Oleh: Benyamin Lagowan (*)


“Terlepas dari tendensi kepentingan politik Paslon dalam PSU Pilgub saat ini-penting kita akui nyali mas Panji dalam mengawal panji demokrasi dan keadilan pada momentum Pilkada Gubernur ini. Setidaknya nyali dan jiwanya lebih Papua dari Papua!”

Sosok pemuda bernama Panji Agung Mangkunegoro, kini sedang viral beberapa hari belakangan ini di tanah Papua. Mas Panji, dalam narasi sepihak yang diedarkan salah satu akun facebook disebut ‘dibugem warga’ saat memimpin aksi demo damai di depan Airport Sentani, Kabupaten Jayapura (12/08/2025).

Belakangan menurut pengakuan Panji sendiri, dia justru dikeroyok dan dipukul di bawah kepungan dan intimidasi dua oknum pimpinan institusi kepolisian setempat (Lihat chat dan postingannya). Ia menjadi sasaran amukan persekusi hanya karena berani memimpin orasi damai di depan jalan keluar bandara, Sentani. Bukan di dalam airport/bandara.

“Kamu Panji Agung Mangkunegoro jangan pernah bikin kacau di Kabupaten Jayapura, jangan pernah bikin demo-demo di sini, karena kamu akan berhadapan dengan saya,” demikian kira² ancaman oknum pimpinan ‘Parcok’ itu dengan nada arogan penuh teror intimidatif sebagaimana ditirukan Mas Panji sendiri selaku korban. Demikian potret kecil wajah bengis penegak hukum di tanah ini.

Banyak warganet mempertanyakan kenapa Panji yang kena gebuk? Apakah karena ia berlatar aktivis yang getol mengkritik Paslon 02? Apakah karena dia menjadi rival beberapa mantan aktivis dan timses di kelompok sebelah? Apakah karena mereka menyuarakan aspirasi pencopotan Kapolda Papua dan PJ Gubernur Papua yang dinilai tidak netral sebagai penjahat demokrasi?

Bila dipikir, memang, semua spekulasi itu serba memungkinkan jadi faktor pemicu, terlepas dari aksi heroik orasi yang dipimpinnya di sekitar area bandara dalam konteks Pilkada PSU Papua saat ini dalam menuntut keadilan dan demokrasi kepada sejumlah menteri yang transit di Airport Sentani.


1. Siapa Panji dan Mengapa judul ini saya kemukakan dalam tulisan ini?

Sebenarnya siapa mas Panji ini? Adalah mustahil bila tidak ada satupun masyarakat Papua yang tak mengenal mas Panji. Sebab nama dan gerak-geriknya di dunia gerakan/ aktifisme di tanah Papua bukanlah sosok pendatang baru dan kaleng-kaleng. Beliau sudah makan garam dan malang melintang serta memiliki segudang pengalaman dalam mendorong banyak kasus. Singkatnya, Bang Panji memiliki rekam jejak yang panjang dalam dunia aktivisme Papua.

Bagi yang tak mengenal beliau, ia adalah seorang aktifis antikorupsi, pro demokrasi hingga HAM dan beberapa isu moral sektoral lainnya. Ia adalah kordinator LSM Gempur Papua yang bergerak di isu-isu anti korupsi, Kolusi dan Nepotisme serta memantau kebijakan publik kepala daerah di tanah Papua. Namanya banyak disebut-sebut di berbagai media masa, entah elektronik maupun online hingga cetak dalam satu dekade terakhir.

Berkat berbagai gerakan dan aktifismenya telah mengungkap sejumlah kasus besar, baik kasus korupsi yang merugikan keuangan negara dan menyengsarakan rakyat, tapi juga mendorong terciptanya iklim demokrasi yang sehat dan pembangunan yang adil dan pro rakyat serta menjadi sosok penentu dalam mewujudkan sejumlah kompetisi politik yang bersih dan sehat di tanah Papua (Kasus Pilkada Keerom, Pilkada Walikota Jayapura hingga Pilkada Papua).

Ia beberapa kali dikriminalisasi oleh sejumlah calon kepala daerah di tanah Papua, misalnya oleh timses John Wempi Wetipo (JWW) dalam kasus Pilgub 2018. Demikian juga dalam kasus Pilgub Papua 2024, beliau sempat ditangkap oleh kepolisian saat berada di Pulau,Solo Jawa Tengah, setelah dikenakan pasal karet: UU ITE.

