah merombak semua hal, terutama “kewajiban” yang harus dipenuhi.

Manusia Maybrat tidak lagi rendah hati dan tolong-menolong, tapi menjadi manusia angkuh dan sombong. Tidak menghargai satu sama lain, tapi saling menghina dan tidak merendahkan diri. Kata-kata seperti “sampah, tidak mampu, miskin, dan melarat” adalah nyanyian yang setiap hari keluar dari mulut orang-orang Maybrat. Kasih dan kehormatan telah lenyap dan berubah menjadi kebalikannya yaitu “kau siapa dan punya apa?” Tidak ada penghargaan terhadap kemanusiaan orang lain, tapi saling merendahkan dan menginjak-injak sesama.

Dalam kaca mata yang lebih luas, bisa dilihat bahwa Theovani telah dilanggar dan berubah menjadi sebaliknya, yaitu kutukan dan hinaan. Padahal mandat Theovani adalah jelas, yaitu pelihara kasih dan kehormatan, bukan dengki dan iri hati. Bukan pula “ni awya, ji awya” tapi saling hormat dan pengakuan. Namun sayangnya ini telah lenyap dan berubah menjadi persaingan abadi yang tiada putus-putusnya.

Theovani sekarang bukan lagi landasan hidup, tapi perintah yang terus dilanggar setiap hari. Dalam perspektif teologis, janji berkat bisa berubah menjadi sebaliknya, yaitu kutuk dan maut. Dalam hal ini, kehidupan kita hari ini telah menjadi kompas untuk mengukur hal tersebut. Namun satu hal yang pasti, kematian telah merebak dimana-mana dan kehancuran telah merekah layaknya fajar di pagi hari. Entah ini berkaitan atau tidak, bukan tugas saya untuk menafsirkannya, tapi menjadi refleksi tiap-tiap individu yang mengimani Theovani sebagai landasan hidupnya.

I.PERAYAAN KOSONG DAN TIDAK BERMAKNA APA-APA.

Walaupun Theovani dalam praktek telah jauh dari panggang, tapi seremonialnya telah resmi dirayakan setiap tahun. Menurut kalender akademik di lingkungan Kabupaten Maybrat, ini adalah hari libur resmi yang wajib dirayakan setiap tahun. Tidak tanggung-tanggung, dana miliaran rupiah dikucurkan untuk perayaan tersebut. Tapi sayangnya, praktek hidup dalam ber-Theovani telah kosong layaknya kertas yang baru keluar dari pabrik. Tidak ada pemaknaan apapun dalam kehidupan, kecuali kesombongan abadi atas nama Theovani.

Theovani selalu dijadikan landasan pijak untuk sebuah kehormatan, tapi lupa mengabdi pada perintah yang telah dituliskan. Dimana-mana manusia Maybrat bertepuk dada atas “janji berkat”, tapi di saat yang bersamaan lupa bahwa dalam pengucapan janji tersebut, ada perintah yang mengikutinya. Tanpa melaksanakan perintah, tidak mungkin untuk mendapat janji. Sebab perintah-Nya jelas, yaitu “asalkan pelihara kasih, kehormatan, dst”. Melupakan perintah lalu menyombongkan diri atas nama janji adalah sebuah kekanak-kanakan berfikir yang tidak bisa diampuni oleh siapapun juga.

Kata “asalkan” mengandung perintah yang sangat kuat dan jelas, yaitu “asal” atau “asalkan” yaitu syarat yang harus dipenuhi untuk memperoleh janji tersebut. Syarat ini berupa perintah yaitu hukum mati yang tidak bisa dirombak, dicabut, atau dinegosiasikan untuk mendapatkan yang lain. Sebab keduanya ibarat dua sisi mata uang yang apabila dicabut satu sisi maka lenyaplah yang lain. “Barang siapa bekerja ia memperoleh hidup. Barang siapa mengetuk pintu, maka pintu akan dibukakan”.

Barang siapa melaksanakan perintah, maka ia akan memperoleh janji. Barang siapa tidak melaksanakan perintah, ia tidak memperoleh janji. Begitu jelasnya maklumat Theovani sehingga siapapun tidak bisa merombaknya. Tapi sayangnya, pergeseran nilai hidup dan tatanan yang berlaku telah membuat Theovani bergeser dalam praktek tapi dalam perayaan setiap tahun tetap dilaksanakan. Ini yang oleh satir para pendahulu disebut “latihan lain main lain” yaitu setiap tahun merayakan Theovani, tapi dalam praktek “main lain” yaitu saling caci maki, iri hati, dengki, dan tidak hormat satu sama lain.

