Oleh: Linda Imbiri (*)

Setiap penyelenggaraan event besar hampir selalu menghadirkan dua sisi, yakni sisi pro dan kontra dan Itu sesuatu yang wajar dalam kehidupan demokrasi. Perbedaan pandangan, bukan berarti kegagalan, tetapi bisa direfleksi menjadi ruang evaluasi untuk melihat sejauh mana sebuah kegiatan mampu menjawab kebutuhan dan harapan masyarakat.

Sebuah event tentu lahir dari visi, misi, serta target yang ingin dicapai. Ada tujuan ekonomi, tujuan sosial, tujuan budaya, pariwisata, investasi, tujuan  lingkungan maupun kepentingan strategis lainnya.

Namun, keberhasilan sebuah event tidak cukup hanya diukur dari kemeriahan acara, jumlah peserta, atau eksposur media. Ada satu aspek yang sering kali justru menentukan keberlanjutan sebuah kegiatan Adalah Seberapa baik publik memahami apa yang sedang dilakukan? Mengapa kegiatan itu dilakukan, dan apa manfaatnya bagi rakyat?

Di sinilah pentingnya sosialisasi, transparansi, dan komunikasi publik.

Komunikasi Publik Bukan Sekadar Publikasi

Komunikasi publik bukan sekadar publikasi dalam perspektif tata kelola pemerintahan dan komunikasi publik, masyarakat bukan hanya objek yang menerima informasi.

Mereka adalah stakeholder yang memiliki kepentingan terhadap setiap kebijakan atau kegiatan yang berdampak pada ruang hidup mereka yang dilakukan oleh pemerintah.

Ketika sebuah kegiatan menyentuh aspek yang bersifat esensial terutama sosial, ekonomi, dan keamanan masyarakat maka komunikasi tidak boleh berhenti pada promosi atau branding.

Publik perlu mendapatkan jawaban sederhana:

Apa yang dilakukan?

Mengapa dilakukan?

Siapa yang mendapatkan manfaat?

Apa dampaknya bagi masyarakat? dan

Bagaimana masyarakat dapat terlibat?

Ketika pertanyaan-pertanyaan tersebut tidak terjawab dengan baik, ruang kosong informasi dapat berkembang menjadi persepsi, asumsi, bahkan polemik.

Bukan Karena Masyarakat Menolak Sebuah Event.

Bukan selalu karena masyarakat menolak sebuah event, kadang masyarakat hanya merasa:

“Mengapa kami tidak tahu?”

“Mengapa kami tidak dilibatkan?”

“Apa manfaatnya bagi kami?”

dan pertanyaan seperti itu seharusnya tidak dianggap sebagai gangguan, melainkan sebagai feedback publik.

Branding yang sehat dibangun dari kepercayaan

branding sebuah event, lembaga, maupun personal tidak hanya dibentuk melalui logo, panggung megah, pemberitaan, dan media sosial.

Branding yang kuat lahir dari konsistensi antara apa yang dikatakan dengan apa yang dilakukan.

Ketika visi dan misi dikomunikasikan secara terbuka, targetnya jelas, prosesnya transparan, dan masyarakat merasakan manfaatnya, maka kepercayaan akan tumbuh.

Sebaliknya, ketika komunikasi tidak berjalan, masyarakat dapat membangun narasinya sendiri.

Di era digital, publik tidak hanya menjadi audience.

Mereka juga menjadi produsen informasi.

Satu persoalan yang tidak dikomunikasikan dengan baik dapat berkembang menjadi diskursus publik yang jauh lebih besar daripada event itu sendiri.

Karena itu, komunikasi publik seharusnya dibangun sebelum, selama, dan setelah event.

Bukan hanya untuk membangun citra, tetapi untuk membangun legitimasi sosial dan kepercayaan Masyarakat sebagai penerima manfaat langsung dari setipa kebijakan pemerintah.

PAPEDA summit 2026 dan Sebuah Pembelajaran

PAPEDA summit 2026 dan sebuah pembelajaran, apa yang terjadi dalam penyelenggaraan PAPEDA summit 2026, dapat menjadi bahan pembelajaran bersama. Bukan untuk mencari siapa yang salah dan siapa yang benar, tetapi untuk bertanya: Apa yang bisa diperbaiki?

Setiap polemik seharusnya menjadi bahan evaluasi. Setiap kritik dapat menjadi masukan. Dan setiap perbedaan pandangan dapat menjadi pintu untuk membangun komunikasi yang lebih baik.

Harapannya, penyelenggaraan PAPEDA summit 2026 berikutnya tidak hanya sukses secara event management, tetapi juga mampu menghadirkan partisipasi publik, transparansi informasi, dampak sosial-ekonomi, serta rasa aman dan nyaman bagi masyarakat.

Karena pada akhirnya, ukuran keberhasilan sebuah event bukan hanya: “Seberapa besar acaranya?”

Tetapi juga: “Seberapa besar dampaknya?”

Dan pertanyaan yang lebih penting lagi:

“Apakah masyarakat merasa menjadi bagian dari keberhasilan itu?”

Penutup

Diakhir catatan ini penulis sampaikan event yang baik meninggalkan dampak, kita boleh berbeda pendapat, kita boleh memberikan kritik, kita boleh memiliki perspektif yang berbeda. Namun, dari setiap perbedaan itu kita belajar bahwa membangun Papua membutuhkan pendekatan dialog, keterbukaan, kolaborasi, dan komunikasi yang sehat.

Semoga apa yang kita hadapi hari ini, di kota sorong papua barat daya dalam pesta PAPEDA summit 2026 tidak berhenti sebagai polemik, tetapi menjadi pelajaran untuk memperbaiki penyelenggaraan event di masa mendatang. Papua membutuhkan event yang bukan hanya ramai dibicarakan, tetapi juga jelas manfaatnya, terbuka prosesnya, aman pelaksanaannya, dan nyata dampaknya bagi masyarakat.

Event PAPEDA Summit 2026 Bukan Sekadar Perhelatan, Tetapi Harus Menjadi Ruang Membangun Kepercayaan Publik, sebab pembangunan yang baik bukan hanya tentang apa yang ingin kita lakukan untuk masyarakat. Tetapi tentang bagaimana masyarakat memahami, dilibatkan, merasakan manfaatnya, dan akhirnya ikut memiliki proses tersebut.

Belajar dari hari ini, memperbaiki esok hari. Karena event boleh selesai, tetapi kepercayaan publik apa yang harus tetap dijaga dan dirawat di antero tanah Papua khususnya di Papua Barat Daya, dari agenda-agenda semacam ini. (*)

(*) Penulis adalah wartawan senior tinggal di kota Sorong, Papua Barat Daya, tulisan ini dikutip dari akun media sosial (Facebook) pribadi penulis.