Maybrat, Petarung.org- Akhirnya dugaan penembakan tiga warga sipil di sebuah pondok kebun di pinggir kali Kamundan, Kampung Ainod, distrik Aifat, Kamis (13/8/2026) yang membuat warga sipil masing-masing (1) Silvester Asem, (2) Anike Fatie, dan (3) Selviana Sory, korban kini memasuki babak baru.

Puluhan selongsong peluru dan sejumlah barang bukti ditemukan di lokasi kejadian dugaan penembakan, saat Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) perwakilan Papua melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP), Sabtu (22/8/2026).

‎Temuan tersebut akan menjadi fakta material penting dalam penyelidikan kasus yang hingga kini masih menyisakan pertanyaan mengenai siapa yang melepaskan tembakan dan dari posisi mana rentetan peluru diarahkan.

Kepala Komnas HAM perwakilan Papua, Frits Ramandey, mengatakan, pihaknya menemukan sejumlah petunjuk yang dinilai penting untuk mengurai peristiwa tersebut.

‎“Ya, jelas ada bukti-bukti petunjuk. Ada bukti-bukti petunjuk kuat yang mengarahkan bahwa korban diduga kuat tertembak,” ujar Ramandey, di Kumurkek, Maybrat. Sabtu, (22/8/2026) dikutip dari Suapa Papua.Com.

‎Puluhan selongsong peluru menjadi salah satu temuan utama. Selain selongsong peluru, sejumlah barang bukti yang ditemukan di TKP telah diamankan pihak kepolisian Maybrat untuk kepentingan penyelidikan lebih lanjut.

‎ia menambahkan, temuan di lapangan memperkuat dugaan korban memang mengalami penembakan ditemapt kejadian perkara. Namun, Komnas HAM belum menyimpulkan siapa pelaku maupun pihak yang harus bertanggungjawab, atas insiden ini.

‎“Ya, jelas ada bukti-bukti petunjuk. Ada bukti-bukti petunjuk kuat yang mengarahkan bahwa korban diduga kuat tertembak,” ujarnya.

semua temuan selongsong peluru membuat penyelidikan tak lagi hanya bertumpu pada kesaksian. Setiap barang bukti di TKP harus diuji dan ditempatkan dalam rangkaian fakta untuk mengetahui bagaimana peristiwa tersebut berlangsung.

Pemeriksaan secara ilmiah diperlukan untuk mencocokkan selongsong, proyektil jika ditemukan, kondisi TKP, posisi korban, arah tembakan, jarak tembak, serta dokumentasi medis korban. ‎Keterangan para saksi juga harus diuji silang dengan temuan material di lapangan, sehingga konstruksi peristiwa tak dibangun berdasarkan dugaan semata dan semua bukti ini perlu untuk diuji lebih lanjut.

‎‎Karena itu, pertanyaan terbesar dalam kasus ini, bukan lagi sekadar;

apakah terjadi penembakan?

tetapi siapa yang melepaskan tembakan?

dari mana tembakan berasal?

senjata apa yang digunakan?

serta bagaimana rangkaian tembakan tersebut mengenai tiga warga sipil ?

‎Komnas HAM juga meminta seluruh pihak memberikan ruang bagi aparat penegak hukum untuk melakukan penyelidikan secara menyeluruh dan tak terburu-buru menarik kesimpulan sebelum seluruh bukti diperiksa.

‎“Proses penyelidikan harus diberi ruang untuk mengungkap fakta secara utuh, sekaligus memastikan tidak ada bukti penting yang diabaikan,” katanya.

‎Temuan puluhan selongsong peluru dan barang bukti lainnya kini menjadi bagian penting dalam rangkaian fakta yang harus dibuka secara transparan. Pemeriksaan lanjutan diharapkan dapat menjelaskan hubungan antara bukti material di TKP dengan luka yang dialami para korban.

‎Komnas HAM memastikan kasus tersebut tetap berada dalam pemantauan lembaga tersebut.

‎“Komnas HAM tetap akan mengawal dan memantau kasus ini,” tegas Ramandey.

‎Dengan ditemukannya puluhan selongsong peluru, penyelidikan kasus ini kini memiliki bukti material yang harus dijawab secara forensik. Transparansi pemeriksaan menjadi penting agar seluruh fakta terungkap dan pertanggungjawaban hukum dapat ditentukan berdasarkan bukti, bukan dugaan.

