Oleh: Imanuel Tahrin (*)

Yubiah, 20 Juli 2026-Malam itu, udara terasa dingin membeku di bawah langit terang yang dihiasi taburan bintang. Permukaan Danau Ayamaru tampak memantulkan cahaya samar, menciptakan pemandangan yang tenang namun menyimpan sejuta misteri. Di balik ketenangan itu, di salah satu sudut tepiannya, tersimpan kisah pilu tentang sebuah klan yang kini berada di ambang kepunahan: Marga Mosney.

Perjalanan saya malam itu bermula dari sebuah permintaan tolong. Adik Firgo Nauw meminta saya mengantarkan buah cempedak dari Susumuk menuju Yukase. Setibanya di Kampung Setta, Yukase, saya menurunkan tumpukan buah cempedak tersebut.

Sebelum berlalu, saya berpamitan padanya, “Dek, Kakak pergi dulu ya. Mau bertemu dengan Maikel Ijie.”

“Iyo, sudah, Kakak,” jawab Firgo, atau yang akrab disapa Igo. “Nanti kalau balik, klakson saja. Adik duduk di depan sini.”

“Iya, Dek. Nanti Kakak kasih klakson,” janji saya.

Saya pun melanjutkan perjalanan. Di tengah jalan, saya melihat sosok yang sangat saya kenal, Kakak perempuan Beksi Nauw. Saya segera menghentikan mobil, turun, dan kami berdua berpelukan erat. Pelukan hangat itu seakan melepas rindu yang mendalam antar anggota keluarga yang jarang bertemu.

Setelah melepas rindu, saya bertanya, “Kakak, ada Maikel?”

“Dia ada di rumah,” jawab Kakak Beksi singkat.

Mendengar itu, saya pun bergegas menuju rumahnya. Di sana, Maikel Kareth dan Frengky ternyata sudah lebih dulu tiba. Melihat saya berdiri bersama Kakak Beksi, mereka berdua menepi dan berhenti sejenak.

Maikel berteriak pada Frengky, “Turun ikut mantah (pergi) duluan sudah! Saya masih ada urusan, nanti saya menyusul.”

Frengky akhirnya ikut bersama saya. Saya menyerahkan kunci mobil padanya, dan kami berdua berkendara menuju rumah Maikel Ijie bersama keluarga yang lain.

Setibanya di tujuan, suasana penuh kehangatan langsung menyelimuti kami. Kami saling bersalaman, menanyakan kabar, dan bertukar senyum. Maikel Ijie sibuk mengambil kursi, mempersilakan saya dan Frengky yang akrab disapa Mala untuk duduk. Kami pun duduk melingkar, berbagi cerita, tak lama kemudian Maikel Kareth menyusul datang.

Istri dari Maikel Ijie keluar membawa nampan berisi makanan dan kopi panas. Sajian sederhana itu seakan menjadi pengikat tali kekeluargaan di antara kami semua. Obrolan mengalir begitu saja, mulai dari urusan politik, masalah lingkungan, hingga perjuangan para “mama pasar”.

Topik pembicaraan kemudian beralih pada kekhawatiran kami bersama: tumpukan sampah yang semakin mengkhawatirkan dan mengancam keaslian Danau Ayamaru. Di tengah perbincangan itu, kami sesekali memberikan semangat kepada Mama Susana Mosnay, Ibu Ijie Salah, dan ibu-ibu lainnya yang hadir.

Usai menyantap hidangan, Maikel dan Mala berpamitan untuk pulang ke Mapura, Kami semua bersalaman melepaskan kepergian mereka berdua.

Setelah suasana sedikit tenang, Mama Susana Mosnay menghampiri saya. Dengan nada bicara yang serius dan penuh penghayatan, beliau mulai menjelaskan silsilah keluarganya, menceritakan hubungan antara kakek mama dengan silsilah kami. Saya mendengarkannya dengan penuh perhatian, tak ingin melewatkan satu detail pun.

Keingintahuan saya terusik. “Mama, bagaimana sebenarnya sejarah Marga Mosney ini?” tanya saya, mencoba mengulik lebih dalam tentang asal-usul marga tersebut.

Mama Susana kemudian berbagi kisah, sebuah narasi sejarah lisan yang diwariskan turun-temurun.

“Nenek moyang kami itu asalnya dari Merauke,” kenang Mama Susana. “Mereka datang ke sini mengikuti petunjuk seekor burung. Nenek moyang kami akhirnya menetap di Srirtabam kalau dalam bahasa Indonesia artinya ‘gosok di tanah’. Tempat itu sekarang menjadi Bendungan Dua, Danau Ayamaru.”

Perjalanan mereka tidak berhenti di situ. “Selanjutnya, nenek moyang kami menyeberangi Danau Ayamaru menuju Kampung Suwiam. Mereka tinggal di sebuah tempat bernama Tawian.”

Cukup lama mereka menetap di Tawian. Dari sana, klan Mosney kembali berpindah, meninggalkan Kampung Suwiam menuju Amko di Kampung Serma.

Mama Susana terus berkisah, “Suatu waktu, nenek moyang saya, Horohtutai Mosney, tinggal sendirian di pondoknya di Amko. Tiba-tiba, datanglah seorang laki-laki yang mendayung perahunya dari sungai bawah, menuju ke rumahnya.”

Laki-laki itu, lanjut Mama Susana, bernama Isfan Ijie, yang berasal dari Kampung Fategomi atau Faan. “Waktu itu nenek moyang saya (Horohtutai) tidak kawin, tetapi orang Ijie ini dia kawin dua dalam bahasa Maybrat disebut ‘migi’, atau orang yang poligami.”

Karena merasa kasihan, Isfan Ijie memberikan salah satu istrinya kepada Horohtutai Mosney untuk dinikahi. Dari pulau tempat mereka tinggal, mereka kemudian berpindah ke daratan, ke tanah kering di Yubiah.

“Kami adalah marga pertama yang menempati Yubiah ini,” tegas Mama Susana dengan nada bangga. “Setelah kami, barulah datang marga-marga lain satu per satu, hingga Kampung Yubiah ini seramai sekarang.”

Namun, nada bicara Mama Susana tiba-tiba berubah menjadi getir. “Sekarang, dari Marga Mosney ini, kami tinggal lima orang bersaudara saja yang masih hidup. Yang lainnya sudah meninggal dunia.”

Beliau kemudian menyebutkan nama-nama saudaranya yang masih tersisa: Becy Mosnay, Susana Mosnay (dirinya sendiri), Oktovina Mosnay, Yubelina Mosney, Agustina Mosney, dan satu-satunya laki-laki, Benyamin Mosney.

Kalimat penutup dari Mama Susana terasa begitu menusuk kalbu. “Kedepan, kalau kami yang tua-tua ini sudah meninggal, berarti marga ini akan punah. Marga Mosney ini adalah salah satu marga yang orangnya paling sedikit di Kabupaten Maybrat.”

Malam itu, di tepian Danau Ayamaru yang sunyi, saya pulang dengan membawa beban berat di hati. Sebuah kisah tentang sejarah, perjuangan, dan kenyataan pahit tentang sebuah garis keturunan yang perlahan-lahan meredup dan terancam hilang dari muka bumi. Marga Mosney, penjaga awal Yubiah, kini tengah menanti senjakala keberadaan mereka.

(*) Penulias adalah Pemerhati Lingkungan dan Pendiri Yayasan Petarung Papua tinggal di Sumuk Maybrat