Oleh: Petarung.org
Siang itu, Kota Sorong diguyur hujan ketika kami Petarung.org menyusuri jalan kompleks HBM menuju Arteri Km 10, niat kami hanya satu menemui seorang narasumber kami yang tidak lain adalah seorang anak muda Papua Maybrat yang pekerja keras, pengusaha muda Papua yang merintis jalan usahanya dari pinggiran pojok jalan kehidupan.
Selepas hujan, Jarum jam menunjukkan pukul 17.30 WIT, sore itu Jumat, 12 Desember 2025 saya mendapat pesan dari beliau kalau ia sudah tiba di Kota Sorong “Ade kaka baru turun dari Maybrat sore ini, ade posisi dimana ketemu kaka di kantor dulu?” ujarnya.
Setelah janjian, saya bergegas menuju kantor PT. Osa Muna Utama Group yang beralamat di Jalan Arteri, Kota Sorong, Papua Barat Daya. Setiba di sana, seorang sosok pemuda, buru-buru membukakan pintu dan menghampiri saya dan kita berjabat tangan. “ade sore, minta maaf kalo ade cari alamat kantor yang baru, sambil membuka pintu depan dan persilahkan masuk dan kami menuju ruangan Komisaris Osa Muna Utama Group di lantai dua ,” ujarnya.
Pria yang sudah tidak asing lagi bagi warga Maybrat, beliau adalah Harun Kareth, ia sudah seperti kaka kami sendiri. Ruangan ini sudah sering menjadi tempat kami diskusi dan berkeluh kesah tentang berdagang, tentang usaha, tentang motivasi. Terutama motivasi mengorganisir diri untuk terjun di dunia usaha.
Harun adalah panggilan akrab kami, bagi pria kelahiran Kohoin, 20 Desember 1981 dia adalah pemudah yang sederhana, murah senyum, bersahabat dan selalu santai jika diajak ngobrol. itu kesan pertama, bagi setiap orang yang baru mengenal pria dengan nama lengkap Harun Kareth (44).
Ia dilahirkan Sorong Selatan dan dibesarkan dalam keluarga yang sederhana di lingkungan Ayawasi Kompleks Sorpus, Kota Sorong kental dengan kultur budaya pekerja keras sudah terlihat dari keluarganya. Orang tua sebagai penggali pasir, tukang pemecah batu gunung (toki batu) dan berkebun secara nomaden. Hasil dari berkebun, mereka jual dan beli kebutuhan rumah tangga untuk kebutuhan makan sehari-hari untuk bertahan di kota ini.
Tidak berlebihan, jika usianya masih muda, ia telah mampu menunjukkan bukti dari sebuah kerja keras, bertahan berdagang dari modal kecil sampai sukses seperti sekarang. “Saya tidak punya apa-apa masa itu, saya hanya punya semangat, apalagi saya hanya tamat SD Negeri 24 Sorpus dan sempat sekolah SMP kelas 1 di SMP ABT Kota Sorong, tapi saya keluar sekolah,” kenangnya.
Sebagai pemuda yang hanya dengan bekal ijazah SD, saya memang tidak ditakdirkan jadi pejabat sehingga saya sadar dengan kondisi itu, saya harus kerja keras. Semua perkajaan serabutan saya lalui, saya ikut kondektur dan ikut mereka yang mekanik, saya mulai tau bawa mobil, sebelum bawa mobil saya sempat jualan ikan, saya perna kerja sebagai buruh di kapal ikan, saya ikut melaut sampe saya juga bisa bawa kapal ikan.
Semua pekerjaan serabutan itu, saya kerja untuk bertahan hidup. Saya sempat berhenti jualan ikan dan mulai bawa mobil untuk layani orang dan beberapa keluarga Maybrat yang pejabat, mau bagimana lagi itu resiko dan pekerjaan ini setimpal bagi saya yang hanya tamat pendidikan dasar.
“Semua kerja serabutan di kota ini, saya perna kerja untuk bertahan hidup. Mulai dari kerja sebagai buruh di Pelabuhan Kurnia, kondektur, sopir taksi, jual gaharu, jualan ikan dan tukang las pipa semua kerja serabutan itu saya jalani dengan tabah sukacita,” katanya.
Harun Kareth dan Pesan Inspiratif
Ia mengatakan, berdagang memang bukan budaya orang Papua (Maybrat), budaya orang Maybrat soal dagangan itu hanya barter oleh orang tua dulu. Berdagang hanya untuk makan dan kebutuhan rumah tangga, orang Papua kalo dari sekarang tidak benahi diri, tidak terjun ikut apa yang kita lakukan di jalur usaha dan berdagang hari ini, maka 5, 10 sampai 20 tahun ke depan kita akan tertinggal.
kenapa kita tertinggal, karena setiap hari kapal putih masuk di Kota Sorong. Setiap hari kapal putih masuk dua kali dan bandara udara 1 hari 20 kali penerbangan. Kita harus ingat, kapal putih masuk itu melahirkan 1.500 orang setiap hari, pesawat terbang melahirkan 1000 orang setiap bulannya.
