Oleh: Imanuel Tahrin (*)

Pagi itu, ketika jarum jam menunjuk pukul 07.00 WIT, matahari perlahan mengangkat wajahnya dari ufuk timur, membiaskan cahaya lembut di Kampung Susumuk. Usai sarapan dan berbenah diri, kami melangkah dengan hati penuh sukacita menuju lapangan SD Susumuk. Di sanalah persiapan pembukaan Turnamen Sepakbola Gawang Mini tengah digelar, sebuah perayaan yang bukan sekadar olahraga, melainkan tanda syukur akan 77 tahun Injil masuk di Kampung Susumuk.

Tujuh puluh tujuh tahun adalah usia yang sarat makna. Hanya tiga tahun setelah Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya, Injil pun membuka pintu kemerdekaan rohani di tanah ini. Sebagaimana tertulis: “Dan kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu” (Yohanes 8:32). Firman itu kini nyata dalam jejak sejarah Susumuk.

Di lapangan, suasana ramai namun penuh keteraturan. Panitia, jemaat, dan warga jemaat Emaus Susumuk bahu-membahu menyiapkan segala perlengkapan. Kepala Distrik Aifat, para kepala kampung di wilayah Susumuk Raya, satu per satu hadir dengan wajah penuh harap. Kami melakukan gladi bersih, seolah melatih hati untuk menyambut bukan hanya bupati dan rombongan, tetapi juga menghadirkan rasa syukur kepada Tuhan yang telah menuntun perjalanan panjang Injil di negeri kecil ini.

Ketika Bupati Maybrat, Bapak Karel Murafer, SH,MA tiba, suasana menjadi khidmat. Sambutan hangat disertai pemberian cenderamata menjadi simbol penghormatan. Doa pembukaan dipimpin oleh Pdt. Seprianus Assem, Ketua Klasis Aifat, seakan mengingatkan bahwa segala kegiatan harus bermula dari doa. Lalu Bapak Drs. Agustinus Saa, M.Si sebagai intelektual kampung, menuturkan kembali sejarah Injil yang masuk pertama kali ke Susumuk melalui empat orang utusan yang dipanggil hati nurani dan dipimpin terang kasih Kristus.

Dari Susumuk, Injil menyebar ke kampung-kampung lain di seluruh wilayah Aifatsebuah aliran berkat yang tak terbendun dan untuk memperingati momen iman ini, panitia menyusun rangkaian kegiatan:

Turnamen Sepakbola Gawang Mini, dengan 32 tim putra dan 16 tim putri dari Klasis Aifat dan Klasis Aitinyo.

Lomba Cerdas Cermat Alkitab, sekaligus tentang sejarah injil masuk di Susumuk sebagai ruang belajar generasi muda agar sejarah iman tidak pudar. Dan puncaknya: Ibadah Syukur pada 28 Agustus 2025, saat seluruh jemaat berkumpul memuji Allah yang telah menuntun perjalanan 77 tahun Injil.

Dalam sambutannya, Bupati menekankan sportivitas dan kebersamaan. Dengan tendangan sederhana ke gawang, ia secara simbolis membuka turnamen sebuah gerakan kecil yang melambangkan awal pertandingan, tetapi juga pengingat bahwa hidup ini adalah perjuangan iman yang harus dijalani dengan hati yang bersih.

Kegiatan ditutup dengan doa, lalu dilanjutkan dengan santap siang penuh kekeluargaan. Setelah itu, rombongan bupati melanjutkan perjalanan ke Kumurkek. Kami, panitia, hanya bisa menundukkan kepala penuh syukur, berterima kasih kepada semua pihak yang telah menopang kegiatan ini.

Refleksi ini mengingatkan kita bahwa Injil bukan sekadar kisah sejarah, melainkan cahaya yang terus hidup. Seperti tertulis dalam Mazmur 119:105: “Firman-Mu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku.” Demikianlah Injil menjadi pelita yang menuntun langkah Susumuk dari generasi ke generasi.

Perayaan ini adalah lebih dari sekadar olahraga atau upacara adat ini adalah tanda syukur bahwa Tuhan setia, dan kasih-Nya tak pernah meninggalkan tanah dan umat-Nya. SALAM

(*) Penulis adalah pemerhati lingkungan dan pendiri yayasan petarung dalam momen ini penulis adalah ketua panitia kegiatan HUT PI di Kampung Susumuk