Oleh: Origenes Asmuruf (*)
Menyongsong 80 Tahun kemerdekaan RI, Indonsia di kejutkan dengan Demo Rakyat Kabupaten Pati Jawa Tengah menurunkan Bupatinya akibat dari kenaikan pajak yang membuat rakyatnya sengsara dan tercekik.
Bukan saja di Pati Jawa tengah, ada beberapa daerah yang pemerintahanya memajaki rakyatnya dengan pajak dinaikan hingga 400% yang membuat rakyat tercekik lehernya hingga benar-benar sengsara. Evisiensi anggaran membuat sehingga banyak program pembangunan yang harus menjadi korban, aparat Negara tidak bebas lagi membuat program dan banyak program keberpihakan kepada rakyat harus di korbankan.
ASN menjerit, TNI, POLRI dan lembaga Negara lain pun juga demikian, kesejahteraan aparat di kebiri dengan kebijakan efisiensi anggran yang tidak tau kemana arahnya.
Setelah pelantikan Presiden, ada sebuah harapan baru di taruh pada pundak sosok presiden yang tegas untuk membrantas korupsi. Dalam pidatonya setelah pelantikan bahwa Prabowo akan membrantas korupsi sampai ke Antartika, tapi faktanya, para koruptor berkerliaran bebas di Negara ini, bahkan bersama-sama menjalankan pemerintahan.
Kepercayaan terhadap pembrantasan korupsi terus menurun, Prabowo kelihatanya tidak tergas lagi membasminya, hanya omon-omon, dan kemudian para koruptor terus bernyanyi tanpa henti.
Penegakan hukum yang berjalan di tempat, para nitizen kerap kali memberikan stigma buruk dan ketidak percayaan kepada lembaga kepolisian dalam penegakan hukum yang kadang merugikan masyarakat.
Polisi selalu saja di buli akibat dari ketidak percayaan masyarakat, karena lembaga ini kerap kali masi saja tidak ada penegakan hukum yang maksimal. Judi terus meraja lela, begal terus berkeliaran, curian motor masif dimana mana dan janis kriminal lain masi bebas melakukan aksinya bahkan ada oknum polisi yang terlibat dalam melakukan tindak kejahatan tersebut. hektar Tanah rakyat, hutan di babat, tanah di rampas, rakyat tergusur, hewan di bantai, sungai tercemar, semua ini membuat rakyat menderita dan sengsara.
Konflik bersenjata yang terus berlanjut di Papua, antara TNI/POLRI vs TPNPB/OPN, pembunuhan terhadap rakyat sipil tak berdosa, anak-anak menjerit, ibu-ibu menangis, kehilangan rumah, kehilangan sekolah, kehilangan gereja kehilangan kampung halaman dan menjadi pengungsi, sengsara terus meliputi kehidupan mereka.
Beberapa daerah sudah mulai menyuarakan melepaskan diri dari Negara Indonesia, Aceh, Maluku, Papua, Riau, Bali, Kalimantan, karena tidak percaya lagi dengan pemerintahan yang terus membuat rakyat menderita dengan sistim yang di jalankan.
Negara ini sudah masuk usia 80 Tahun, usia matang dan sudah sangat dewasa namun dalam perjalalan pemerintahanya masi bersifat kekanak kanakan. Tidak ada kedewasaan yang tampak dalam pemerintahan ini, rakyat terus di buat sengsara dengan berbagai aturan dan kebijakan.
Peristiwa demo besar-besaran di Pati Jawa Tengah, bisa jadi pematik untuk wilayah lainya,akan muncul demontran besar-besaran untuk mengulingkan pemerintahan yang sah, karena kehilangan kepercayaan dan penderitaan yang terus menggrogoti.
Tidak ada kekuasaan yang bisa berkuasa dan bertahan selamanya jika rakyat sudah kehilangan kepercayaan dan bersatu untuk menggulingkan dengan kata KAMI MUAK dengan cara mu.
Negara Ini meneriakan Merdeka di tengah rakyatnya sengsara membayar pajak yang melambung tinggi dengan penghasilan yang tidak pasti. Negara yang merdeka mestinya rakyatnya juga harus sejahtera.
Bukan saja para pejabat dan penguasa duduk di meja jamuan dengan hidangan yang istimewa dan mahal makan hingga kenyang dan terbuang-buang dan perut menjadi buncit sementara rakyatnya terus memikirkan kebutuhan pokok yang kian mahal dan mencekik dan menderita gizu buruk, stanting dan busung lapar.
Para pemimpinya terus duduk di dalam ruangan kantor yang istimewa mahal dan sejuk, sementara masi banyak rakyat yang kini masi tinggal di gubuk derita dan kolom jembtan di kampung-kampung pedalaman dengan kondisi memprihatinkan karena tidak punya tempat tinggal yang layak.
Pemimpin hendaklah menjadi pelayan untuk melayani rakyatnya, bukan sebaliknya menjadi penguasa yang arogan untuk menindas dan memiskinkan rakyatnya dengan penerapan pemaksaan pembayaran pajak yang mencekik. 80 Tahun Indonesia Merdeka, 80 Tahun rakyat terus menderita dinegeri yang kita cintai ini. Salam
(*) Penulis adalah petani milenial orang asli papua, tinggal di wilayah provinsi papua selatan