Dari sejumlah kasus itu, tak satupun membuat dirinya jerah dalam mendorong berbagai kasus yang dilakukan elit pejabat di negeri ini dengan mendorong serta memihak para pemimpin yang bersih dan amanah tidak hanya sebagai bentuk komitmennya mendorong pemimpin yang pro rakyat tetapi mewujudkan roh LSM yang dinakhodainya.

2. Mengapa Mas Panji “Lebih Papua Dari Papua?”

Banyak netizen di sejumlah postingan Mas Panji dan rivalnya Benyamin Gurik menyayangkan aksi kekerasan fisik yang berakibat cedera/luka memar di wajah-matanya. Ada protap pengamanan masa aksi yang lebih elegan (Persuasif) bisa dikedepankan tanpa harus melakukan aksi kekerasan yang berujung penganiayaan seperti itu. Misalnya ditahan dan diamankan lalu diberikan peringatan dengan baik.

“Mas Panji adalah manusia satu satunya yg berani pasang badan demi kebenaran. A tetap A. Beda yg lain vokal ketika lapar, mono mono ketika kenyang. Hari ini kebenaran dibungkam nyata di depan mata”, kata Abdul Hamid dalam postingan komentar facebooknya.

” […] Orang lain datang teriak untuk keadilan di atas tanah ini, baru kamu yg asli tanah ini […] ?”, kata Theodora Elisabeth Ansamsium di komentarnya.

Dua pernyataan itu adalah potret dari dukungan moral yang terus lahir untuk mas Panji yang darahnya jatuh menetes di tanah Tabi karena mendukung anak asli Papua asal Tabi-Saireri menjadi tuan di negerinya sebagaimana nubuatan I.Z. Kijne.

Dari komentar kedua orang tersebut mengambarkan bahwa bang Panji lebih memiliki hati untuk Papua meski bukan orang asli Papua, sebab beliau berani, tampil pasang badan, mau bekerja ekstra keras hingga kena pukul layaknya martir yang rela berkorban agar minimal Paslon yang dibelanya dapat keadilan di atas tanah dan negerinya, Tanah Papua, Tanah Tabi.

Keberanian sebagimana yang ditampilkan Panji dengan berani ambil resiko, tidak hanya menjadi pendukung salah satu Paslon tapi demi membela idealismenya, Ia memihak calon pemimpin sipil yang pro rakyat tidak nampak di barisan mayoritas anak asli Papua yang pernah mengklaim diri sebagai aktivis atau mantan aktivis mahasiswa dan Pemuda Papua. Meski ada dapat dihitung dengan jari.

Itu berbeda dengan sejumlah aktivis di kalangan OAP yang dulu getol menyuarakan aksi-aksi demo damai dengan tagline anti militerisme, demokrasi dan HAM bagi OAP dengan mengecam aparat keamanan, namun sayangnya, kini semuanya berbalik menjadi tim sukses Paslon 02 dan menjadi rival Bang Panji. Ini kritik dan autokritik yang penting direfleksikan. Dimana posisi kita dan sudah tepatkah posisi kita saat ini? Apakah kita masih berdiri di atas landasan kompas moral dan etika?


3. Belajar Dari Mas Panji: Aktivis Papua Perlu Jaga Etika dan Integritas

Mengakhiri catatan ini, meski seorang aktivis/mantan aktivis menjadi rivalitas dalam suatu momentum Pemilu itu hal wajar dan biasa, tetapi jika ada praktek ketidakadilan dan ketidakbenaran, maka setiap aktivis/mantan aktivis yang pernah menjadi pendekar keadilan mestinya memiliki beban moril dan intuisi yang akan menjadi kompas untuk bersuara dan bersolidaritas atau minimal terpanggil untuk mengambil posisi pada kebenaran.
Bila hal itu sudah tidak ada dan mati karena invasi desktruktif jiwa, hipokrit, pragmatisme dan oportunisme, maka posisi dan eksistensinya sebagai mantan aktivis dan generasi muda tanah ini harus perlu direfleksikan dan direkonstruksi ulang. Jangan sampai kita dicap sebagai aktivis pelacur atau pelacur intelektual.

Harapan saya, bila kontestasi hari ini dimenangkan oleh pasangan 02 yang dibekingi penuh oleh kelompok elit oligarki dan jaringan koalisi Kim Plus dibakup parcok yang secara nyata telah menjadi kelompok utama perusak Raja Ampat, dan melakukan aktivitas eksploitasi Tanah Tabi Saireri, para aktivis dan mantan aktivis ‘kiri kanan oke’ ini serta masyarakat yang mudah dimobilisasi oleh kekuatan finansial itu tidak menyesal dan melakukan demo ke depan.  Semoga