Oleh: Catatan Petarung
Danau Ayamaru di Kabupaten Maybrat menyimpan kekayaan hayati yang mendunia, yakni keberadaan spesies ikan hias endemik danau Ayamaru yaitu dua Ikan Pelangi Boeseman yaitu, ikan Melanotaenia Boesemani dan Ikan Melanotaenia Ajamaruensis. Namun, keberadaan ikan endemik Danau Ayamaru itu, kini telah dan sedang berada di ambang kepunahan dan membutuhkan perhatian, serta aksi nyata dari seluruh lapisan masyarakat dan pemerintah daerah.
Sejarah mencatat, penemuan dan keharuman nama Danau Ayamaru di dunia, dicatat lewat ikan pelangi dan pencatatan ilmiah ikan endemik ini, bermula pada pertengahan tahun 1950-an ketika seorang iktiolog (ahli ikan) asal Belanda, Dr. Marinus Boeseman melalui lembaganya Rijks Museum Van Natuurlijke Historie (RMNH) Leiden, Belanda Melakukan Ekspedisi Nugini Belanda, pada Tahun 1954-1955 di danau Ayamaru untuk melakukan survei dan pengumpulan spesies ikan air tawar di kawasan Danau Ayamaru.
25 Tahun kemudian, dari Ekspedisi Nugini Belanda pada Tahun 1954-1955, setelah pengumpulan spesies ikan oleh Dr. Marinus Boeseman, kemudian pada tahun 1980 spesien koleksi Dr. Marinus Boeseman dilakukan penelitian lanjutan atas koleksi itu oleh dua iktiolog Gerald R. Allen dan Norbert J. Cross, ahli ikan (iktiolog) terkemuka dari Museum Australia Barat (Western Australian Museum) yang dikenal secara internasional, atas kontribusi besar mereka dalam meneliti taksonomi, serta penyebaran ikan air tawar di wilayah Australia dan New Guinea.
Sehingga Gerald R. Allen dan Norbert J. Cross secara resmi mendeskripsikan temuan Dr. Marinus Boeseman di danau Ayamaru tersebut menjadi dua spesies baru yakni; Pertama, Spesies ikan Melanotaenia Boesemani (Ikan Pelangi Boeseman), dinamai untuk menghormati Dr. Marinus Boeseman, yang kemudian berkembang menjadi salah satu ikan hias air tawar paling tersohor di dunia. Kedua, Ikan Pelangi yang berikut adalah ikan Melanotaenia Ajamaruensis, dinamai berdasarkan nama Danau Ayamaru untuk menghargai masyarakat setempat.
Seluruh spesies tipe holotipe dan paratipe saat ini diabadikan dan disimpan di Museum Leiden, Belanda, sebagai rujukan ilmiah internasional. Saat ini, Melanotaenia Boesemani dan Melanotaenia Ajamaruensis telah berstatus terancam punah (Endangered). Oleh IUCN (International Union For Coservation of Nature). sebuah Uni Internasional untuk Konservasi Alam, jaringan organisasi lingkungan global terbesar di dunia yang berfokus pada pelestarian alam dan pemanfaatan sumber daya alam secara berkelanjutan.
Penurunan populasi ikan endemik ini dipicu oleh tiga faktor utama antara lain. Pertama, eksploitasi berlebihan, karena perna penangkapan masif untuk bisnis perdagangan ikan hias sejak era 1980-an. Kedua, degradasi lingkungan akibat rusaknya ekosistem alami di kawasan danau dan aliran sungai karst Ayamaru. dan Ketiga, predasi spesies invasif akibat penebaran jenis ikan invasif atau ikan asing di perairan danau yang memangsa keberadaan ikan lokal. Kondisi kepunahan ini sangat memprihatinkan, di mana sebagai gambaran, di UPTD Balai Benih Ikan Kota Depok bahkan dilaporkan hanya tersisa dua ekor ikan Pelangi asal Danau Ayamaru dalam koleksi mereka.

Menyikapi ancaman ini, muncul seruan yang ditujukan kepada Gubernur Papua Barat Daya, Bupati Maybrat, para pejabat, serta seluruh warga Maybrat di mana pun berada untuk mengambil langkah pelestarian. Masyarakat diajak merenungkan warisan alam apa yang kelak akan ditinggalkan bagi anak-cucu jika spesies unik ini punah dari habitat aslinya, seperti yang disampaikan oleh Julian Kelli Kambu kepala badan lingkungan hidup Provinsi Papua Barat Daya saat berkunjung ke Balai pembibitan ikan di Dopok belum lama ini.
Meminta agar ada pemulihan ekosistem dari ikan asing (invansif) menjadi langkah mendesak agar ikan endemik Danau Ayamaru, kembali lestari di rumah aslinya dan tidak sekadar menjadi kenangan, di museum luar negeri. Seperti yang disimpan di museum Rijks Museum van Natuurlijke Historie (RMNH) di Leiden, Belanda. Sejak 1955, oleh Dr. Marinus Boeseman saat melakukan ekspedisi ilmiah di daerah terpencil Papua (dulu dikenal sebagai Irian Jaya atau Nugini Belanda). atau simpan di Museum Naturalis Biodiversity Center Belanda.
Marinus Boeseman, dikenal sebagai salah satu tokoh utama dalam kajian ikan air tawar Nugini, dan disertasinya membahas ikan lidah (Cynoglossidae) Indo-Pasifik (1951), sebelum koleksi ikan Melanotaenia Boesemani dan Melanotaenia Ajamaruensis (1954-1955)
Ikan pelangi, Melanotaenia Boesemani dan Melanotaenia Ajamaruensis adalah spesies endemik milik Danau Ayamaru juga disimpan di Museum Australia Barat (Western Australian Museum) milik Dr. Gerald R. Allen dan Norbert J. Cross, dua ahli ikan (iktiolog) terkemuka dari Museum Australia Barat yang dikenal secara internasional atas kontribusi besar mereka dalam meneliti taksonomi serta penyebaran ikan air tawar di wilayah Australia dan New Guinea tahun 1980.
Iktiolog Dr. Gerald R. Allen dan Norbert J. Cross adalah dua ahli ikan yang memberi nama Ikan Pelangi asal Danau Ayamaru, bernama ikan Melanotaenia Boesemani dan ikan Melanotaenia Ajamaruensis, tahun 1980 dari hasil penelitian lanjutan, dari koleksi ikan milik Dr. Marinus Boeseman tahun 1954-1955. (CR1)
Catatan: Tulisan ini disadur dari buku panduan ilmiah berjudul “Rainbowfishes of Australia and Papua New Guinea” yang diterbitkan pada tahun 1982 dan diparafrase ulang oleh penulis, dengsn mengutip pernaytaan pernayataan di akun media sosial milik Julian Kelly Kambu saat berkunjung ke Depok dan gunakan beberapa koleksi gambar ikan Melanotaenia Boesemani dari Akun SAL dan media sosial milik Marthen Lutter Salossa untuk kepentingan edukasi,





