Oleh: Imanuel Tahrin (*)

Pagi itu di jalan Osok, Sabtu 30 Agustus 2025 pukul 06:45 WIT, langkah saya terhenti di sebuah tempat yang biasa dipakai memarkirkan mobil. Dari sana, jalan setapak kecil menuntun ke arah kali yang jernih. Rumput samu berjejer rapi seakan menjadi karpet alami, mengantar pada hutan tropis yang masih terjaga.

Pohon Ara Boh  dalam bahasa Maybrat atau kayu putih berdiri gagah, bersama gagar hutan, sayur paku, dan kamibat yang tersusun rapi di kaki gunung. Di batang-batang besar, sarang semut menggantung sebagai penanda ekosistem yang hidup. Dari kejauhan, burung elang berputar di langit, sementara suara mesin senso terdengar sayup tanda tangan manusia yang mencoba menaklukkan hutan.

Burung-burung khas tanah Papua kontaif, iek, wimbas, kerok, habe, hingga maleo berkicau riuh, seolah membangunkan rimba yang lelap. Dari arah timur, matahari muncul, menyinari hutan tropis yang terbentang laksana permadani hijau. Di sela itu, pengendara motor tampak berjuang menaiki tanjakan: potret manusia yang terus bertahan hidup di tengah tantangan zaman.

Jalan yang membelah hutan tropis tanah Moi kini menjadi nadi transportasi, namun sekaligus tanda pergeseran relasi manusia dengan alam. Gunung-gunung yang berbaris bagai penjaga leluhur diselimuti kabut, sementara di kejauhan, hotel dan gedung-gedung Kota Sorong menjulang. Hutan Moi perlahan beralih rupa  dari ruang sakral menjadi ruang ekonomi.

Rumah batu di tengah kebun berdiri sebagai simbol penjaga abadi, walau di sisi lain galian batu kapur tampak menganga demi pembangunan kota. Pulau Buaya terlihat samar, laut Moi terbentang indah, menjadi rumah bagi beragam suku bangsa. Namun, keindahan itu menyimpan ironi  kupu-kupu yang berterbangan, air sungai yang mengalir, dan burung Yakob yang hinggap di damar semua sedang menunggu nasibnya di tengah desakan perubahan.

Pohon damar atau heyut satu-satunya yang tersisa di tengah hutan saya dekap dengan rasa waswas. Apakah lima atau sepuluh tahun ke depan ia masih ada, atau sudah ditebang demi kepentingan pasar? Di bawahnya, dedaunan kering terhampar rapi, bagaikan kasur alami yang disediakan alam. Jalur babi hutan disebut romen fene dalam bahasa Maybrat menjadi jejak kehidupan liar yang masih bertahan.

Ketika kembali ke mobil, suara burung masih terdengar. Mereka bernyanyi gembira menyambut pagi, namun juga meratap ruang hidup mereka semakin menyempit. Embun yang perlahan memudar dari pepohonan adalah metafora yang getir keindahan alam Moi akan hilang jika terus ditelan kerakusan manusia.

Antropolog Clifford Geertz pernah menekankan bahwa budaya adalah “jaring makna” yang ditenun manusia sendiri. Hutan Moi adalah bagian dari jaring makna itu  ia bukan sekadar ruang ekologis, tetapi juga ruang kultural dan spiritual. Sosiolog Anthony Giddens mengingatkan bahwa modernisasi sering menghadirkan disembedding tercabutnya manusia dari akar sosial dan ekologisnya. Di tanah Moi, pembangunan yang tak terkendali adalah wujud nyata dari proses itu.

Ahli ekologi Vandana Shiva menegaskan, “Hutan bukan hanya sumber daya, ia adalah rumah kehidupan.” Refleksi ini terasa nyata ketika pohon ditebang, bukan hanya kayu yang hilang, tetapi juga doa leluhur, nyanyian burung, dan napas kehidupan.

Tuhan sungguh sempurna menciptakan tanah Moi  rumah bagi berbagai suku, ras, dan satwa endemik Papua. Ia bisa menjadi surga jika dijaga, tetapi akan berubah menjadi neraka bila diabaikan. Salam