Sorong, Petarung.org- Di tengah hingar bingar dan gegap gempita Otonomi Khusus Papua Jilid 1 dan Jilid 2 serta Pemekaran Provinsi Di Tanah Papua lebih khusus Kehadiran Provinsi Papua Barat Daya di Sorong Raya.
Bagi sebagian manusia Papua berfikir, hadirnya provinsi untuk mengurangi aktifitas, pengangguran. Dengan hadiirnya provinsi orang Papua ramai-ramai bisa masuk sebagai Aparatur Sipil Negara atau minimal tenaga honorer di lingkungan pemerintahan yang baru.
Elit Papua lupa dan mereka pura pura buta kalau tidak semua orang asli Papua itu bernasip sama di dunia pendidikan dan kuliah hingga sarjana. Karena faktanya banyak anak Papua, yang putus sekolah dan pengangguran. Banyak diantara mereka yang memilih bekerja agar dapat mengatasi lapar dengan cara bekerja serabutan sebagai tukang sapu, buruh peabuhan di Feri, dan pelabuhan Sorong, Tukang ojek, tukang parkir, kuli bangunan, security, dan tukang dorong grobak di Pasar Sentral Remu Sorong dan mereka mencari makan dengan pekerjaan yang halal. Namun sayang pemerintah kota maupun pemerintah provinsi ini tidak banyak melindungi nasip mereka dengan kebijakan yang berpihak dan pembinaan yang berarti.
Dan anak-anak asli Papua dulu banyak memiliki lapangan pekerjaan di dalam pasar Sentral Remu Sorong, baik itu tukang ojek, parkiran, penjual kantong plastik, kondektur, jasa dorong kelapa kering, jasa jual air bersih, jasa bawa barang atau sekarang lasim masyarakat Kota Sorong tau adalah tukang gerobak.
Semua pekerjaan itu di area pasar sentral remua sorong mayoritas dilakukan oleh anak-anak asli Papua untuk bertahan hidup di Kota Sorong. Meskipun bekerja bersimbah peluh dan manahan berat beban, karena kejar setoran dan sewa gerobak, belum ongkos buat makan siang dan keuntungan buat keluarga.
Di pasar sentral remu hari ini, ada ratusan buruh tukang gerobak yang bekerja dengan menggunakan otot dan tenaga. Salah satunya Set Mugu Pria Asli Papua asal Segun pranakan IMEKO yang masih bertahan sebagai tukang gerobak di pasar sentral.
Ia sudah 20 tahun lebih bekerja sebagai buruh pengangkut barang dengan gerobak, itu pekerjaan halal. Para buruh untuk mengais rezeki dengan gerobak-gerobak kecil yang selalu lalu lalang di setiap sudut area pasar sentral, untuk membantu para pembeli untuk mengangkat jualan mereka ke taksi atau ke pangkalan ojek.
“Hari ini anak Papua yang gantungkan hidup di pasar dengan jasa tukang gerobak sudah tidak ada, kami hanya beberapa anak yang masi bertahan dan total kami OAP bisa dihitung dengan jari,” ujar Sem kepada media ini saat ditemui di Pasar Sentral Remu Sorong, Rabu, (13/8/2025).
Ia menambahkan, pekerjaan ini juga diminati oleh kaum migran dan tidak usa heran kalo hari ini jasa gerobak didominasi oleh orang lain yang nota bene bukan orang asli Papua.
“Mereka memang kaum migran atau kelompok urban yang merantau ke Kota Sorong, walau hanya sebagai tukang gerobak di pasar sentral. Bahkan hampir semua lorong itu mereka yang dominasi dan mereka yang memiliki jasa sewa gerobak yang disewakan di dalam pasar,” tandasnya.
Ia mengenang, dulu kalo kita cari modal untuk jualan kantong plastik di pasar ikan, itu modal awalnya kita cari kerja dengan tawar jasa sebagai jasa tukang pikul barang, jualan nangka atau kondektur, kita dapat modal cukup untuk beli plastik untuk jualan, namun semua pekerjaan itu sudah hilang.
“banyak pekerjaan di dalam pasar yang kami dulu lakukan namun hari ini faktanya seperti ini, kita beralih sebagai tukang gerobak,” kenang Sem.
Ia menjelaskan, bahwa ia pernah bekerja sebagai kondektur dan penjual kantong dan semua pekerjaan itu saya tekuni namun dua pekerjaan ini sudah hilang dan saya alih bekerja sebagai tukang gerobak.
Pekerjaan ini halal dan kita bekerja dengan kebebasan, tanpa tekanan, tidak ada patokan waktu dan bisa datang kapan saja tanpa harus terkena sangsi disiplin.
“Yang jadi tuntutan itu kebutuhan rumah tangga kita rela menyabung hidup, demi keluarga tercinta ya kita masuk saat pasar buka dan kita pulang saat pasar tutup,” ujarnya.
Soal suka-duka, pahit dan getirnya hidup kita alami, tak ada jalan lain karena pekerjaan di kota ini susah dan anak-anak Papua banyak yang nganggur dan tidak sedikit yang menjadi pelaku curanmor, narkoba, begal dan lain-lain, tidak mungkin kita kasi tinggal pekerjaan ini dan gabung dengan mereka apalagi tinggal dirumah malas-malasan tunggu pemerintah bantu kita pekerjaan.
“Itu tidak mungkin siapapun mau makan harus bekerja dulu berkeringat dulu baru bisa makan,”
Ia menambahkan soal pedapatan mereka jika lagi sepi, ya kita terima pendapatan kurang dan kadang hanya Rp 100.000 (Seratus Ribu Rupiah) kalo banyak kita dapat lebih Rp 250.000(Dua Ratus Lima Puluh Ribu Rupiah) perhari.
Kita dapat banyak biasa dari langganan yang sudah biasa kita antar barang mereka, dari harga Rp 30.000 kita biasa kasi turun Rp 20.000 namun kadang mereka kasi lebih dari Rp 50.000 untuk sekali angkut.
“Penghasilan kami tidak menentu, kadang Rp 100.000,- terkadang bisa mencapai Rp 300.000, namun jika dipukul rata-rata hanya Rp 100.000, kecuali ada hari raya kita bisa dapat Rp 500.000,” ujarnya.
Penghasilan yang pas-pasan tidak membuat pria paru baya yang domisili di Kompleks Malanu Kelapa Dua, Kota Sorong itu patah semangat untuk mencari nafkah, agar ia menyisihkan untuk makan, selebihnya dia sisakan untuk kebutuhan di rumah.
Pekerjaan ini sudah banyak ditinggalkan oleh saudara-saudara kita OAP yang biasa bekerja sebagai tukang pikul, sejak Pasar Sentral Remu kebanjiran kaum urban di Ibu Kota Provinsi Papua Barat Daya yang juga berminat untuk isi posisi pekerjaan ini.
“Ya… mau mabi mana lagi, pasar ini tempat semua orang cari makan dan kita tidak bisa batasi orang lain punya hak juga untuk bekerja dan mendapatkan pekerjaan. Biar kita jalankan pekerjaan ini sama-sama secara sukacita,” tambahnya.
Orang Asli Papua yang berharap rupiah dengan bergantung hidup bermodal tenaga, sebagai buruh tukang geroba juga masi ada sekalipun secara tidak langsung kita telah tersingkir ke pojok jalan kehidupan dan kelak kita hanya merana karena terus kehilangan lapangan pekerjaan. (CR1)