Inilah yang dimaksud dengan perayaan kosong tanpa suatu pemaknaan apapun dalam kehidupan sehari-hari. Theovani hanya sebuah ritual , tapi kosong dalam praktek. Hidup saling hormat, kasih dan persatuan hanya slogan, tapi kehidupan tidak mencerminkannya sama sekali. Apa yang diperingati dan apa yang dijalani adalah langit dan bumi. Semuanya tidak berkaitan dan telah berubah menjadi kebalikan dari Theovani yang diperingati setiap tahun. Dalam hal ini, maka kita berhak mengatakan bahwa “bangsa ini hanya memuji Aku dengan bibir, tapi hatinya jauh”. Inilah yang hari ini terjadi di Kabupaten Maybrat yaitu antara mandat Theovani dan kehidupan sehari-hari yang jauh dari panggangnya.

II. KRITIK ATAS PEMAKNAAN TRADISIONAL

Kritik ini ditujukan kepada pemaknaan tradisional Theovani yang terlalu sepihak dan telah menggeserkan makna sejati Theovani dari arti sesungguhnya. Pemaknaan yang dimaksud adalah janji berkat bagi suku bangsa A3 yaitu “menjadi manusia-manusia pembangun” yang diartikan sebagai “manusia-manusia yang menjadi kaki tangan penguasa”. Maksudnya adalah, bagi pemaknaan tradisional, bukti final dari Janji Theovani tahun 1951 adalah suksesnya anak-anak A3 di kursi birokrasi kolonial seperti Gubernur, Bupati, Menteri dan seterusnya.

Padahal ini pemaknaan yang terlalu sepihak. Sebab Rasul Ruben Rumbiak tidak pernah menyebutkan itu. Ia hanya mengatakan “manusia-manusia pembangun”. Sampai disitu; tidak lebih dan tidak kurang. Maka penarikannya ke arah birokrasi kolonial adalah pemaknaan yang sepihak dan terlalu berlebihan.

Manusia pembangun tidak selalu berarti birokrasi kolonial. Sebab birokrasi kolonial tidak selalu mencerminkan kepentingan rakyat. Dalam prakteknya kita saksikan sendiri bahwa sering kali para birokrat adalah perpanjangan tangan pemerintahan pusat untuk mengeksekusi kepentingan-kepentingannya. Tapi siapa pemerintah pusat itu? Pertanyaan inilah yang diabaikan sama sekali. Padahal disinilah pusat refleksi yang paling penting untuk menentukan “berkat” atau tidaknya suatu instrumen bagi masyarakat.

Apakah birokrasi kolonial adalah “berkat” bagi rakyat Papua atau New Guinea dalam sebutan Theovani? Jika membawa “berkat”, maka “berkat” untuk siapa? Pengalaman kita selama 65 tahun mengklarifikasi segalanya bahwa alih-alih berkembang lebih maju (berkat) justru sebaliknya kita menjadi hancur dan binasa. Ini berlaku baik untuk persoalan alam Papua maupun rakyat Papua yang menjadi subjek hidup di atas tanah Papua. Apa kenyataannya? Apa fakta-faktanya sampai hari ini? Yang jelas, data menunjukkan bahwa orang Papua semakin minoritas dan binasa di atas tanah airnya sendiri.

Maka kita berhak bertanya, siapa yang paling bertanggung jawab atas semua itu? Apakah Jakarta seorang diri? Tidak! Jakarta dan seluruh kroni-kroninya yang bertanggung jawab atas semua itu. Dan kroni-kroni yang paling bertanggung jawab adalah instrumen birokrasi kolonial atau dalam hal ini menteri, gubernur, bupati, dan jajarannya. Mereka ini adalah tim sukses yang mensukseskan program transmigrasi, izin perkebunan, pertambangan dan seterusnya yang membawa petaka bagi seluruh rakyat Papua sejak 1961 hingga hari ini.

Maka darimana mereka ini disebut “manusia-manusia pembangun”? Ya manusia-manusia pembangun, tapi manusia pembangun Jakarta di atas tanah Papua dan bukan membangun Papua itu sendiri. Semua instrumen pembangunan di Papua adalah untuk memperkuat Jakarta dan bukan Papua. Fakta bahwa rakyat Papua semakin minoritas dan miskin melarat adalah bukti final yang tidak terbantahkan oleh apapun juga. Maka sekali lagi, darimana “manusia-manusia pembangun”? Tidak lain adalah salah kaprah yang terus diproduksi oleh mulut dan tangan penguasa hingga hari ini.

