Sorong, Petarung.org- Melihat potret ruang hidup pekerjaan Orang Asli Papua (OAP) sebagai penjual jasa air bersih keliling, dengan gerobak dorong. Salah satu pekerjaan yang dulu digeluti OAP di kota ini, pekerjaan yang dulu laris dimasanya, kini perlahan mulai hilang oleh kemajuan dan perkembangan pembangunan kota.
Rahman Kemiyore pria paru baya asal Sorong Selatan dari Sub suku Kokoda, pemilik gerobak kayu yang selalu setia berjalan kaki, mendorong gerobaknya berjalan tawar jasa air bersih keliling kompleks pasar berama ini, mengaku ia sudah di temani gerobak ini selama 30 tahun terakhir, untuk jualan jasa air bersih keliling.
“Gerobak ini lama temani saya, muat air bersih 250 liter dan dalam satu gerobak kayu biasa muat 10 gen berisi air bersih, dengan ukuran gennya 25 liter. Gerobak ini, kami buat sendiri dan gen kami beli yang gratis itu hanya air bersihnya,” ujar Kemiyore.
Ia menjelaskan, untuk air bersih di Kota Sorong, kami dulu punya dua sumber mata air di dalam kompleks padiman (Pasar Bersama) ada satu sumur ke arah kali remu. Dulu ada pohon manga besar di sana di samping sumur, namun lokasi itu sudah banyak pemukiman warga dan air disana sudah tidak kami gunakan untuk jualan air bersih, karena sudah masuk di daerah pemukiman.
Hari ini, mata air bersih yang kami pake hanya mata air di samping jalan utama yang berhadapan dengan SMA Negeri 3 Kota Sorong. Untuk kualitas air disini sangat bersih dan kami masi ambil gratis.
“Untuk air bersih kami tidak jual per gen, namun kami jual per gerobak dan satu gerobak berisi 10 gen/250 liter, kami jual 10 gen dengan harga murah Rp 30.000 (Tiga Puluh Ribu Rupiah),” ungkapnya.
Untuk waktu jualan, kami sudah datang pagi jam 08:00 WIT dan mulai timba untuk isi air dan dorong cari pelanggan. Pelanggang kami paling banyak di sekitar Gor, Pasar Bersama dan Pasar Remu, kita jualan sampai sore hari baru pulang.
“Untuk pendapatan perhari kami bisa Rp 150.000 kalo banyak yang pake jasa kami, biasa pendapatan kami bisa Rp 300.000 perhari,” ujarnya.

Ia menambahkan, pedapatan itu kita pake untuk beli makan siang, air minum dan pake untuk ongkos taksi pulang ke Kompleks Klalin, Kabupaten Sorong, sisahnya baru kita sisihkan untuk kepentingan rumah tangga.
“Ini pekerjaan kami dari dulu, waktu kami masih tinggal di kompleks lapangan pata hati, hari ini lokasi rumah kami sudah dijadikan landasan pacu Bandara Internasional Domine Eduar Osok, sebelum kami direlokasi ke Kabupaten Sorong oleh pemerintah, kami hidup dari jualan air bersih” ujarnya.
Ia menjelaskan, awalnya kami jualan, plastik di pasar ikan dan juga kami gunakan jasa bawa barang manual tukang pikul di pasar, namun dua pekerjaan ini sudah diambil alih oleh orang lain, kita terpaksa bertahan hidup dengan kerja halal lainnya dengan jualan air bersih dengan gerobak keliling lingkungan pasar.
Pekerjaan ini awalnya diminati oleh banyak teman-teman kami, namun tidak ada yang bertahan karena pendapatan kita menurun, saat pelanggan sudah gunakan jasa air bersih dengan trek tengki air kecil harga Rp 150.000 dan untuk ukuran tengki besar Rp 300.000 untuk ukuran tengki besar, jadi semua tidak bertahan dan mereka cari pekerjaan yang lain.
“Kami yang masi bertahan jualan air bersih keliling pasar di Kota Sorong, hanya sisa kita 2 orang saja, saya dan satu teman saya juga dari Kokoda” ujarnya.
Rahman Kemiyore, pria asal Imeko dari Sub suku Kokoda Sorong Selatan yang berdomisili di Kabupten Sorong, kepada Petarung.org disela-sela pekerjaanya Sabtu, (29/11/2025) mengatakan ia dengan sabar jalani pekerjaan ini demi menafkahi keluarganya. Pria paru baya yang sudah punya 4 orang anak ini, mengaku dari pendapatan jual jasa air keliling di pasar, pendapatannya tidak banyak namun cukup untuk nafkahi keluarga. Apalagi anak saya yang tua dan nomor dua sekarang duduk di bangku SMA, yang nomor tiga di SMP dan SD mau tidak mau saya haru giat untuk bekerja menunjang keperluan mereka.
“Pendapatan perbulan saya dari jualan air bersih keliling memang tidak seberapa, namun pendapatan ini saya syukuri karena cukup untuk keperluan makan minum dan pendidikan anak-anak terutama untuk ongkos taksi dan jajan saat ke sekolah” ujar Rahman.
Ia menjelaskan, Kota Sorong ini terus berkembang kita yang masi bertahan kerja jualan air bersih dengan dorong gerobak keliling, terus tersingkir yang masi bertahan kerja ini hanya 2 orang, untuk tetap laris harga air kami terpaksa bertahan di harga murah 30.000 per gerobak dan jasa kita hari ini tegantung pelanggan saja, jika mereka beralih gunakan jasa air tengki kemungkinan kita juga gulung tikar.
“Dulu kita jualan sampai ke Pasar Remu namun untuk beberapa tahun terakhir pelanggan kita, sudah mulai berkurang dari pasar Remu, hari ini hanya di pasar Bersama dan sekitar gor yang masi pake jasa kita, jadi kita hanya jualan disekitar area ini,” ujarnya. (CR1)


