Oleh: Lamadi de Lamato (*)
”Negara tidak mengelola masa lalu, negara mengelola masa kini dan membuat penyesuaian untuk masa depan……” (Xanana Gusmao)
Kata-kata di atas saya anggap sebagai pamungkas dari pernyataan Xanana Gusmao, tokoh pembebasan dan bapak bangsa Timor Leste yang sangat menarik untuk dielaborasi di kata pengantar buku saya ini.
Tapi sebelumnya, saya ingin menjelaskan sedikit perjalanan saya sebagai perantau kelahiran Jayapura, Tanah Papua, yang kemudian menjadi aktivis dan penulis.
Pada 1992, kala itu saya adalah bocah kecil yang dibawa masuk ke Timor Timur (nama Provinsi ke-27 bagi Timor Leste saat menjadi bagian NKRI) dengan tujuan memperbaiki hidup.
Untuk masuk ke Dili ibukota Timor Timur, saya melewati Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), lalu menyeberang ke kota Dili melalui perbatasan jalan darat. Saya masih ingat, saat itu seperti sedang berada dalam suasana di pengungsian.
Masih di tahun yang sama, sebuah kapal asing bernama Lusiano Expresso, akan sandar di pelabuhan Dili untuk menabur bunga atas tragedi pembataian sejumlah massa demonstran yang membuat isu perjuangan kemerdekaan Timor Timur menjadi trending topik di dunia internasional. Orang mengenalnya sebagai tragedi 12 November 1992.
Alih-alih bisa masuk ke Dili dengan tenang dan aman dengan menumpang sebuah kapal, malah saat itu kapal kami diarahkan untuk bersandar di pelabuhan Tenau, Kupang, NTT. Sebab Dili kala itu dalam kondisi darurat.
Sepuluh tahun kemudian, saya mengulangi hal yang sama. Masuk kota Dili lewat perbatasan NTT – Timor Leste dalam kondisi siaga satu alias darurat. Ini benar-benar suatu pengalaman yang unik, yang saya alami sebagai seorang perantau.
Bedanya, waktu masuk pertama kali ke Timor Leste, saya mengawali dari kota Ambon, Maluku. Di kota Ambon, sebagai bocah petualang dari Kota Jayapura, Papua, saya hidup tidak menentu selama 2 tahun sebagai anak terminal.
Sebagai bocah, saat itu saya hanya menggantungkan nasib sepenuhnya dari terminal. Tidak ada orang tua, keluarga atau siapa pun. Saya bertarung agar bisa hidup survive di kota itu dengan melakukan pekerjaan apa pun.
Setelah 2 tahun hidup di Ambon dalam ketidakkpastian, saya pun akhirnya ditakdirkan untuk kembali merantau ke kota Dili, ibukota Provinsi Timor Timur untuk memperbaiki nasib.
Di kota ini, saya bisa sekolah dan memperbaiki nasib hingga mendapat selembar ijazah SMA yang menjadi modal merantau selanjutnya. Timor-Timur pun akhirnya saya anggap tempat anugerah terbesar dalam hidup saya.
Di tahun 2002 saat negara ini akan merdeka lewat proses jajak pendapat (referendum) dan proses masa transisi dari PBB, saya kembali lagi ke Dili melalui perbatasan. Tapi kali ini saya datang dari arah yang berbeda: Jakarta, ibukota Indonesia.
Setelah menumpang kapal, saya lalu dibantu oleh UNHCR, lembaga pengungsi PBB menumpang kendaraan tentara PBB (UN) menuju kota Dili dengan idealisme memperbaiki nasib. Setelah sekian lama, saya pun kembali dengan berbekal ijazah sarjana ekonomi dari sebuah kampus swasta di area Ciputat, Jakarta.
Ijazah sarjana itu saya peroleh juga dengan perjuangan dan kerja keras ketika menimba ilmu di kota metropolitan Jakarta, hingga sempat memperoleh beasiswa dari sebuah yayasan Muslim Timor Leste.
Dua kisah hidup saya dan kenangan tentang Timor Leste inilah yang selalu membuat saya melihat negara kecil yang kini dipimpin Xanana Gusmao, begitu istimewa. Terlebih bila mengenang kisah perjalanan hidup saya sebagai seorang perantau sejak dari masa kecil.
Lahir di sebuah kampung kecil bernama Abe Pantai di pinggiran Kota Jayapura, Tanah Papua, saya telah menapaki ritme hidup sebagai bocah petualang. Dari Jayapura merantau sebagai bocah ke Ambon (Maluku), lalu masuk ke Dili, negara Timor Leste yang kini merdeka hingga lulus SMA.
Dari Dili saya merantau ke Jakarta untuk melanjutkan kuliah sambil menjalani kehidupan aktivisme selama beberapa tahun hingga kembali ke Jayapura, tanah kelahiran saya.
Disini saya sempat meniti karir sebagai penulis dan pengamat hingga berkesempatan menjadi staf khusus Gubernur Papua, Lukas Enembe, setelah sebelumnya menulis biografinya.
Seperti pepatah klasik, “kehidupan itu laksana air sungai yang mengalir. Keluar sebagai mata air dan menjadi sungai yang mengalir meliuk-liuk hingga ke muara dan laut lepas. Selanjutnya air laut menguap ke langit, turun menjadi hujan yang jatuh menjadi mata air kehidupan.”
Setelah meniti karir yang cukup menanjak di Jayapura, saya pun jatuh. Dari kejatuhan inilah, saya kembali menemukan naluri petualangan masa kecil untuk merantau selama beberapa tahun di Amerika Serikat.
Saya beruntung, di negara Paman Sam itu, saya mendapat sejumlah pengalaman hidup yang berharga. Menjadi petualang, petarung kehidupan, pembelajar, menulis biografi seorang tokoh Muslim asal Indonesia, hingga menemukan momentum untuk kembali lagi ke Indonesia dan Timor Leste.
Ketika saya berkesempatan menulis buku biografi Xanana Gusmao, tokoh kemerdekaan dan Perdana Menteri Timor Leste, tidak hanya merasa bangga secara pribadi, tapi juga sangat bahagia. Sebab untuk bisa menulis buki ini, saya harus melewati banyak lika-liku dan tantangan yang tak mudah.
Kisah Xanana dalam buku ini mengajarkan satu hal: “perjuangan apapun, jika dilakukan dengan konsisten, Tuhan akan memberi bonus terbaik di ujung perjuangannya.”
Rakyat Timor Leste patut berbangga memiliki seorang tokoh dan pemimpin seperti sosok Xanana. Sebab dia tidak hanya seorang bocah pembelajar sejak awal dan ayah yang baik, tapi juga seorang revolusioner dengan bagasi intelektual yang visioner. Bersambung
(*) Lamadi de Lamato adalah penulis artikel ini. Dia adalah mantan aktivis 98, mantan staf khusus Angelina Sondakh di DPR RI, mantan staf khusus DPR Papua, penulis biografi dan mantan juru bicara Gubernur Papua, Lukas Enembe. Penulis adalah direktur LaKeda Institute Papua dan koordinator Buton Action Network. Dikutip dari Wenebuletin, tulisan ini disadur dan diedit kembali dari kumpulan tulisan penulis yang akan dijadikan buku biografi Xanana Gusmao.





