Sorsel, Petarung.org- Masyarakat Adat Distrik Konda melakukan pemalangan patuk adat di hutan adat yang menjadi hak milik secara turun temurun, secara alami batas antar marga terletak pada pohon besar, sungai dan gunung di dalam area hutan adat.
Bapak Yance Mondar bersama keluarga besarnya dari Kampung Nakna Distrik Konda dan Kampung Keyen Distrik Teminabuan telah bersama lakukan patrol hutan sekali menandai patok dengan ritual adat sebagai bentuk perlindungan dan edukasi kepada generasi muda di internal marga dan sukunya.
Ia menambahkan, upaya tersebut juga untuk membatasi upaya pencaplokan sepihak oleh perusahan kelapa sawit PT. Anugerah Sakti Internusa (ASI) yang selalu mengincar wilayah hutan adat mereka di Distrik Konda dan Distrik Teminabuan Sorong Selatan Papua Barat Daya.
“Kami survey dan buat patok adat ini karena ada perusahaan dan beberapa pihak rencana kasi masuk kelapa sawit, jadi kami juga takut jaga karena kelapa sawit ini kalau masuk nanti dia bongkar torang pu hutan yang sedikit ini baru kami mau hidup dimana? Kami mau berburu dimana? Kami mau berkebun dimana? Jadi kami hak ini kami trabisa kasi, kalau tempat ini digarap sawit lalu kami pu hidup ini mau taru dimana?” ujar Yance Mondar, melalui siaran pers yang diterima Petarung.org langsung dari Hutan Adat Distrik Konda, 4 Maret 2026.

Ia menambahkan, kegiatan patok adat ini dilakukan di hutan adat bernama Kordaimahkrah, Sun, Mondarmbe dan Nimadaduk yang berlokasi di Distrik Konda, kegiatan tersebut juga melibatkan marga Kareth Sarus dan Marga Sianggo serta Karet dan Kemeray. Masyarakat yang terlibat dari dari para tetua adat, mama-mama dan pemuda yang berjumlah sekitar puluhan orang.
“Hutan ini dari Orang Tua Moyang untuk kami, dan kami juga akan wariskan untuk anak cucu kami, jadi kami tetap tolak kelapa sawit di tong hutan ini” ujar Mama Grice Mondar
Masyarakat membawa kain merah dan cet merah sepanjang proses berlansung di hutan alami milik mereka yang terus diancam PT.ASI dengan izin konsesi 14.000 ha.
“Tong pu hutan ini ada babi hutan, kasuari, lau-lau, kanguru, kus-kus, maleo, rusa dan hewan liar banyak disini, jadi kami keluarga besar tolak kelapa sawit itu” Bpk Yustus Mondar
Tanah Papua memang selalu menjadi ancaman investasi yang ingin merusak hutan primer dari waktu ke waktu sampai sekarang.
“Hutan ini bukan tanah kosong, ada pemiliknya jadi sampai kapanpun kami tetap tolak kelapa sawit” Bapak Yulian Kareth (tokoh adat Afsya yg terlibat):
“Tong pu hutan ini untuk ramuan obat-obatan jika ada kluarga yang sakit dan biasa juga kami ambin daun tikar dan rumput untuk buat noken dan tikar untuk tong pu kebutuhan” ujar Mama Fransina Sianggo. (CR2)





