Maybrat, Petarung.org- Darikejauhan, suara sorak-sorai itu terdengar seperti gelombang yang sedang mencari pantai. Suara-suara itu datang dari tepian lapangan, pecah di antara pepohonan, lalu memantul kembali ke rumah-rumah warga yang berdiri mengitari arena.
Anak-anak berlari membawa kegembiraan mereka sendiri. Orang-orang dewasa berdiri di pinggir lapangan. Sebagian menari, sebagian berteriak memberi semangat kepada tim kebanggaan mereka.
Hari itu, 15 Agsutus 2026, matahari telah meninggi. Cahayanya yang semula lembut perlahan berubah tajam. Hangatnya menusuk kulit, tetapi tak seorang pun tampak ingin meninggalkan lapangan.
Yubiah, Distrik Ayamaru Utara, Kabupaten Maybrat, hari itu bukan sekadar hari pertandingan. Ada sesuatu yang lebih tua daripada perlombaan. Lebih dalam daripada sekadar perebutan piala: sebuah ingatan sedang dipanggungkan kembali.
Usai membersihkan diri, kami bergegas menuju lapangan untuk menyaksikan pertandingan bola voli putra yang sebelumnya sempat tertunda. Riuh rendah penonton menyatu dengan bunyi sepatu yang menghentak tanah, teriakan pemain dan peluit wasit.
Tetapi setelah pertandingan voli, arena tidak langsung menjadi sepi. Sebaliknya, keramaian berpindah dari satu perlombaan ke perlombaan lainnya. Ada permainan modern seperti gim digital Ludo King.
Namun di antara hiruk-pikuk teknologi dan permainan kekinian itu, hadir sebuah permainan yang terasa seperti datang dari lorong waktu: Netok Aret. Dalam bahasa Maybrat, Netok Aret dikenal sebagai lomba tikam kayu, sebuah permainan adu ketangkasan dengan menggunakan tombak kayu.
Saya memandang arena itu beberapa saat. Ada sesuatu yang menggelitik ingatan. Saya kemudian berbisik kepada seorang saudara bernama Maikel Ijie.
“Maikel, kita bisa daftar Netok Aret?”
“Bisa, Om. Biaya daftarnya seratus ribu rupiah,” jawab Maikel sigap.
Saya menyerahkan uang itu tanpa banyak pertimbangan.
Nama tim pun kami daftarkan: Komunitas Peduli Tata Ruang, atau yang lebih dikenal dengan singkatan Petarung.
Nama itu mungkin terdengar modern. Sebuah komunitas yang berbicara tentang tata ruang, lingkungan, hutan, tanah, budaya dan masa depan. Tetapi hari itu kami justru masuk ke dalam sebuah arena yang berasal dari pengetahuan leluhur.
Di sisi lapangan, panitia pengawas, Joner Naa dan Nomensen Kareth, mulai sibuk. Mereka mengukur jarak. Arena diperiksa. Kayu yang menjadi sasaran ditata sedemikian rupa. Sederhana saja bentuk perlombaannya. Tetapi kesederhanaan itu menyimpan sejarah yang panjang.
Ketika Kayu Menjadi Tombak.
Netok Aret bukan sekadar permainan. Jauh sebelum besi hadir dalam kehidupan masyarakat Papua, hutan telah menyediakan banyak hal yang dibutuhkan manusia: pangan, obat-obatan, bahan bangunan, alat kerja, sekaligus senjata.
Kayu keras dipilih, dipotong, lalu diruncingkan hingga menjadi tombak. Dalam ingatan masyarakat Maybrat, jenis-jenis kayu yang keras seperti sikis, krere, atau sayoh dapat digunakan sebagai bahan tombak alami. Tombak tersebut kemudian diarahkan kepada sasaran berupa kayu yang lebih lunak seperti sewia, herum mutet, atau kau.
Bagi mata modern, sepotong kayu yang diruncingkan mungkin hanya terlihat sebagai benda sederhana. Tapi bagi masyarakat yang hidup dekat dengan hutan, sebuah benda tidak pernah sepenuhnya hanya menjadi benda. Sebagai hasil dari pengetahuan tentang jenis pohon, sifat kayu, kekuatan tangan, jarak, arah angin, sasaran, bahkan keadaan lingkungan.
Di sinilah Netok Aret memperoleh maknanya sebagai pengetahuan yang menjelma menjadi gerak tubuh. Ini adalah sejarah yang bergerak melalui keahlian dan ketangkasan tangan.
Penelitian tentang masyarakat Maybrat menunjukkan bahwa berburu secara tradisional tidak dapat dipisahkan dari pengetahuan ekologis masyarakat tentang satwa, habitat, tempat berburu dan alat yang digunakan.
Penelitian Pattiselanno dan Mentansan, misalnya, menunjukkan bahwa kearifan berburu masyarakat Maybrat memiliki kaitan dengan pemanfaatan satwa sekaligus keberlanjutan sumber daya alam. Penelitian yang lebih baru mengenai etnozoologi Maybrat juga mencatat penggunaan peralatan berburu tradisional untuk memenuhi kebutuhan subsisten masyarakat.