Orang nusantara hadir di Papua, tidak merampas posisi Birokrasi, CPNS, PNS, Pejabat, Wakil Kepala Daerah, DPRD, DPR RI, DPD, DPRP, DPRD mereka hadir disini mereka tidak rampas posisi ini, mereka justru berproses matang siapkan diri siapkan modal baru masuk ke ruang ini. Kalo hari ini mereka dominasi itu karena mereka suda hitung matang, hitungan itu baru untuk politik, birokrasi dan parlemen. belum lagi tujuan mereka untuk kuasai niaga, berdagang, pariwisata, pertaian dan lain-lain.
Tujuan mereka hadir disini adalah bagaimana mereka bersaing dan menguasai Kota Sorong dan menguasai Tanah Papua khusus untuk dunia usaha, kuliner, niaga, dunia dagang dan lain-lain. begitupun dengan 20 tahun ke depan di bumi A3 mereka punya target pasar.
Sementara orang Papua terutama kita di Maybrat, mereka malah sibuk menghadirkan pemekaran provinsi, kabupaten, kota. Tetapi mereka lupa, dampak dari pemekaran itu hadir akan dinikmati sendiri oleh elit Papua, Pejabat Papua dan para Dewan Perwakilan Rakyat Papua. Sementara masyarakatnya terlantar, manfaat dari pemekaran wilayah ini hadir untuk siapa? Manfaat dari pemekaran wilayah ini hadir untuk urus manusia yang mana?
Kalo kita jujur, kehadiran semua itu tidak ada manfaat untuk masyarakat kecil karena yang dapat manfaat itu justru saudara-saudara kita dari luar tanah Papua. mereka yang menikmati pembangunan, mereka yang menikmati pemekaran dan mereka yang menikmati dana Otsus juga, karena mereka menguasai niaga dan dunia dagang mereka kendalikan sehingga semua uang itu putar di kantong mereka.
Orang Papua tetap begini, sehingga orang Papua hanya berkelahi untuk mendapat paket kerjaan kontraktor Papua, berkelahi untuk dapat jabatan bagi PNS, berkelahi untuk dapat bantuan modal usaha, CPNS, Honorer, dan P3K, mereka berkelahi untuk dapat hibah dana otsus dan lain-lain. itu bagi yang bisa melawan untuk mendapatkan hak mereka. bagimana dengan mereka yang pasrah dengan keadaan, mereka hanya menjadi budak politik untuk ASN yang per lima tahun hadir tipu mereka dengan janji janji kesejahteraan.
Sementara mereka lupa yang menikati semua uang otsus ini masyarakat kecil tidak merasakan manfaat apa pun. Orang papua yang menikamati mungkin mereka pejabat, keluarga pejabat, keluarga ASN, selain gaji mereka di DPR, di PNS mereka masi main licik untuk dapat hibah dari dana Otsus dan mereka tidak salurkan baik untuk masyarakat, hal ini yang salah. Otsus sudah jelas untuk pendidikan 30%, kesehatan 20% dan untuk pengembangan ekonomi 50% uang 50% untuk pengembangan ekonomi ini dimana? pemerintah makan dan pake urus siapa? semua tidak jelas.
Saya hanya tamat SD dan masa itu saya tidak tau buat proposal, satu kali saya ke warnet buat proposal kasi masuk untuk minta dana di Sorong Selatan (Maybrat masa itu masi wilayah Sorsel), pemerintah sudah bantu saya uang, tapi uang tidak sampai di tangan saya sampai detik ini. Bahkan saya bikin proposal dari kabupaten masi satu dan provinsi masi satu, sampai sekarang provinsi sudah 6, kabupaten sudah 5 di Sorong Raya ini, saya tetap lakukan usaha secara mandiri.
“Kalo kita hanya duduk berharap, sayang waktu kita tersita habis. Kalo mau bersaing dan menjadi tuan di atas negeri sendiri, mari rubah cara berpikir kita dan kita mulai mencoba dengan berdagang. Berdagang itu memang bukan budaya kita, tapi apa salahnya kita mencoba dari pada kita duduk tunggu tes pegawai,” ujarnya.
