Distrik Aifat Selatan terbentang di jantung Kabupaten Maybrat, Provinsi Papua Barat Daya, dengan ibukota distrik berada di Kampung Kisor dan mencakup wilayah seluas 408,12 km². Wilayah ini awalnya menaungi enam kampung utama Kisor, Imsun, Sorry, Sabah, Tahsimara, dan Fuog. Sebelum berkembang melalui pemekaran kampung-kampung seperti Awet Main, Fuog Selatan, Hora Iek, Kaitana, Krus, Roma, Same Rakator, Tolak, dan Yeek.

Jauh dari ramainya hiruk-pikuk perkotaan, hembusan angin pegunungan Maybrat berhembus menembus rimbunnya pohon pinang hutan serta dahan dan ranting pohon rawiah, aef, dan fangges yang bergerak seirama menghadirkan kesunyian yang kian pekat.

Di salah satu sudut kantor distrik, jarum jam dinding telah menunjukkan pukul sembilan pagi, namun kursi-kursi tunggu di luar ruangan masih tampak kosong. Di dalam ruang kerja yang sederhana, Sekretaris Distrik Aifat Selatan duduk rapi di balik meja kayu dengan seragam dinas yang lengkap dengan atribut keabadian seorang abdi negara, sementara laptop di hadapannya menyala menampilkan beberapa laporan administrasi.

Pandangannya sesekali beralih ke arah pintu, menantikan kehadiran warga yang mungkin sedang menempuh perjalanan jauh dari kampung-kampung tetangga untuk mengurus keperluan mereka. Hingga siang menjelang, belum ada satu pun warga yang datang melangkah masuk ke ruangan yang sunyi ditemani deru angin pegunungan Maybrat yang menembus masuk melalui sela jendela kaca, seakan menemani keheningan di kantor distrik.

Meski ruangan tampak hening tanpa antrean, tidak ada sedikit pun rasa jenuh atau kecewa di wajah sang Sekretaris Distrik. Bagi beliau, melayani masyarakat bukan sekadar menunggu warga datang membawa berkas, melainkan wujud kesiapan mental untuk selalu ada kapan pun masyarakat membutuhkannya.

Kesunyian ruangan tidak menyurutkan api semangat di dalam dadanya karena ia menyadari bahwa tugas memajukan daerah dimulai dari ketekunan di ruang-ruang kerja yang sunyi, jauh dari hiruk-pikuk kota besar. Dengan senyum tulus dan hati yang ikhlas, ia merapikan berkas-berkas di mejanya, siap menyambut siapa saja yang nantinya datang. Pengabdian sejati tidak diukur dari seberapa ramai ruangan penuh antrean, melainkan dari seberapa tulus seseorang tetap setia menjaga amanah demi mewujudkan semangat itulah makna pengabdian dan kesetiaan sejati untuk negeri Maybrat tercinta dan lebih khusus negeri dan kampung halamanku di Aifat Selatan, untuk tetap jaya.

—–

ini tulisan pribadi penulis yang diterima oleh media ini, di dikirim melalui pesan whatsaap petarung