Catatan Redaksi
Maybrat, Petarung.org- Mengakhiri Budaya Rujuk: Urgensi Peningkatan Fasilitas dan SDM Kesehatan di Kabupaten Maybrat, fenomena rujukan pasien yang terus-menerus terjadi di Kabupaten Maybrat telah menjadi beban berat bagi masyarakat setempat. Sejak dulu hingga saat ini, usia kabupaten Maybrat 16 Tahun. Warga Maybrat yang sakit terpaksa dirujuk ke fasilitas kesehatan di luar daerah, seperti Rumah Sakit Sorong Selatan, Kabupaten Sorong, hingga Kota Sorong.
Kondisi ini bukan tanpa alasan, melainkan berakar pada dua kendala utama di Rumah Sakit Pratama Kabupaten Maybrat, ketiadaan dokter spesialis dan minimnya fasilitas penunjang medis yang memadai.
Ketiadaan empat spesialis dasar yaitu Spesialis Kandungan (Obstetri dan Ginekologi), Bedah, Penyakit Dalam, dan Anak menjadi penghambat terbesar dalam pelayanan kesehatan lokal. Akibatnya, masyarakat tidak hanya menderita secara fisik akibat penyakit, tetapi juga terbebani secara ekonomi. Biaya transportasi, akomodasi, konsumsi, biaya rawat inap, hingga sewa tempat tinggal sementara di kota rujukan menjadi pengeluaran tambahan yang sangat memberatkan kantong warga Maybrat.
Solusi Jangka Panjang: Membangun SDM Lokal
Untuk memutus mata rantai rujukan ini, Pemerintah Daerah Kabupaten Maybrat perlu mengambil langkah strategis dalam pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM).
Salah satu solusi berkelanjutan adalah dengan memberikan beasiswa atau bantuan biaya Pendidikan, bagi putra-putri terbaik Maybrat yang telah berprofesi sebagai dokter umum. Mereka perlu didorong untuk melanjutkan studi, mengambil program pendidikan spesialis, khususnya di empat bidang dasar tersebut.
Dengan skema ikatan dinas atau komitmen kembali mengabdi, para dokter spesialis lokal ini dapat bekerja di Kabupaten Maybrat.
Kehadiran mereka akan memastikan bahwa, masyarakat tidak lagi perlu pergi jauh untuk mendapatkan penanganan medis dasar yang berkualitas.
Peningkatan Infrastruktur Menuju Akreditasi Tipe C dan B
Selain aspek SDM, peningkatan fasilitas fisik rumah sakit juga menjadi kunci utama. Saat ini, Rumah Sakit Pratama di Maybrat perlu berbenah diri untuk meningkatkan status akreditasinya, dari tipe Pratama menuju tipe C, dan berpotensi naik ke tipe B di masa depan.
Proses akreditasi memerlukan pemenuhan standar klasifikasi yang ketat, meliputi:
1.Sumber Daya Manusia: Ketersediaan dokter spesialis dan tenaga medis pendukung.
2.Fasilitas Penunjang Medis: Laboratorium yang lengkap, instalasi Radiologi, ruang bersalin yang layak, ruang bedah, serta layanan dokter gigi.
3.Fasilitas Pendukung Lainnya: Instalasi Gizi untuk pasien rawat inap dan sistem pengelolaan limbah medis (IPAL) yang memenuhi standar lingkungan.
Pembangunan dan penambahan fasilitas-fasilitas ini tidak hanya bertujuan untuk akreditasi, tetapi juga untuk mendukung proses diagnosis dan pengobatan yang lebih akurat sehingga mengurangi kebutuhan rujukan.
Kehendak Politik Adalah Kunci
Pada akhirnya, semua solusi teknis ini bermuara pada satu hal: kemauan politik (political will) dari Pemerintah Kabupaten Maybrat. Jika pemerintah serius ingin mengubah nasib kesehatan warganya dan menghentikan kerugian ekonomi akibat budaya rujukan, maka perbaikan harus dilakukan sekarang, bukan nanti.
Sudah terlalu lama masyarakat Maybrat menanggung beban ganda karena keterbatasan fasilitas kesehatan di daerah sendiri. Dengan membenahi kekurangan SDM melalui pendidikan spesialisasi lokal dan melengkapi infrastruktur rumah sakit, Kabupaten Maybrat dapat mewujudkan kemandirian kesehatan yang berkeadilan bagi seluruh warganya. mungkin saja catatan redaksi ini bisa salah namun untuk kepentingan kesehatan barangkali, ini kritik dan saran kepada Pemda Maybrat untuk berbenah ke depan. (CR1)