Harun Kareth dan Kisah Mobil Tua
Setelah mencoba semua kerja serabutan, saya memilih untuk coba keberuntungan sebagai sopir untuk keluarga saya yang pejabat. Sebagai pemuda Papua yang hanya bekal ijazah SD, kondektur itu pekerjan yang layak untuk saya sehingga saya ikut kondektur dan sesekali saya ikut mereka yang mekanik, saya mulai tau bawa mobil, sebelum bawa mobil saya sempat jualan ikan, saya kerja sebagai buruh di kapal ikan, saya ikut melaut sampe saya sempat bawa kapal ikan juga.
Semua pekerjaan saya kerja untuk bertahan hidup, saya sempat berhenti jualan ikan dan mulai bawa mobil untuk layani orang dan beberapa keluarga saya yang pejabat. sesekali saya lihat uang mereka banyak masa itu, saya sudah buka suara untuk minta bantuan modal usaha ke mereka (beberapa keluarga yang saya kerja untuk mereka), bahkan pejabat yang mereka kenal. saya sampaikan juga ke beberapa pejabat itu namun mereka tidak percaya saya.
Saya stress ingin minta modal ke siapa? mau bikin proposal ke pemerintah tapi saya tidak tau bikin proposal. Saya perna satu kali nekat ke warnet hanya untuk nonton cara buat proposal tapi tetap saya tidak paham.
Saya coba datangi pengetikan dan minta tolong mas disana bantu bikin proposal satu kali, waktu provinsi masi satu di Jayapura, saya buat proposal untuk kasi ke Gubernur Alm. Yap Salossa, beliau sudah bantu tapi harus saya ambil di Sorong Selatan karena kabupaten Maybrat masi masuk wilayah administrasi Sorong Selatan tahun 2005.
Bantuan itu sudah ke luar, tetapi sayang bapak Gubernur Papua itu meninggal dunia dan bantuan itu hilang sampai hari ini. Saya kecewa berat dan saya sempat bakar jembatan kayu di Fratafen masa itu.
“Saya suru orang buat proposal di pengetikan untuk saya antar kasi Yap Salossa di Jayapura, mungkin karena saya sial saat itu proposal saya saya tidak tau dijawab atau tidak saya tidak tau lagi karena Bapa Yap salossa beberapa minggu kemudian meninggal dan saya menyesal dan saya sempat mara dan bakar jembatan kayu di Fratafen untuk luapkan kekecewaan,” ujarnya.
Terpaksa saya Kembali lagi ke pekerjan lama bertahan sebagai sopir, namun kali ini saya janji tidak akan sopir untuk orang lain lagi. Apalagi untuk keluarga Maybrat, saya dalam kesempatan kerja dengan mereka selalu saya lihat uang mereka banyak, kirim untuk anak-anak sekolah, uang mereka untuk jalan-jalan dan foya-foya tanpa infestasi untuk usaha mereka, saya ingin uang itu sebagian untuk modal usaha tapi mau buat bagimana? sudah bilang tapi tak dianggap dan ada yang janji namun tidak tepati.
saya lihat ada yang kirim untuk istri-istri mereka di luar kota, biayai simpanan-simpanan mereka di luar rumah, saya lihat uang besar itu saya ingin pinjam tapi sayang, mereka tidak tawarkan bantuan, apalagi kasi saya pinjaman.
Mereka pejabat, pendidikan dan pemahaman mereka maju mereka layak hidup mapan, sementara saya hanya tamatan SD dan tidak tau banyak hal. Saya hanya harap uang dari hasil kerja saya sebagai sopir untuk mereka yang saya sisihkan sebagai modal usaha.
“Beberapa pekerjaan yang perna saya coba seperti jualan ikan ambil dari Pelabuhan kurnia, saya jualan cicak kadal untuk makanan buaya, saya kondektur dan saya perna jualan gaharu serta ikut melaut mancing ikan tapi mungkin semua pekerjaan itu bukan rejeki saya,” kenanganya.
Saya kembali kerja bawa mobil untuk orang luar selain pejabat Maybrat, dan saya kerja untuk direktur rumah sakit RSUD Kabupaten Sorong masa itu yang direktur adalah Bapak Nikijulu, lepas dari beliau saya kerja terima panggilan dari beberapa keluarga untuk bawa mobil mereka saat mereka capai atau ke Maybrat jalan jauh mereka butuh jasa sopir, mereka panggil saya untuk bawa mobil mereka.
“Dalam perjalanan panjang itu, saya merenung sejenak dan berdiskusi dengan batin, sampai kapan saya harus kerja melayani orang seperti ini, sampai kapan saya bertahan hanya untuk nasi satu piring untuk keperluan makan minum saja sudah seperti ini, apalagi ke depan kalo Tuhan kasi saya pasangan hidup dan anak, saya akan malu dengan kondisi ini, Tuhan tolong saya,” kenangnya.