Di Distrik Moswaren, Kabupaten Sorong Selatan, penelitian tahun 2026 menemukan beragam satwa yang dimanfaatkan masyarakat dan menunjukkan bahwa praktik berburu tradisional masih menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Maybrat di wilayah ini.
Dengan demikian, Netok Aret seharusnya tidak dilihat semata sebagai olahraga tradisional. Namun yang terpenting, di dalamnya terdapat jejak hubungan manusia dengan hutan sehingga membentuk tradisi untuk bertahan hidup.
Bagi orang tua Maybrat pada masa lalu, kemampuan menombak bukanlah kemampuan yang lahir begitu saja. Tapi harus dilatih secara terus menerus.
Anak-anak belajar memperhatikan. Belajar menunggu. Belajar mengukur jarak. Belajar mengenali sasaran. Tapi yang paling penting: belajar mengendalikan tubuh dan pikiran. Sebab sebuah tombak yang dilempar tanpa konsentrasi hanya akan menjadi sebatang kayu yang kehilangan arah.
Dalam kehidupan sehari-hari, kemahiran itu mempunyai nilai praktis. Dapat menjadi bekal untuk berburu babi hutan, mengejar rusa, atau menangkap ikan. Pengetahuan berburu dengan alat sederhana dan bahan yang tersedia di alam merupakan bagian dari teknologi tradisional yang berkembang dari kebutuhan hidup masyarakat.
Kajian tentang pola pengelolaan ruang hutan masyarakat Ayamaru Timur Selatan juga memperlihatkan bahwa pengetahuan lokal memiliki hubungan erat dengan pengelolaan ruang, adat-istiadat dan keberlanjutan hutan.
Karena itu, Netok Aret sesungguhnya adalah bagian kecil dari sebuah sistem pengetahuan yang lebih luas. Lahir dari hutan, tumbuh bersama manusia dan diwariskan melalui tubuh.
Tane Boo dan Pertaruhan Nasib
Namun ada lapisan lain yang membuat Netok Aret jauh lebih dalam daripada sekadar keterampilan berburu. Dalam kisah yang diwariskan, kemampuan menombak juga memiliki kaitan dengan Tane Boo, sebuah ritual yang dilakukan sebelum perang suku pada masa lalu.
Penikaman kayu tidak sekadar menjadi latihan fisik. Tapi dapat menjadi semacam pembacaan tanda atas nasib seseorang sebelum menghadapi pertempuran. Misalnya, jika tombak menancap tepat pada sasaran, kemenangan dianggap berada di depan mata.
Sebaliknya, jika tombak meleset, menjadi pertanda bahwa kekalahan mungkin sedang menunggu. Benar atau tidaknya tafsir tersebut bagi manusia modern bukanlah inti persoalannya. Yang penting adalah bagaimana leluhur memberi makna kepada gerakan tubuh, benda alam dan peristiwa yang terjadi di sekitar mereka.
Di situlah kebudayaan bekerja memberikan manusia cara untuk membaca dunia. Maybrat sendiri memiliki sejarah kebudayaan yang panjang. Penelitian linguistik dan antropologi menunjukkan bahwa masyarakat Maybrat secara tradisional hidup melalui kombinasi berkebun, berburu dan mengumpulkan sumber pangan dari lingkungan hutan.
Pemukiman mereka dahulu tersebar, sebelum proses pembentukan kampung pada abad ke-20 mengubah pola permukiman tersebut. Bukti arkeologis yang dikutip dalam kajian tata bahasa Maybrat menunjukkan bahwa kawasan sekitar Danau Ayamaru telah dihuni manusia setidaknya sekitar 8.000 tahun lalu.
Karena itu ketika kita berbicara tentang Netok Aret, kita sebenarnya sedang berbicara tentang sesuatu yang jauh lebih panjang daripada umur sebuah perlombaan. Kita sedang menyentuh serpihan perjalanan manusia di Tanah Maybrat.
Jleb! Nama demi nama tim dipanggil panitia. Satu per satu peserta maju. Mereka berdiri di belakang garis yang telah ditentukan. Tangan menggenggam tombak. Mata mengarah kepada batang kayu yang menjadi sasaran.
Suasana yang semula riuh perlahan berubah menjadi tegang. Putaran pertama dimulai. Tombak melayang. Namun tak satu pun berhasil menancap tepat. Kesempatan kedua dibuka. Tim demi tim kembali mencoba. Tombak dilemparkan.
Sebagian hanya menyentuh sasaran. Sebagian jatuh ke tanah. Sebagian lagi melayang dan menepuk angin.
Kemudian nama kami dipanggil. Petarung. Dada kami berdesir. Kami melangkah maju. Tombak berada dalam genggaman. Di hadapan kami, kayu itu berdiri seperti sasaran kecil yang membawa beban sejarah panjang.
