Catatan Petarung

Di Semenanjung Kepala Burung (Vogelkop), Provinsi Papua Barat Daya, terbentang sebuah danau yang bukan hanya sumber penghidupan, tetapi juga rumah bagi keanekaragaman hayati yang dikenal hingga ke mancanegara. Danau Ayamaru danau yang terletak di Distrik Ayamaru, Kabupaten Maybrat, ini menjadi danau terbesar di kawasan tersebut setelah danau Uter, sekaligus menjadi latar kehidupan bagi masyarakat Maybrat dari sub suku Ayamaru yang telah menghuninya selama berabad-abad dan Masyarakat tumbuh tepat di tepi danau ini.

Danau Ayamaru sebenarnya bukan merupakan satu danau besar, melainkan kompleks beberapa danau kecil yang saling berhubungan, meliputi bagian Ayamaru. Danau ini terletak di dataran tinggi di Distrik Ayamaru Kabupaten Maybrat sekitar 216 kilometer diatas permukaan laut. sehingga udara di sekitarnya terasa sejuk. Secara geografis, danau ini dangkal dan dikelilingi perbukitan karst (kapur). Danau seluas 980 Hektare ini memeliki kedalaman maksimum 6 meter terbentang membelah Kampung Segior, Woman, Mefkajem, Kartapura, Mapura, Yukase, Karetubun dan Kampung Jitmau dan danau ini bermuara di Kali Kais, Distrik Inanawatan, Kabupaten Sorong Selatan dan sebagian masuk Kabupaten Teluk Bintuni Danau ini berada di hamparan karst gamping atau kapur. (Chrismadha & Fakhrudin, 2014).

Akses menuju danau ini dapat ditempuh dari Kota Sorong, melalui jalur darat kurang lebih 216 Kilometer, sekitar 3-4 jam perjalanan, atau melalui penerbangan pesawat kecil menuju bandara Ayamaru 30 Menit. Danau Ayamaru memiliki tempat istimewa dalam sejarah ilmu pengetahuan dunia. Koleksi ikhtiologis Marinus Boeseman (1954-1955) serta ekspedisi dan survei para ahli pada era 1970-an antara lain oleh Gerald Allen membuka mata dunia akan keunikan iktiofauna danau ini. Pada masa itu, kondisi danau masih relatif alami, airnya jernih dengan vegetasi akuatik yang subur, hutan di sekitarnya masih utuh, dan populasi ikan endemik melimpah.

Dari danau inilah dikenal beberapa spesies endemik, antara lain;

Pertama Boesemani Rainbow atau Melanotaenia boesemani (ikan pelangi Boeseman), spesies ikonik yang dideskripsikan secara formal oleh Gerald Allen dan Norbert Cross (1980) berdasarkan sampel ekspedisi 1970-an dan koleksi Boeseman. Ikan ini sangat populer di kalangan penghobi akuarium internasional.

Kedua, Melanotaenia ajamaruensis ikan pelangi endemik lainnya.

Ketiga, Melanotaenia fasinensis, spesies pelangi dari wilayah Maybrat.

Keempat, Glossogobius hoesei ikan gobi endemik danau Ayamaru dan

Kelima, Cherax boesemani, udang endemik yang juga menjadi kekhasan Danau Ayamaru.

Jangan lupa, kepopuleran Melanotaenia boesemani di dunia akuarium menjadikan Danau Ayamaru dikenal secara luas, sekaligus menempatkan Papua sebagai pusat keanekaragaman ikan pelangi dunia.

Penduduk asli di sekitar danau adalah suku Maybrat (Mai Brat), yang juga dikenal sebagai sub suku Ayamaru, di belahan danau Yumasssess dengan bahasa Maybrat-Ayamaru sebagai bahasa sehari-hari. Nama “Ayamaru” sendiri berasal dari bahasa setempat. Yakni Aya (Air) dan Maru (Danau).