III.MANUSIA PEMBANGUN YANG SEJATI

“Manusia pembangun” yang sejati menurut Theovani adalah mereka yang bekerja jujur dan rajin di atas tanah ini. Mereka yang bukan mengejar karier, uang, dan jabatan lalu mengklaim diri sebagai “manusia pembangun”. Tapi mereka yang bekerja secara cuma-cuma demi tanah dan manusia Papua. Mereka inilah yang dimaksud oleh nabi sebelum Ruben Rumbiak, yaitu Isak Samuel Kijne dengan kalimat yang sangat terkenal yaitu “akan mendapat satu tanda heran ke tanda heran yang lain”.

Nubuatan Ruben Rumbiak tidak bisa dilepaskan dari misi GKI di tanah Papua yaitu menyiapkan orang Papua sebagai tuan di negerinya sendiri. Tuan ini tidak selalu berarti menjadi instrumen pelayan kolonial atau pejabat birokrasi, melainkan mereka yang bekerja secara sungguh-sungguh demi tanah ini. Mereka ini adalah para dokter, guru, perawat, dan aparatur sipil negara tingkat rendahan. Ini juga termasuk para seniman, penyair dan pejuang hak asasi manusia dan politik di tanah Papua.

Pemaknaan yang berlebihan bahwa bukti dari “buah Theovani” adalah menjadi pejabat di ruang birokrasi kolonial adalah pemaknaan yang menyesatkan dan berpotensi untuk merusak moral hidup dan kepercayaan diri Suku-bangsa A3. Sering kali mereka yang merupakan rakyat biasa menderita perasaan rendah diri karena tidak menjadi “buah” dari Theovani yang disanjung dan dielu-elukan. Padahal “manusia pembangun” tidak selalu berarti menjadi pejabat kolonial. Tapi akibat dari tafsir sesat dari para pendeta yang dibayar untuk berkhotbah dan para penulis buku yang dari kalangan pejabat tinggi, maka ini ditafsirkan semau-mau mereka.

Tahun 2021 dalam sebuah Seminar Theovani di Kota Jayapura, para penafsir dan hadirin hampir sepakat sepenuhnya bahwa buah dari Theovani adalah  mereka yang menjadi gubernur, bupati, DPR, kepala dinas dan seterusnya. Contoh ini disebut berulang-ulang kali dan membuat seluruh isi ruangan bersorak-sorai. Tapi kita bertanya jika bukti dari buah Theovani yang selalu menjadi contoh adalah pejabat kolonial, maka bagaimana dengan mereka yang memilih jalan berbeda seperti misalnya para pejuang-pejuang kita: Manfred Fatem, Arnold Kocu, Sonny Mosso, Yordan Iek, dll? Apakah mereka ini tidak termasuk?

Jika bukti dari Theovani yang selalu dibanggakan adalah pejabat kolonial, maka bagaimana dengan mereka yang selama hidup hanya sebagai buruh, tukang sapu jalan, kaum miskin kota, dll? Apakah mereka bukan “buah dari Theovani”? Atau jika mereka adalah “buah”, maka mengapa mereka tidak pernah disebut sebagai contoh yang manis dalam khotbah-khotbah dan mimbar-minbar seminar?Inilah yang kita sebut sebagai pemaknaan sepihak yang tidak tepat dan kurang objektif karena menunjukkan bias yang luar biasa dalam pemaknaan Theovani.

Theovani harusnya ditafsirkan secara inklusif yaitu ruang yang ramah bagi semua orang. Bukan ruang yang ramah bagi pejabat kolonial atau pelayan kolonial lalu meminggirkan kaum-kaum yang lain. Sebab tanpa perjuangan yang lain, tanpa kerja-kerjs yang lain, dari tukang bangunan, buruh, dan kaum miskin—maka tidak mungkin ada pejabat kolonial. Pejabat kolonial juga bukan kaum yang berakar, tapi parasit yang menempel di tubuh birokrasi demi menghisap darah rakyat. Maka mereka sejatinya bukan “bukti paling manis” dari mandat Theovani, melainkan buah yang paling buruk yaitu tunduk setia melayani tuannya yang ada di Jakarta.

IV. KEMBALI KE JALAN YANG BENAR

Kembali jalan yang benar sesuai amanat Theovani berarti hidup yang bersahaja, saling tolong-menolong, kasih, dan penghormatan terhadap sesama manusia. Semua kebiasaan yang hari ini berlaku harus dirubah menurut cara pandang Theovani. Sikap angkuh yang selama ini menjangkiti psikologi orang Maybarat harus dihentikan dan kembali hidup dalam mandat Theovani yang mulia.

