Maybrat, Petarung.org- Pemerintah Kabupaten Maybrat harap benahi sumber informasi yang resmi, soal penembakan di wilayah Maybrat. Supaya informasinya jelas dan narasinya terarah agar komunikasi terarah dan narasi-narasi yang beredar di ruang publik itu efektif dan menyejukan. Baik efektif untuk menghargai dan menghormati korban penembakan dari sisi rasa keadilan dan juga efektif untuk pemerintah mengarhkan keamanan dan ketertiban di Masyarakat pasca peristiwa penembakan ini.
Apresiasi kami karena, hal itu telah dan sudah bergerak cepat atasi dengan cara sigap memberi perawatan dan pertolongan di Rumah Sakit Sunere Maybrat dan kemudian lakukan rujukan ke Kota Sorong, belum lagi biaya medis akan menjadi tanggungjawab Pemda dan Pemrov PBD itu sesuatu yang luar biasa dari sisi penanganan korban penembakan.
Sementara penanagan informasi di ruang publik dan penegakan hukum harap agar pemerintah jangan memberi narasi dan pernyataan sepihak, yang tidak mewakili Lembaga dan tidak mendasar karena itu hanya akan memperkeruh suasana.
Jangan bupati punya narasi lain, wakil bupati punya narasi lain, sekda punya narasi lain, kepala distrik, DPRP, DPRK, DPRD dan korban dan saksi mata punya narasi lain, bahkan publik antero Maybrat juga punya narasi lain, ini hal yang berbahaya untuk kepentingan propaganda.
Bayangkan, pelaku penembakan dan intitusi militer sampai hari ini masi diam dan tidak angkat bicara soal penembakan. bahkan TPNPB selaku gerakan kombatan di wilayah Maybrat juga diam dan tidak angkat bicara soal peristiwa ini. Sementara bola liarnya ada di Masyarakat, Masyarakat yang di buat korban dari peristiwa ini, korban penembakan, aksi palang jalan, bakar ban dan gelar aksi spontan keasana kemari seakan-akan ini persoalan sepeleh, ini soal nyawa manusia Maybrat. Rasa takut, rasa tidak aman, mengungsi akan menjadi alternaif bagi Masyarakat. Untuk atasi hal itu, harap FORKOPIMDA jangan buat Masyarakat kecil korban dari pola penangannan informasi yang lamaban semacam ini.
Penyebaran Berita Hoax di Media Sosial
Kolom komentar media sosial di Maybrat News, dan medis sosial di kabupaten lain ramasi soal kasus penembakan di Maybrat 4 hari ini, nyaris menunjukan berita Hoaks (palsu) masih tumbuh subur di pesan singkat dan internet terutama di kolom komentar di setiap media sosial dan media resmi, baik itu dikomentari oleh akun resmi dan akun palsu. Dengan narasi dan opini yang digiring sangat liar oleh oknum tertentu, untuk membuat keraguan akan sebuah kebenaran yang terjadi di lapangan dan tujuan mereka sederhana agar publik meragukan kebenaran itu, kenenaran soal apa yang hari ini terjadi dan fakta di lapangan dengan berita dan komentar hoax.
Siatuasi sudah terjadi, kepala daerah dan para pejabat stop bangun narasi liar soal, Orang Tak Dikenal, Orang Belum Diketahui, Orang Belum Jelas, Orang Terkutuk, Pihak A dan pihak B dan lain-lain, itu urusan nanti. Intinya elit Maybrat Stop korbankan warga sipil soal narasi dan ikut giring opini di ruang publik. Jika pejabat Maybrat ingin bicara untuk keamanan dan ketertiban sosial, bicara untuk kepentingan pangkat untuk kepentingan anggaran keamanan dan lain lain, tolong benahi informasi di ruang publik dulu, jangan lomba jualan narasi dan buat suasana di masyarakat tamba gaduh.
Masyarakat Maybrat harap tenang, konsolidasi basis masyarakat untuk antisipasi bagian-bagian yang krusial supaya masyarakat dapat petahkan masalah ini dengan utuh, jangan kita muda terpovokasi dengan kemarahan yang kemudian membuat kasus ini semakin melebar. Sekali lagi ini, personal hak asasi manusia, ini persoalan hak untuk hidup, hak untuk peroleh rasa aman dan mereka (FORKOPIMDA ) yang harusnya menjamin semua keamanan itu bagi maysrakat Maybrat.
Yang harusnya akhiri pertikaian dan selisih paham informasi di ruang publik ini adalah aparat keamanan baik Pihak TNI AL, TNI AD dan Polres Maybrat, namun hingga saat ini lembaga ini mereka belum angkat bicara soal peristiwa penembakan ini.
Itu artinya Masyarakat tetap bersabar, karena militer punya cara infestigasi mereka sendiri. Yang harusnya Masyarakat lakukan adalah tetap kritis untuk kawal kasus penembakan ini, karena bola liar dari pelaku penembakan ini akan di tendang dan akan diarahkan dengan muda kemana saja jika kasus tidak dikawal dengan baik.
