Sorong, Petarung.org- Memperingati hari anti kekerasan terhadap perempuan, Ikatan Pemuda Pelajar Dan Mahasiswa Uter (IPPM-U) Kota dan kabupaten Sorong Provinsi Papua Barat Daya menggelar Dialog Publik. Kegiatan yang berlangsug di Lembaga Bantuan Hukum Karya kita Anak Budaya (LBH KAKI ABu) yang beralamat di Jalan Bangau II Malangkedi Kota Sorong Rabu malam (26/11/2025).
Diskusi bertema “Dampak Eksplorasi Sumber Daya Alam Terhadap Kerentanan Kekerasan Perempuan Papua”
Ketua panitia Vina Sangkek, dalam sambutannya menjelaskan, kekerasan terhadap perempuan salah satu bentuk pelanggaran HAM yang sangat mendesak untuk diatasi. Diskusi ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran publik tentang bentuk-bentuk kekerasan terhadap perempuan, sehingga sebagai perempuan Papua Maybrat dan perempuan Papua umumnya diskusi ini penting untuk membangun solidaritas Bersama untuk merefleksikan kekerasan di atas tanah ini, terutama yang dialami oleh perempuan Papua.
“25 November hingga 10 Desember, terdapat banyak momen penting. yang diperingati, Hari Internasional untuk Penghapusan Kekerasan terhadap Perempuan, 29 November Hari Perempuan Pembela Hak Asasi Manusia atau Women Human Rights Defender (WHRD) Internasional,” ujarnya.
Sementara itu, Lami Faan Aktivis Perempuan Papua yang hadir juga sebagai Narasumber diskusi itu menekankan harapannya kedepan ada Solidaritas dan gerakan perempuan untuk membangkitkan perjuangan kolektif di Kota Sorong. Karena situasi hari ini semakin meningkat kekerasan terhadap perempuan yang sedang terjadi.
“Kasus kekerasan terhadap perempuan Papua salah satu dampak negatif adalah pengelolaan sumber daya alam, oleh korporasi kapitalisme, investasi ekstraktif, yang masuk, rampasan tanah adat, masuknya perusahaan tambang, sawit dan pendropan militer,” ujarnya.
Ia menambahkan, dari semua aktivitas yang terus terjadi dampak tersebut masyarakat adat yang alami, lebih khusus perempuan Papua seringkali mengalami kekerasan fisik, psikologi serta hilangnya hak hidup bagi perempuan Papua.
“Banyak daftar jumlah kekerasan terhadap perempuan yang terjadi. Melalui diskusi seperti ini harus terus dilakukan Agar perempuan harus bicara. Terutama perempuan korban itu harus berani bersuara,” ujar Lami.
Kekerasan terhadap perempuan Hari ini bukan persoalan antara perempuan dan laki-laki. tapi ini semua terjadi karena sistem kolonialisme, kapatalisme Global, mengeruk ekploitasi Sumber daya alam, serta perampasan ruang-ruang hak hidup masyarakat adat. Dampak tersebut perempuan itu terpinggirkan.
“Perempuan harus bersatu, kemudian ada gerakan nyata yang harus dilakukan oleh perempuan, Seperti ruang-ruang diskusi dibuka, Aksi, kampanye Anti kekerasan perempuan, seminar peningkatan penyedia SDM Terus ditingkatkan. Agar gerakan persatuan bagi para perempuan itu tampak hidup supaya Terus melawan ketidakadilan,” tegasnya.

Sementara itu, Sayang Mandabayan Ketua Presidium Nasional FNMPP, yang turut memberikan materi di dialog ini mengatakan, diskusi publik hari ini merupakan langkah strategis bagi perempuan untuk berbagi cerita, dan pengalaman. Bagaimana kekerasan yang dialami oleh perempuan.
“Penindasan yang secara struktur terjadi untuk kita orang Papua Dan lebih khusus untuk perempuan-perempuan. Jadi ini ruang untuk kita berbagi cerita,” ungkapnya.
Ia menambahkan, tugas dan tanggungjawab kita sebagai perempuan terus bersama-sama melalui organisasi gerakan, solidaritas konsolidasi, sosialisasi, menyuarakan Penderitaan rakyat Papua kita, penderitaan perempuan-perempuan, baik yang ada didalam kota maupun dihutan pengungsian, perempuan yang ada di wilayah-wilayah konflik, ini menjadi tugas kita bersama. Membela hak mereka.
“Perempuan harus menjadi pagar untuk melindungi kehidupan manusia dan alam Papua. Perempuan adalah peran penting dalam segala aspek kehidupan. Perempuan itu simbol warisan sebuah bangsa,” ujarnya.
Harapan saya ke depannya harus ada ruang-ruang diskusi kritis, bercerita seperti ini. tentang masalah yang terjadi diatas tanah Papua oleh seluruh kawan-kawan perempuan dan Forum seperti ini memberi kesempatan bagi kami untuk tidak hanya mendengar, tetapi juga menyuarakan kegelisahan dan pengalaman langsung di lapangan. (CR1)