Kehidupan sosial masyarakat Maybrat memiliki sejumlah kekhasan seperti sistem kekerabatan matrilineal, sehingga perempuan memiliki posisi penting dalam pewarisan dan urusan adat. Rumah tradisional khas daerah ini disebut dengan bentuk atap yang unik. Mayoritas penduduk Ayamaru beragama Kristen, dan gereja menjadi pusat kegiatan sosial masyarakat. Masyarakat memiliki legenda dan cerita rakyat tentang asal-usul danau yang diwariskan turun-temurun, menunjukkan hubungan spiritual yang erat antara masyarakat dan danau.

Kehidupan ekonomi masyarakat di sekitar Danau Ayamaru sangat bergantung pada keberadaan danau, yaitu Perikanan kegiatan utama masyarakat tepi danau. Ikan yang banyak ditangkap antara lain mujair, nila, mas, lele, dan sidat/belut. Ikan dijual segar atau diolah dan sebagian dipasarkan hingga Sorong. Danau juga berfungsi sebagai jalur transportasi air antar kampung. Pertanian masyarakat menanam ubi jalar, keladi, jagung, dan sayuran di kebun-kebun keluarga. Peternakan  babi dan ayam dipelihara sebagai sumber pangan sekaligus sarat makna dalam mahar adat dan upacara. Serta Pekerjaan formal dan perdagangan karena Ayamaru adalah ibu kota kabupaten, banyak penduduk bekerja sebagai ASN, guru, buruh kecil, serta pedagang di pasar.

Masyarakat hidup dalam kampung-kampung di sepanjang tepi danau dengan ikatan kekerabatan yang kuat. Gotong royong, kegiatan gereja, dan upacara adat menjadi perekat sosial yang menjaga keharmonisan ada pula potensi wisata lokal.

Di balik kekayaannya, Danau Ayamaru dan masyarakatnya menghadapi sejumlah persoalan serius, Penurunan biodiversitas sejak beberapa dekade terakhir, populasi ikan endemik menurun drastis akibat introduksi spesies invasif seperti Oreochromis mossambicus (mujair). Sedimentasi, serta perubahan penggunaan lahan di sekitar danau. Eceng gondok penyebaran gulma air ini mengganggu ekosistem dan perahu nelayan.

Fluktuasi air, pada musim kemarau panjang, permukaan danau menyusut drastis sehingga memengaruhi hasil tangkapan ikan. Sedimentasi dan sampah yang terus masuk ke danau. Infrastruktur terbatas, pasokan listrik, jalan, serta layanan kesehatan dan pendidikan masih terbatas dibanding kota besar dan Akses pasar sentral yang tidak ada dan pasar dadakan yang jauh, membuat Kota Sorong menjadi pintu utama pemasaran dengan jarak tempuh beberapa jam perjalanan darat.

Danau Ayamaru sesungguhnya menyimpan potensi besar sebagai destinasi ekowisata dan wisata budaya Maybrat, dengan lanskap perbukitan karst, keunikan ikan pelangi endemik, serta kehidupan adat yang masih hidup, namun potensi ini belum dikembangkan secara optimal oleh pemerintah daerah. Upaya pelestarian danau, baik melalui rehabilitasi habitat ikan endemik, pengendalian spesies invasif, maupun penataan kawasan tepi danau, menjadi kunci agar warisan alam dan budaya ini dapat dinikmati generasi mendatang.

Danau Ayamaru adalah cermin hubungan timbal balik antara manusia dan alam. Bagi masyarakat Maybrat, danau ini adalah sumber penghidupan, arena kehidupan sosial dan bagian dari jati diri budaya. Bagi dunia, danau ini adalah laboratorium alam yang melahirkan spesies-spesies unik yang tak ditemukan di tempat lain. Menjaga Danau Ayamaru berarti menjaga keberlanjutan hidup masyarakat Maybrat sekaligus melestarikan kekayaan hayati Indonesia yang diakui dunia. Entah masyarakat bisa menjaga atau tidak, kembali ke kesadaran bersama setiap kita berhenti buang sampah seenaknya di danau dan kembali ke niat baik pemerintah untuk menjaga sebagai destinasi wisata dan sumber penghidupan bagi mayarakat Ayamaru dan masyarakat Maybrat sebagai warisan bagi anak cucu yang akan datang. (*)