Berikut adalah legenda rakyat Suku Maybrat mengenai asal-usul terbentuknya Danau Ayamaru di Kabupaten Maybrat, Papua Barat Daya.
Pada zaman dahulu, hidup seorang pemburu gagah bernama Chrumbles dari wilayah Woman (dekat Pegunungan Mrar). Suatu hari, Chrumbles pergi berburu ke daerah lembah bagian selatan perburuan di lembah Aves dengan membawa tombak, parang, serta anjing pemburu kesayangannya.
Ketika berjalan sekitar empat kilometer dan tiba di kawasan Aves, anjingnya tiba-tiba menggonggong keras sambil menggali tanah dan tumpukan batu. Chrumbles yang penasaran kemudian membantu anjingnya membongkar bebatuan tersebut.
Semakin dalam tanah digali, Chrumbles sangat terkejut karena menemukan pasir laut dan pecahan kulit kerang/siput laut di tengah pegunungan. Rasa penasaran membuat Chrumbles terus menggali. Tiba-tiba, seekor musang hitam melompat keluar dari dalam lubang batu dan berlari kencang, itulah penemuan misterius dan kemunculan raja air
Anjing pemburu dan Chrumbles langsung mengejar musang tersebut. Namun, tanpa mereka sadari, galian itu telah mengusik tempat peristirahatan Raja Air. Seketika itu juga, semburan air yang sangat deras keluar dari lubang galian dikenal sebagai Maru Mana (Kepala Air Danau) dan mengejar mereka.
Air raksasa itu terus mengalir mengikuti kejaran Chrumbles, anjing, dan musang hingga melintasi lembah menuju kawasan Yukase dan Mapura. Di batas akhir kejaran, air tersebut menenggelamkan anjing dan musang. Luapan air yang dahsyat itu terus meluas menutupi daratan rendah hingga membentuk danau raksasa yang kini dinamai Danau Ayamaru.
—-
Melihat danau baru yang sangat luas dan dalam, Chrumbles sempat heran dan tertegun. Saat mengamati tepi danau, ia melihat sekelompok bebek danau terapung dan berenang dengan lincah. Kejadian itu memberi Chrumbles punya ide untuk membuat benda seperti bebek itu terinspirasi bebek danau Chrumbles kemudian ciptakan perahu dan dayung.
Chrumbles menebang pohon besar dan memahat kayunya menyerupai bentuk burung/bebek danau satu sisinya dibuat lancip membentuk kepala burung agar dapat terapung stabil di atas air sehingga terciptalah perahu.
Ketika mencoba naik ke atas perahu, ia awalnya bingung karena belum memiliki alat mendayung. Setelah mengamati bentuk kaki bebek danau yang lebar, Chrumbles memahat kayu dengan bagian ujung bawah yang melebar sebagai alat penggayu.
Hingga Kini penemuan perahu dan teknik pembuatan penggayu oleh Chrumbles inilah yang menjadi asal-usul perahu tradisional dan alat dayung yang digunakan oleh masyarakat nelayan di sekitar Danau Ayamaru hingga saat ini. Wilayah asal Chrumbles kini menjadi Distrik Ayamaru Jaya, yang meliputi Kampung Adoh, Woman, Segior, dan Orsu di Kabupaten Maybrat. (*)
Catatan: cerita lisan dari mama Levi, ditulis kembali oleh Petarung.org untuk kepentingan informasi cerita rakyat di wilayah Ayamaru Kabupaten Maybrat, jika ada yang salah dari cerita ini mohon koreksi untuk kepentingan edukasi bersama.





