Oleh: Imanuel Tahrin (*)
Siang itu, jarum jam menunjuk tepat pukul 13.00 WIT di Kampung Susumuk, Minggu, 4 Oktober 2026. Dalam hening yang tenang, kami bersiap memulai perjalanan luhur-mengantar jenazah sanak keluarga menuju peristirahatan terakhirnya di Kampung Mokamat, Distrik Kais Darat.
Roda kendaraan kami terus berputar melintasi garis-garis lanskap Maybrat. Kami melewati Kampung Mirafan dan Fategomi di Distrik Aitinyo Utara, sebelum akhirnya memasuki kawasan Distrik Aitinyo. Kami melintasi Somanais kampung yang kerap disapa “So Memang Manis” lalu melaju menuju Kampung Kamro, menembus rimbunnya Hutan Kaset. Perjalanan berlanjut membelah aroma tanah subur Ruf, tempat pohon-pohon kayu besi berdiri gagah menjulang. Tepat pukul 15.00 WIT, kami pun tiba di Kampung Mokamat, sebuah tempat yang maknanya begitu dalam: “Mohon Kasih Menetap.”
Di tengah riap angin sore, kenangan lama mendadak berembus pelan. Saya teringat kisah Almarhum Bapak di masa lalu. Beliau dulu berjalan kaki menyusuri rantai jalan ini demi menjenguk sanak saudara di Mokamat.
Sebelum memasuki jantung kampung, kami sempat berhenti sejenak di depan Kantor Distrik Kais Darat. Kami mengabadikan momen dalam beberapa lembar foto—sebuah jejak visual yang kelak akan menjadi bagian dari cerita anak-cucu, bahwa kami pernah melangkahkan kaki dan mengukir kenangan di tanah ini.
Setibanya di Mokamat, mobil kami parkir perlahan. Di sana, kami disambut senyum Adik Kristian Tahrin dan rekannya yang baru saja pulang dari area perkebunan kelapa sawit. Dengan wajah berseri meski lelah, mereka bercerita tentang perjalanan menyusuri Sungai Kais menggunakan perahu ketinting seusai bekerja.
Diselimuti rasa penasaran, saya mengajak mereka berjalan menuju tepi Kali Kais. Melalui jalan cor yang menyempit menjadi jalan setapak, kami berjalan perlahan. Dari kejauhan, tampak perahu-perahu ketinting bertambat tenang di pinggir air, seolah bersiap diri menunggu sang tuan kembali mendayung mencari ikan esok hari.
Di sudut suangi yang lain, warga tampak asyik membasuh diri. Air sungai yang dingin memeluk kulit mereka, meluruhkan dahaga dan gerah akibat sengatan terik matahari di musim kemarau ini.
Ada takjub dan kekaguman mendalam saat menatap aliran ini. Sungai Kais memiliki hulu atau kepala air di Kampung Segior, Distrik Ayamaru Jaya. Namun, alirannya dengan anggun membelah beberapa distrik, melintasi batas dua wilayah—Kabupaten Maybrat dan Kabupaten Sorong Selatan—sebelum akhirnya berserah diri memeluk laut lepas.
Di Kampung Mokamat sendiri, masyarakat bertutur menggunakan bahasa Maybrat dialek bawah atau yang dikenal sebagai May Tee. Sungguh menakjubkan bagaimana bahasa Maybrat menjadi jembatan tutur yang membentang luas di dua kabupaten ini. Itulah bukti keagungan dan kuasa Tuhan dalam menempatkan manusia serta merawat peradaban di tanah papua ini.
Sore kian merambat turun. Kami bersiap melangkah kembali ke Susumuk, membawa pulang seikat cerita hangat dari perjalanan hari ini.
(*) Imanuel Tahrin adalah seorang aktivis lingkungan, pemerhati budaya, penulis, dan kreator digital asal Papua yang juga mendirikan komunitas Peduli Tata Ruang.