Jika Masyarakat hanya tersulut emosi dan tidak menahan diri, kesadaran kritis itu akan hilang dan masyarakat kelak bisa dikorankan lagi, disituasi seperti ini, semua pihak di basis masyarakat harap kendalikan emosi dan kendalikan sentiment apaun, agar masayarakar jeli memilah dan melihat persoalan. Masyarakat boleh keras sama masalah, asal jangan keras sama orang, apalagi keras untuk intitusi itu yang tidak boleh dilakukan.
Soal Narasi dan Isu Miring Tentang Kombatan
Sekali lagi itu bukan urusan masyarakat sipil, TNI/Polri mau saling serang atau saling mendahuli dalam membunuh atau adu tembak karena ideologi, itu urusan kedua belah pihak. Dan tidak ada urusan dengan Masyarakat kecil.
Soal pelaku penembakan dilakukan oleh orang tak dikenal itu urusan lain. Namun samapai dengan hari ini, para kombatan TPNPB kodap Rumana juga belum umumkan siara pers bahwa mereka bertanggungjawab atas peristiwa penembakan ini seperti kebiasaan mereka dalam menghargai hukum humaniter
Dimana para kombatan di rumana juga taat dan tunduk atas hukum perang, selama ini mereka lakukan siaran pers saat mereka gelar aksi penembakan, pembunuhan warga sipil maupun pengumuman duka nasional atas anggota mereka yang gugur selalu mereka umumkan secara terbuka ke publik.
Dan peristiwa penemban warga sipil ini, sudah masuk hari ke 4 belum ada siaran pers dari Jubir mereka sebagai kombatan. Itu artinya masalah penembakan ini publik bisa berkesimpulan sendiri siapa yang bertanggungjawab atas peristiwa ini.
Penembakan ini bukan hal biasa, kejadian ini terkesan ada dalam sebuah cipta kondisi dan mereka menginginkan kondisi seperti apa di lapangan kita tidak bisa membaca itu, seperti halnya yang disamapiakan oleh direktur LBH Kakaiabu, Leonardo Ijie belum lama ini di media jubi terkait peristiwa penembakan di wilayah Maybrat.
Catatan Redaksi
Sebagai media lokal yang berkantor di Maybrat dan konsen di Maybrat, kami bertanggungjawab untuk kepentingan edukasi dan himbauan agar masyarakat Maybrat tidak muda terprofokasi. Mengingat disinformasi di ruang publik di media sosial sangat rentan, dengan sentiment emosional yang buat suasana keamanan di wialayah Maybrat tidak nyaman.
Direktur Eksekutif Southeast Asia Freedom of Expression Network (SAFEnet) Damar Juniarto dalam sebuah diskusi perna mengatakan hoaks di Papua akan selalu menemui jalan untuk menyebarkan diri. Penyebaran hoaks berpindah medium ke pesan singkat atau telepon.
“Itu menunjukkan tidak efektif teknik yang digunakan pemerintah bahwa hoax akan berhenti, atau ajakan provokatif akan berhenti dengan sekedar himbauan murahan yang tidak terstruktur oleh pemerintah,” ujar damar saat menanggapi peristiwa penyebaran hoax di Papua.
Ia mengatakan, tidak serta merta penyebaran HOAX akan berhenti malah akan berpindah mendium lain yang lebih fatal dan hal ini yang kami harap agar Masyarakat jangan terprovokasi.
Damar mengatakan ketika penyebaran hoaks lewat mulut ke mulut, apakah pemerintah akan membungkam mulut masyarakat.
sebagai catatan redaksi, kami berharap Pemerintah Kabupaten Maybrat jangan melukai kepentingan publik soal kebenaran dan fakta di lapangan, tidak semua masyarakat di Maybrat bisa mengakses layanan publik secara online pemerintah kabupaten Maybrat, bupati sebagai ketua Forum Komunikasi Pimpina Daerah (FORKOPIMDA) Maybrat.
Kami minta agar pemerintah tidak hanya melihat dari aspek ketertiban umum tapi juga melihat dari segi kepentingan masyarakat dalam hal rasa aman, mendapat informasi yang benar, dan mendapat perlindungan dan rasa keadilan terutama korban dan keluarga korban
Langkah-langkah instan yang pendekatannya hanya pada utamakan aspek himbauan kamtipmas dan tidak ada upaya ungkap motif dan pelaku penembakan, itu tidak efektif sama sekali. Jika Masyarakat yang tertip dan FORKOPIMDA, DPRD, TNI AL, TNI AD, POLRES Maybrat diam dan tidak ada upaya mengungkap dan mengadili pelaku penembakan, hal itu hanya akan merugikan masyarakat Maybrat. (CR1)
catatan Redaksi Petarung.org