Tiga Warga Sipil Jadi Korban

‎Dengan adanya temuan ini, semua pihak harap hargai proses hukum yang berlangsung dan Ikut menjaga keamanan bersama di wilayah Maybrat dan FORKOPIMDA harap fokus urus ketiga korban yang saat ini menjalani perawatan medis di RSUD Sele Be Solu, kota Sorong. Ketiga warga kampung Ainod, distrik Aifat masing-masing (1) Silvester Asem, (2) Anike Fatie, dan (3) Selviana Sory, saat ini sedang dirawat di Sele Be Solu. Dari pantauan Petarung.org Kondisi Silvester Asem sudah membaik, begitupun dengan ibu kandungnya Selviana Sorry yang juga sudah lalui dua kali operasi luka berat di bagian paha luar, tembus paha bagian dalam. Oerasi kedua sudah berjalan dengan baik Jumat kemarin. Sementara kondisi mama Anike Fati, juga perlahan sudah lalui masa kritis dan kini membaik namun perlu perhatian serius untuk THT dan yang penting itu pendampingan untuk korban soal pemulihan kesehatan dan juga soal trauma mereka.

Hal lain yang paling penting adalah soal siapa yang akan bertanggungjawab dengan biaya rumah sakit saat pengobatan ketiga korban, karena sampai dengan saat ini pemerintah provinsi belum memberikan bantuan dan juga pemerintah Kabupaten Maybrat juga belum menjenguk korban dan memberi bantuan. Karena BPJS tidak menangani luka yang di sebabkan sendiri seperti ini.

Dalam pantauan media ini, pasien atas nama Silvester Assem seharusnya sudah boleh pulang, namun sayang kepulangannya masi terkendala dengan biaya rumah sakit Rp 12 juta lebih. Sementara untuk biaya mama Anike dan Selviana sejak selasa kemarin, belum ada total rincian pembiayaan dari pihak rumah sakit. Mohon agar FORKOPIMDA Maybrat dan FORKOPIMDA Pemprov PBD lebih perhatian untuk pemulihan korban dan membantu biayai korban selama di rumah sakit, pemberian uang ratusan juta untuk masa aksi itu baik, namun jauh lebih baik jika uang itu pemerintah daerah gunakan untuk biayai korban selama di rumah sakit 12 hari terakhir, keluarga nyaris kewalahan dengan segala pengeluaran untuk tangani kondisi ketiga korban dan juga keluarga korban yang jaga.

Ketertiban Masyarakat Di Wilayah  Maybrat

Pasca penemuan fakta baru dan kondisi di lapangan, kami harap agar masyarakat di distrik aifat raya, ayamaru raya dan aitinyo raya, agar ikut menjaga ketertiban di masyarakat dan hindari semua informasi palsu, informasi hoax di media sosial sebagai propaganda dan kerja-kerja buzzer yang sengaja mendisinformasi terkait peristiwa di lapangan.

Dan pentingan hal ini bagi masyarakat untuk minimalisir penyebaran informasi Hox yang mengarah ke keamanan dan ketertiban masyarakat. dan harap untuk semua menahan diri agar tidak mengganggu proses hukum yang berlangsung.

Terima kasih untuk Bupati Maybrat yang sudah jiwa besar sebagai pemerintah daerah dan berupaya untuk cepat mengamnankan kondisi keamanan pasca peristiwa terjadi, untuk semua mahasiswa, untuk semua intelektual dan semua masyarakat bersama FORKOPIMDA agar menahan diri dan menghormati setiap proses hukum yang sedang berjalan, kondisi keamanan wilayah Maybrat, khususnya distrik Aifat Raya.

Kondisi Kamtipmas sangat penting untuk kita jaga keamanan bersama selama proses hukum berlangsung untuk mencari dan mengadili pelaku, sehingga kamtibmas di wilaayah ini harus kita jaga bersama selama proses hukum berlangsung. Mengingat, harga yang dibayar selama masyarakat mengungsi beberapa tahun terakhir, itu harga yang mahal. belum lagi dengan peristiwa ini, penting agar FORKOPIMDA hadir di masyarakat dan beri rasa aman agar trauma itu tidak terus tumbuh dalam ingatan setiap kita. (RB/RN/Catatan Redaksi )