Maybrat, Petarung.org- Tiga warga sipil menjadi korban penembakan di sebuah kamp milik Yakobus Asem yang berjarak lebih dua kilometer dari kampung Ainod, distrik Aifat, kabupaten Maybrat, Papua Barat Daya, Kamis (13/8/2026) sekitar pukul 18.00 WIT.
Lokasi kejadian berada di dusun atau kampung persiapan Aifan, di pinggir sungai Kamundan. Berdasarkan keterangan korban dan sejumlah saksi yang dihimpun dalam dokumentasi kasus, peristiwa bermula ketika warga mendengar suara drone di sekitar kamp.
Sekitar pukul 12:00 WIT, Silfester Assem bersama Yakobus Asem dan Lober Assem sedang mencari ikan di sungai Kamundan. Saat itu, Silfester mengaku melihat drone diterbangkan di atas sungai dan memberitahukan hal tersebut kepada Yakobus dan Lober.
Beberapa saat kemudian, sekitar pukul 16:00 WIT, ketiganya kembali ke kamp. Silfester kemudian masuk ke kamp, sedangkan Yakobus dan Lober membersihkan ikan hasil tangkapan di pinggir sungai.
Setelah masuk di kamp, Silfester kembali mendengar suara drone di atas kamp. Ia kemudian memanggil Selfiana Sorry dan Anike Fatie untuk melihat drone tersebut.
Tak lama setelah itu, ketiga warga tersebut kembali masuk ke dalam kamp. Sekitar pukul 18.00 WIT, terdengar satu kali suara tembakan yang kemudian disusul rentetan tembakan ke arah kamp.
Anike Fatie, perempuan berusia 47 tahun, saat itu bersama Selfiana Sorry dan beberapa warga lainnya ada di kamp. Ketika rentetan tembakan terdengar, Anike berusaha menyelamatkan diri dengan berlindung di bawah kolong tempat tidur.
Sebelum berhasil berlindung, Anike terkena tembakan di bagian bahu kanan belakang. Luka tersebut menembus hingga ke bagian telinga dan kepala sebelah kiri dekat telinga.
Setelah penembakan, sejumlah orang yang disebut sebagai pelaku mendatangi kamp. Anike yang mengalami luka dan menjerit kesakitan, kemudian ditarik keluar dari bawah tempat tidur.
Menurut keterangannya, para pelaku memerintahkan Anike dan warga lainnya untuk tetap duduk sambil mengatakan, mobil akan datang menjemput mereka.
Para pelaku kemudian meninggalkan lokasi. Setelahnya tak kembali hingga keesokan harinya.
Selfiana Mengalami Luka di Kaki
Selfiana Sorry, perempuan berusia 66 tahun, juga berada di kamp ketika penembakan terjadi. Ia mengaku mendengar suara tembakan yang mengenai seekor anjing di sekitar kamp, sebelum kemudian disusul rentetan tembakan.
Selfiana terkena tembakan pada kaki kanan. Dengan luka pada bagian paha luar yang menembus hingga paha bagian dalam.
Menurut keterangannya, sekitar lima orang datang ke arah kamp setelah penembakan. Ia menyebut orang-orang tersebut mengenakan pakaian loreng, helm tactical, rompi peluru dan membawa senjata.
Salah seorang kemudian menghampirinya dan mengikat kaki Selfiana Sorry yang terluka menggunakan kain berwarna hitam.
Para pelaku selanjutnya memerintahkan Selfiana dan warga lainnya untuk tiarap. Mereka bilang akan pergi ke Kumurkek untuk mengambil mobil dan membawa para korban.
Namun, para pelaku tak kembali sampai korban dan warga dievakuasi pada Jumat (14/8/2026) sekitar pukul 11:00 WIT.
Silfester Tertembak Saat Berusaha Melarikan Diri
Silfester Asem, laki-laki berusia 21 tahun, mengaku sedang tidur setelah makan ketika mendengar suara tembakan sekitar pukul 18:00 WIT.
Terkejut dengan bunyi tembakan, ia berusaha melarikan diri. Namun, sebelum berhasil keluar dari kamp, Silfester terkena tembakan di betis kaki kanan.
Dalam kondisi terluka, ia berlari menuju sungai Kamundan dan melompat ke dalam sungai. Silfester kemudian berenang ke tepi sungai, berjalan ke arah hulu dan bersembunyi karena merasa pusing.