Saya menarik napas. Dalam satu tarikan napas, semua suara di sekitar seolah menjauh. Tidak ada sorak penonton. Tidak ada suara anak-anak. Tidak ada panas matahari. Yang tersisa hanya tangan, tombak, mata dan sasaran.
Lalu tombak dilepaskan. Jleb! Tombak menancap telak di tengah kayu. Sejenak suasana seperti berhenti. Kemudian tepuk tangan dan gelak tawa meledak.
Tiga tim berikutnya mencoba. Gagal. Sekali lagi. Gagal. Panitia kemudian meniup peluit panjang. Pertandingan berakhir. Petarung menjadi juara Netok Aret.
Kami saling memandang. Ada kegembiraan sederhana yang sulit dijelaskan. Bukan karena piala semata. Bukan pula karena uang pembinaan. Tetapi karena pada siang yang panas itu kami baru saja ikut memasuki sebuah ruang kecil kebudayaan Maybrat, sebuah ruang tempat masa lalu dan masa kini bertemu.
Dari Hutan ke Lapangan Upacara
Kemenangan itu sekaligus menutup rangkaian perlombaan dalam peringatan HUT ke-81 Republik Indonesia yang diselenggarakan oleh Distrik Ayamaru Utara.
Kursi-kursi mulai disusun. Tokoh-tokoh penting mengambil tempat. Kepala Distrik Ayamaru Utara hadir. Sekretaris Dewan Kabupaten Maybrat hadir mewakili Bupati. Kapolsek, Danramil dan perwakilan KNPI Distrik juga mengisi barisan depan.
Arena yang sebelumnya menjadi tempat orang berteriak dan tertawa kini berubah menjadi ruang seremoni. Dalam sambutannya, Kepala Distrik Ayamaru Utara menekankan pentingnya persatuan dan kesatuan untuk menyukseskan perayaan HUT RI.
Pesan yang hampir sama disampaikan Sekretaris Dewan: “Generasi Yumases harus tetap bersatu untuk membangun masa depan Yumases dan Kabupaten Maybrat yang kita cintai.”
Para pemenang berdiri tegap. Doa penutup dilantunkan. Suasana menjadi khidmat. Kemudian tibalah sesi penghargaan.
Kami sempat dipanggil mewakili KPU Kabupaten Maybrat untuk menyerahkan piala dan uang pembinaan kepada Juara I kategori Putri. Tak lama kemudian nama tim kami kembali dipanggil.
Petarung. Kami maju ke podium. Piala Netok Aret berpindah ke tangan kami. Di tengah sorak-sorai, saya tiba-tiba membayangkan sebuah perjalanan yang panjang: dari hutan ke lapangan, dari kayu keras menjadi tombak.
Dari latihan berburu menjadi permainan. Dari ritual leluhur menjadi perlombaan dalam perayaan kemerdekaan. Sebuah benda sederhana telah menempuh perjalanan zaman.
Dari momen perlombaan ini, saya menyadari bahwa hutan telah mengajari manusia. Ada pelajaran ekologis yang sering luput ketika kita berbicara mengenai budaya tradisional. Masyarakat adat tidak selalu melihat hutan sebagai kumpulan kayu yang menunggu ditebang.
Hutan adalah ruang hidup. Menyediakan pangan, bahan untuk membuat alat, obat-obatan, tempat berburu dan ruang spiritual. Hubungan seperti ini melahirkan pengetahuan yang tidak selalu tertulis dalam buku, tetapi hidup dalam ingatan manusia.
Penelitian tentang kearifan tradisional Maybrat bahkan menunjukkan bahwa pilihan alat berburu, lokasi berburu dan jenis satwa yang diburu dapat berkontribusi terhadap keberlanjutan satwa.
Artinya, kebudayaan dan ekologi bukan dua dunia yang terpisah. Keduanya tumbuh dari akar yang sama. Ketika hutan hilang, yang hilang bukan hanya pohon. Yang ikut menghilang adalah pengetahuan tentang pohon.
Hilang pula pengetahuan tentang jejak satwa, tempat berburu, bahan membuat tombak, sungai, rawa, danau, musim dan tanda-tanda alam. Pada akhirnya, yang terancam bukan hanya keanekaragaman hayati, melainkan juga keanekaragaman budaya.
Karena itu, melestarikan Netok Aret seharusnya tidak berhenti pada mengadakan lomba setiap peringatan kemerdekaan RI atau momen tertentu. Yang lebih penting adalah menjaga ekosistem pengetahuan yang melahirkannya.
Menjaga hutan. Menjaga bahasa. Menjaga cerita. Menjaga pengetahuan tentang kayu. Menjaga sungai dan danau. Memastikan generasi Maybrat masih mempunyai kesempatan untuk mengenal semua itu.
(*) Imanuel Tahrin memberi kontribusi bagi artikel ini. Dia adalah aktivis lingkungan, pemerhati budaya dan pendiri komunitas Peduli Tata Ruang (Petarung) Papua yang berbasis di Kampung Susumuk, Aifat, Maybrat. Tulisan ini pertama kali diterbitkan oleh Wenebuletin.





