Oleh: Andy Tagihuma (*)

Vanuatu dan Sebagai Diplomasi

Di sinilah perjalanan Black Brothers mencapai titik paling rumit secara intelektual dan paling menyakitkan secara personal. Kedatangan Black Brothers ke Vanuatu pada 1983, atas undangan Father Walter Lini dan Vanua’aku Pati, bukan tur musik biasa. Mereka hadir sebagai bagian dari kampanye penggalangan dukungan politik untuk Papua Barat — dan berhasil: dana sebesar 250 ribu dolar Amerika dikumpulkan untuk Vanua’aku Pati. Setelah partai itu menang pemilu, Andy dan Black Brothers hijrah ke Vanuatu pada awal 1984 dan secara terbuka menjalankan kampanye OPM.

Keputusan itu mencerminkan keyakinan Andy yang konsisten: musik adalah jembatan, dan jembatan dapat digunakan untuk menyeberangkan lebih dari sekadar lagu. Tapi Vanuatu juga mengajarkan pelajaran yang lebih keras: jembatan yang dibangun di atas politik partisan bisa runtuh ketika politik itu sendiri bergolak.

Ketika Vanua’aku Pati mengalami perpecahan internal pada 1988, Black Brothers ikut terseret. Tudingan pelanggaran imigrasi dan keterlibatan dalam kerusuhan 16 Mei 1988 menimpa mereka. Menurut keterangan yang dikumpulkan dalam catatan sejarah perjalanan mereka, ketika peristiwa terjadi, sebagian personel sedang di supermarket membeli minuman ringan bukan di lokasi kerusuhan. Tapi dalam logika krisis politik, kehadiran fisik di negara yang sedang bergolak sudah cukup menjadi alasan. Andy Ayamiseba, Wellem Ayamiseba, Chris Ayamiseba, August Rumwaropen, dan Stevie Mambor ditangkap. Delapan belas orang Papua, termasuk anggota keluarga, dideportasi. Anak-anak mereka dikeluarkan dari sekolah. Album Border Crossers yang didedikasikan untuk para pengungsi Papua Barat yang menyeberang ke PNG masuk daftar hitam.

Ada paradoks yang perlu dicatat di sini: musik yang bermula sebagai sarana kebudayaan, yang justru berhasil karena sifatnya yang melampaui batas-batas politik, akhirnya menjadi korban dari dinamika politik yang ia coba navigasi. Ketika Black Brothers memasuki arena politik secara langsung bukan lagi sebagai seniman yang secara kebetulan membawa pesan politik, melainkan sebagai bagian dari mesin kampanye sebuah partai mereka kehilangan perlindungan yang selama ini diberikan oleh status artistik mereka.

Hal ini bukan berarti keputusan Andy salah. Dalam situasi di mana saluran politik resmi tertutup bagi Papua Barat, setiap ruang yang terbuka harus dimanfaatkan. Tapi ia memperlihatkan batas kemampuan musik sebagai diplomasi: musik dapat membangun simpati, membentuk solidaritas, dan membuka percakapan yang tidak bisa dibuka oleh diplomasi formal. Yang tidak bisa dilakukan musik adalah menggantikan institusi politik yang memiliki mekanisme akuntabilitas, ketahanan terhadap guncangan internal, dan basis material yang tidak bergantung pada satu orang atau satu kelompok.

Pemerintah Australia akhirnya menerima mereka di Canberra pada November 1988 dengan visa enam bulan. Pada 8 Juli 1989, Black Brothers tampil dalam konser “A Rock for Land Rights” di Sydney bersama Jimmy Barnes dan Paul Kelly bersama Coloured Girls. Pada 2002, Pemerintah Vanuatu melakukan rekonsiliasi adat permohonan maaf atas deportasi 1988, ditandai dengan ritual “bunuh babi”. Sebuah akhir yang lebih bersih dari yang bisa dibayangkan di tengah-tengah krisis Vanuatu 1988. Tapi tidak semua yang hilang dalam empat tahun itu bisa dikembalikan melalui upacara adat.

