Maybrat, Petarung.org- Sebuah laporan tertulis dengan pelapor Yefta Lengka (Aktivis Kemanusiaan dan anggota Tim Kemanusiaan) dikirimkan sebagai siaran pers. Seperti yang dikutip Petarung dari Jubi edisi (27 Desember 2025).
Laporan ditulis berdasarkan hasil investigasi Yayasan Keadilan dan Keutuhan Manusia Papua (YKKMP) bersama Tim Kemanusiaan selama sembilan hari di Kabupaten Nduga, Provinsi Papua Pegunungan. Tim Kemanusiaan dipimpin Theo Hesegem, direktur Eksekutif YKKMP.
Laporan menyebutkan, pada 10 Desember 2025, terjadi pemantauan yang dilakukan TNI (Tentara Nasional Indonesia) menggunakan tiga helikopter di langit Distrik Gearek, Kabupuaten Nduga tanpa sebab. “Masyarakat kebingungan dan bertanya-tanya. Rasa takut menyelimuti mereka.”
Esoknya, pada 11 Desember 2025, tiga helikopter dan tiga drone memantau di langit Distrik Gearek. Dari helikopter itu mendarat dan menurunkan aparat di Kampung Wene Worasosa.
“Sebelum itu, salah satu helikopter melakukan penembakan dari atas ke pinggiran rumah warga. Dan melemparkan mortir sebanyak tiga kali,” sebut laporan.
Melihat kejadian itu, masyarakat melarikan diri ke arah hutan Kali Mbunu untuk menyelamatkan diri. Mereka berlindung di hutan selama satu hari. Dari sana mereka melarikan diri ke Enggolok dan menginap di sana. Setelah itu melanjutkan perjalanan ke Terminal Wendama menuju ke Kenyam.
Mereka berjalan kaki ke Kampung Nggeni dan menjumpai rombongan Camat bersama para mahasiswa yang menggunakan enam mobil. Mereka sampai di Kenyam pada 14 Desember 2025. Di Kenyam mereka ditempatkan di SD Inpres Kenyam. Para pengungsi diberikan tiga ruangan untuk tinggal di sana.
Jumlah panggungsi secara keseluruhan mencapai 580 jiwa. Mereka yang mengungsi ke Kenyam 71 orang. Sedangkan penduduk lainnya mengungsi ke hutan dan kampung tetangga. Di antaranya mengungsi ke Kali Mbunu di dua tempat dengan jumlah 61 orang dan mereka belum kembali ke kampung mereka.
Pengungsi lain ada di tujuh kampung, yaitu Sanelak (49 orang, mereka sudah kembali 14 Desember 2025), Pasir Putih (13 orang, belum kembali), Engglok (1 orang, sudah kembali), Kampung Tribit (14 orang, belum kembali), Kampung Yunusugu (315 orang, sudah kembali), Kenyeam (71 orang, belum kembali), Nggebem (2 orang ke jemaat Bethel, belum kembali).
“Serangan dilakukan secara membabi buta. Tanpa ada perlawanan atau balasan dari warga sekitar,” sebut laporan.
“Masyarakat Kampung Wene Worasosa, Distrik Gearek saat itu bingung, tidak mengerti tentang apa yang sedang terjadi, begitu juga dengan kampung-kampung tetangga,” lanjut laporan.
Laporan menyebutkan, karena banyaknya bunyi helikopter dan tembakan, serta ledakan mortir, masyarakat setempat melarikan diri ke hutan sekitar.
“Dengan kondisi terpaksa. Tanpa membawa apapun. Tanpa membalas menggunakan apapun. Selamatkan diri adalah tujuan utama saat itu.”
Laporan Tim Kemanusiaan menjelaskan, saetelah Militer Indonesia (TNI) melakukan operasi selama satu hari satu malam, esoknya pukul 07:30 WIT mereka keluar dari Kampung Wene Worasosa, Distrik Gearek, Kabupaten Nduga. Mereka tidak kembali lagi esoknya hingga tim kemanusiaan turun ke lapangan untuk melakukan investigasi, pemantauan, dan pemasangan baliho.

Anak 7 tahun (Arestina Giban) tertembak di kepala
Dalam peristiwa itu, demikian laporan hasil investigasi Yayasan Keadilan dan Keutuhan Manusia Papua (YKKMP) bersama Tim Kemanusiaan, ditemukan anak berusia 7 tahun bernama Arestina Giban yang ditembak dari atas pesawat saat ibunya membawa ia lari ke hutan bersama anaknya yang pertama.
“Anak tersebut tertembak di bagian kepala (otak belakang tembus depan), sehingga kepala dan wajahnya hancur. Melihat anaknya tertembak dan jatuh dari bahunya, Ibunya berusaha menyelamatkan anak pertamanya dan sembunyikan di balik kuburan tetenya,” tulis laporan.
Setelah menyembunyikan anak pertamanya, ia tidak tahan untuk pergi mengambil jasad anaknya yang tertembak. Saat hendak menjenguk jasad anak yang terlentang, ia terkena serpihan ledakan mortir yang dijatuhkan dari helikopter di dekatnya saat itu.
Serpihan mortir tersebut tertancap di paha belakang sebelah kanan. Karena terkena tembakan, ia tidak bisa menjenguk jasad anaknya dan ia hanya membaringkan tubuhnya di jalan dan menutup matanya, serta menutup tubuhnya menggunakan kain. Lalu ia melarikan diri dan bersembunyi tidak jauh dari rumahnya.
“Saat itu pasukan yang diturunkan melakukan operasi dan menghancurkan semua rumah warga. Salah satu aparat TNI yang melewati jasad korban menendang jasad itu dan jatuh ke dalam parit. Hal itu dilakukan saat Mama dan anak pertamanya sedang melihat dari persembunyiannya,” sebut laporan.
Karena tembakan yang sangat tidak terkontrol serta pantauan drone yang masif, mereka melarikan diri ke arah hutan dan menjauh dari pemukiman.
Jasad Arestina Giban ‘dihilangkan paksa’
Setelah peristiwa itu terjadi, laporan menyebutkan, sehari kemudian beberapa orang melakukan pencarian korban Arestina Giban. Namun tidak ditemukan di tempat kejadian perkara. Selamat tiga hari mereka telah melakukan pencarian korban, tetap tidak ditemukan.
“Hingga saat ini Tim Kemanusiaan yang melakukan investigasi tidak dapat menemukan [jasad korban]. Tim sempat menemukan indikasi penguburan jasad di lokasi sekitar, karena adanya bau amis. Namun tim meragukan untuk membongkar tempat tersebut karena dugaan militer Indonesia memasang ranjau dengan jasad anak Arestina Giban. Dengan demikian Tim Kemanusiaan meninggal TKP dan keluar.”
Ibu korban disebutkan masih dalam proses pemulihan dan masih berada di pengungsian karena rumahnya sudah rusak parah.
Elius Baye (35 tahun) meninggal dunia di pengungsian
Setelah dua hari mengungsi, Elius Baye, kepala keluarga yang memiliki seorang anak meninggal di pengungsian di Kampung Yunusugu, Distrik Tomor, Kabupaten Asmat.
Sebelumnya, Elius Baye sakit di kampungnya. Namun karena adanya penyerangan, ia mengungsi menyelamatkan keluarganya. Sehari di pengungsian, Baye meninggal dunia. (Jubi.SB/CR1)