Silfester mengaku melihat orang-orang yang melakukan penembakan mengenakan seragam loreng dan perlengkapan militer, termasuk helm tempur serta senjata.
Ia baru kembali ke kamp sekitar pukul 23:00 WIT. Saat tiba, ia melihat Selfiana dan Anike juga mengalami luka tembak.
Saksi Mengaku Melihat Pelaku Berseragam Loreng
Yakobus Asem, pemilik kamp, mengatakan, setelah mendengar suara tembakan, ia bersama Lober Asem berjalan menuju kamp sambil mengangkat kedua tangan.
Keduanya berteriak meminta agar tak ditembak dan mengaku mereka adalah warga sipil. Yakobus juga bilang, mereka tak membentuk kelompok politik, tetapi sedang berkumpul karena ada kerja untuk membuat kampung di lokasi tersebut.
Menurut Yakobus, orang-orang yang melakukan penyerangan kemudian memerintahkan mereka untuk tiarap. Salah seorang dari mereka mengatakan akan pergi memanggil polisi untuk membawa warga tersebut.
Yakobus dan Lober kemudian berada dalam posisi tiarap selama sekitar tiga jam. Setelah suasana semakin sepi dan malam semakin larut, keduanya menuju kamp dan menemukan Selfiana bersama Anike telah mengalami luka tembak.
Dengan keterbatasan yang ada, Yakobus bersama Lober Asem dan Hermanus Saud memberikan pertolongan awal kepada kedua korban.
Sekitar pukul 23:00 WIT, Silfester kembali ke kamp dalam kondisi mengalami luka tembak di betis dan kemudian mendapat perawatan seadanya.
Hermanus Saud Mengaku Ditembak Saat Menyeberangi Sungai
Saksi lainnya, Hermanus Saud, mengatakan, dirinya sedang berada di seberang sungai Kamundan ketika mendengar suara tembakan sekitar pukul 18:00 WIT.
Ia kemudian berenang menyeberangi sungai untuk kembali ke kamp. Saat ada di tengah sungai, Hermanus mengaku ditembak oleh dua orang dari arah kamp.
Menurut Hermanus, kedua orang tersebut mengenakan pakaian loreng hijau dan membawa perlengkapan militer.
Untuk menyelamatkan diri, Hermanus Saud menyelam ke dalam sungai. Setelah muncul kembali, ia mengangkat kedua tangan dan menyampaikan statusnya sebagai warga sipil.
Hermanus kemudian diarahkan menuju kamp. Di sana ia melihat Yakobus dan Lober juga dalam posisi tiarap. Ia kemudian diperintahkan untuk ikut tiarap.
Setelah menunggu sekitar dua hingga tiga jam, Hermanus bersama Yakobus dan Lober kembali menuju kamp. Mereka kemudian menemukan Anike dan Selfiana mengalami luka tembak.
Dievakuasi ke Sorong
Pada paginya, 14 Agustus 2026, Yakobus Asem dan Hermanus Saud berusaha mencari jaringan telekomunikasi untuk meminta bantuan.
Sekitar pukul 11:00 WIT, para korban dan warga lain akhirnya dievakuasi dari lokasi kejadian. Para korban sempat dibawa ke Rumah Sakit Pratama Maybrat sebelum kemudian dirujuk ke RSUD Sele Be Solu Sorong, untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut dan menjalani operasi.
Dalam dokumentasi kasus tersebut, korban dan saksi menyatakan orang-orang yang melakukan penembakan menggunakan pakaian loreng, senjata serta perlengkapan militer dan memberikan perintah dengan gaya militer.
Berdasarkan keterangan korban dan saksi yang telah dihimpun, penyusun dokumentasi menduga kuat pelaku merupakan anggota TNI. Namun, dokumen tersebut juga menyebutkan masih terdapat sejumlah saksi yang keterangannya belum dimuat dan akan dimintai keterangan lebih lanjut untuk memperjelas kasus.
Dokumentasi kasus ini disusun tim kuasa hukum untuk kepentingan korban dan keluarganya serta sebagai bahan advokasi guna mendorong penegakan hukum, keadilan, dan perlindungan hak asasi manusia dalam kasus penembakan warga sipil di kabupaten Maybrat. (SP/CR1)