Arsip yang Belum Selesai Dibaca

Salah satu aspek yang paling jarang dianalisis dari warisan Black Brothers adalah dimensi arsipnya. Lagu-lagu mereka dari yang direkam di Studio Irama Tara Jakarta, dari sesi di fasilitas CHM Port Moresby, hingga album-album yang diproduksi di Belanda merupakan arsip suara dari dua dekade perjalanan Papua dalam mengarungi dunia modern. Arsip itu menyimpan lebih dari melodi dan lirik; ia menyimpan pilihan bahasa, pilihan instrumen, pilihan panggung, dan pilihan aransemen yang semuanya mencerminkan negosiasi terus-menerus antara identitas Papua dan tuntutan pasar.

Ketika Hengky MS menyatakan bahwa musik kampung mereka lebih menghentak daripada banyak musik Barat bahwa gitar, keyboard, dan trumpet hanya tambahan modern ia sedang merumuskan sesuatu yang penting secara estetika: bahwa modernitas bukan bergerak dari tradisi ke kontemporer secara linier, melainkan bahwa tradisi dan kontemporer bisa hadir bersamaan dalam satu nada, satu ritme, satu performance. Dalam teori yang dikembangkan oleh Paul Gilroy dalam The Black Atlantic (1993) yang menganalisis bagaimana musik Afrika-Amerika menjadi medium diaspora dan perlawanan kultural lintas samudra — fenomena Black Brothers memiliki resonansi yang kuat, meskipun konteksnya berbeda secara signifikan.

Perbedaan konteks itu justru penting untuk diperhatikan: tidak seperti diaspora Afrika-Amerika yang kehilangan akses ke tanah asal, orang Papua Barat yang menyeberang ke PNG atau bermigrasi ke Belanda melakukan itu dalam situasi di mana tanah asal masih ada, masih dapat diklaim, dan masih menjadi objek perjuangan politik yang hidup. Ini berarti musik Black Brothers tidak hanya bekerja sebagai memori diaspora, tetapi juga sebagai instrumen perjuangan yang memiliki tujuan konkret: pengakuan, kemerdekaan, dan hak untuk kembali.

Seberapa jauh musik bisa memikul beban sebesar itu itulah pertanyaan yang tidak diselesaikan oleh perjalanan Black Brothers, dan mungkin memang tidak bisa diselesaikan oleh siapa pun.

Rekonsiliasi adat di Vanuatu pada 2002 memberikan penutupan simbolis yang penting. Tapi ia juga menggarisbawahi sesuatu yang lebih mendalam tentang keterbatasan waktu: bahwa pengakuan sering datang terlambat, bahwa keadilan kultural bahkan ketika akhirnya tiba datang setelah pengorbanan yang tidak seharusnya diperlukan.

Black Brothers tidak meminta Papua untuk dilahirkan sebagai tempat yang harus diperjuangkan keberadaannya. Mereka lahir di sana, memainkan musik dari sana, dan membawa suara itu ke tempat-tempat yang tidak selalu siap mendengarnya. Bahwa mereka berhasil dan bahwa keberhasilan itu harus dibayar dengan deportasi, blacklist album, dan anak-anak yang dikeluarkan dari sekolah adalah dua hal yang sama-sama benar dan tidak dapat dipisahkan satu dari yang lain.

Pertanyaan yang lebih sulit adalah ini: apakah musik dengan segala kapasitasnya untuk membangun solidaritas lintas batas sudah cukup? Dan jika belum, apa lagi yang dibutuhkan, dan siapa yang seharusnya menanggung bebannya?

Selesai

Sumber utama:

Manggupre Saba, Andy Ayamiseba: Idealisme, Dedikasi dan Konsistensi

(Biro Informasi dan Dokumentasi WPNCL, 2020)

Referensi pendukung:

Frantz Fanon, The Wretched of the Earth (Grove Press, 1961); Paul Gilroy, The Black Atlantic: Modernity and Double Consciousness (Harvard University Press, 1993); John RG Taylor, Indonesia’s Forgotten War: The Hidden History of East Timor (Zed Books, 1991).

Tulisan ini dikutip dari http: suarapapua.com/2026/07/06/black-brothers-musik-identitas-papua-dan-diplomasi-budaya-melanesia-ii

(*) Penulis Adalah Pengasuh Rubrik Jendela Papua di Suara Papua.