Kasih dan penghormatan berarti menghormati sesama manusia. Bukan angkat diri sendiri, sombong, angkuh dan binasa. Sebab Thovani tidak mengajarkan demikian. Bo sentri, saling mengejek, mei anya, dan harga diri yang harus diselesaikan melalui denda adat yang berlebihan, harus dihentikan. Sebab kesombongan semacam demikian hanya meninggikan ego diri sendiri dan abai terhadap kehormatan orang lain. Merasa diri paling tinggi dari semua suku bangsa yang ada di Papua adalah bukan prinsip Theovani, melainkan kasih dan kehormatan.

Semua manusia adalah sama. Dalam filsafat hidup orang Maybrat disebut “Aro yho wait-wait” yang artinya setiap orang mempunyai kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Tidak boleh saling merendahkan, dan harus hidup dalam kasih dan kehormatan. Sentimen sukuisme antara Ayamaru, Artinyo harus dihentikan, sebab itu membawa petaka bagi persatuan orang-orang A3. Ayamaru harus bersolidaritas terhadap Aifat, demikian sebaliknya. Tidak boleh merasa paling tinggi dan mengorbankan yang lain, dan harus hidup dalam prinsip yang diwariskan oleh Theovani.

Demikian halnya kerendahan hati. Kerendahan hati yang dimaksud adalah bukan merendahkan martabat, melainkan saling mendengar, tolong menolong dan bo sentri harus dihentikan. Kita adalah satu, yaitu A3 dan seluruh bangsa Papua. Orang-orang A3 apabila ingin menjadi terang atau pembangun, maka kerendahan hati sangat diperlukan. Tidak bisa merasa paling di atas, paling berharga, sehingga menginjak-injak kemanusiaan sesama bangsa Papua. Tapi harus menolong saudaranya yang sedang mengunsi di Intan Jaya, Aifat Timur, Ndugama, dan seterusnya. Inilah esensi dari kerendahan hati yang kemudian berwujud dalam pelayanan terhadap sesama.

Hari ini persatuan orang Papua di ujung tanduk. Tapi apabila kita terus merasa diri paling tinggi, paling berharga, paling mulia, maka sejatinya kita sedang merusak persatuan itu lebih parah lagi. Persatuan orang Papua adalah kunci menuju Papua Baru. Maka “manusia pembangun” harus lah mempelopori jalan itu. Mempelopori jalan bagi rekonsiliasi bangsa Papua. Kita bukan bangsa gaplek, kita bukan bangsa mainan, tapi kita adalah bangsa yang besar. Maka kunci untuk mencapai semua hal itu adalah dengan jalan pembebasan nasional yang dimulai dari jalan saling menghormati dan kasih terhadap sesama manusia.

Mandat Theovani adalah “manusia pembangun di New Guinea” maka kita harus bicaranya dalam skala nasional yaitu bangsa Papua. Orang Maybrat harus mulai merendahkan diri, merendahkan ego, untuk mencapai tujuan nasional bangsa Papua. Bukan hanya sok jago sendiri, tepuk dada, merasa diri paling tinggi, tapi mulai berjalan bersama dengan sesama suku-bangsanya yang ada di Papua. Setiap penafsiran Theovani yang memuji-muji pejabat harus dihentikan dan dirubah menjadi pemaknaan yang harmonis dan merangkul semua golongan, terutama kaum rakyat biasa yaitu petani, nelayan, buruh, dst.

Akhir kata, marilah kita sambut mandat Theovani dengan baik dan tanpa mengurangi satupun kalimatnya atau melebih-lebihkan. Para hamba-hamba Tuhan, pendeta, guru jemaat, insyur, dan para penafsir Theovani harus berhenti menjilat-jilat penguasa dan merendahkannya pada hajat hidup orang banyak, yaitu rakyat biasa. Berhenti mengatakan buah Theovani adalah pejabat, tapi setiap orang yang hidup dan memberi manfaat bagi sesama manusia, dan terlebih para pejuang yang telah merelakan hidupnya bagi perjuangan kemerdekaan nasional bangsa Papua.

Inilah makna sejati Theovani yaitu menjadi manusia-manisia pembangun untuk mencapai Papua Baru yang telah dirumuskan oleh I.S Kijne “bahwa bangsa ini akan bangkit memimpin dirinya sendiri”, yaitu Kota Emas, Papua Baru.

(*) Penulis adalah Aktifis Papua dan Kritikus Sosial, tinggal di Kota Sorong