Sampai suatu hari, saya dapat informasi ada pegawai kantor pos yang mau jual mobil dum mereka yang bodi rusak dan turun mesin. Dan saya lihat mesinnya masi bagus sekalipun turun mesin sudah beberapa kali.
Mereka jual mobil itu 15 juta dan saya DP 10 juta, sisanya tunggu saya berbaiki bodi dan perbaiki mesin kalo sudah jadi saya mencari untuk tutup yang sisa. Mobil itu untuk penumpang Sorong Klamono, saya berpikir untuk mobil ini saya pake usaha untuk angkat barang dagangan saya untuk berdagang dan saya mencoba untuk pertama kali jualan bensin.
Sebagai orang Maybrat yang Pendidikan kurang banyak, saya pikir jalan saya hanya di berdagang barang sembako dan jualan minyak tanah dan bensin. Sekalipun orang Maybrat menganggap dagang ini nanti tidak bisa sukses, tidak ada masa depan tidak papa saya coba saja.
“Saya tap minyak untuk pertama kali dan kasi naik ke Maybrat, orang tua saya jualan tapi saya rugi karna penghasilan tidak catat baik karena yang jaga minyak adalah bapa saya,” ujarnya.
Saya kembali usaha minyak di kota yang saya lakukan juga penghasilan tidak banyak, saya lihat peluang itu dan saya coba berpikir untuk mobil ini saya tidak akan pake cari penumpang dan saya fokus, coba jualan sendiri tanpa titip di orang lain yang jaga.
Saya coba dagang 3 bulan sendiri, tanpa titip ke orang dan pendapatan cukup. Sehingga saya ambil keputusan untuk coba jualan sendiri 1 tahun. Percobaan itu bawa hasil lumayan dan saya mulai temukan peluang dan saya sabar untuk berdagang, hari ini mobil itu menjadi saksi dari semua keluh kesah dan semua asam garam kehidupan yang saya lalui diawal merintis usaha.
Mobil ini saya tidak akan pake, saya akan menghargai dengan merawatnya sebaik mungkin dan mobil ini saya pajang akan di rumah saja. Saat ditanya apakah ada keinginan menjula mobil tua itu, harun menjawab “Kalo ada yang mau beli mobil itu 15 Miliar pun, saya tidak akan jual. Itu mobil pertama yang saya miliki dengan susa payah, kasi biar mobil itu jadi mobil legend dalam rumah saya,” ujarnya.
Harun Kareth dan Pencapaiannya
Hari ini beliau punya 10 SPBU, masing-masing 1 SPBU di Sorong Selatan, 1 SPBU di Tambrauw dan 1 SPBU di Kabupaten Sorong dan 5 SPBU di Kabupaten Maybrat. Kalo Tuhan sayang, saya rencana 2026 buka 1 SPBU lagi dalam waktu dekat di wilayah Batu Payung Kabupaten Sorong. Sementara untuk minyak tanah, saya punya 1 agen minyak tanah di Maybrat. “Semua usaha ini punya ijin resmi dan saya punya 10 ijin usaha yang bergerak di bidang migas,” ujarnya.
Untuk armada saya punya bebebrapa armada sendiri untuk jalur darat, saya bersyukur saya dipercayakan oleh pertamina untuk transportir minyak untuk jalur darat. Saya anak Papua Maybrat yang tidak pelit ilmu, hari ini bisa tanya orang yang kenal saya, saya bantu beberapa teman-teman bukan hanya di Sorong. Saya bantu di Sorong Selatan, Maybrat, Tambrauw dan Kabupaten Sorong dan ada satu teman yang saya bantu mereka di Nabire di Papua Tengah.
Untuk maybrat saya bantu banyak teman teman anak-anak muda, saya bukan ingin tujuan politik. Saya ini hanya punya jasa SD tidak mungkin saya jadi PNS atau Bupati jadi saya fokus saja untuk berdagang. Saya ingin anak-anak muda Maybrat harus mental baja, dalam hal usaha.
Saya tidak perna dapat bantuan dari pemerintah, saya hanya usaha mandiri sampai hari ini, Maybrat hari ini pemerintah selalu bantu orang yang mereka ingin bantu, saya tidak perna dapat dana bantuan apa pun dari pemerintah, tapi saya bantu banyak pejabat Maybrat untuk bergerak di bidang usaha Migas.
“Saya yakin, Tuhan meihat saya punya kesabaran itu dan Tuhan jawab saya punya kerja keras selama ini untuk bangun usaha,” kenangnya.
Ia menambahkan, selain punya agen minyak tanah, punya SPBU, saya juga punya rumah makan, toko sembako, toko bangunan, saya punya usaha dibidang kontraktor dan jasa konstruksi dan saya juga punya kelompok tani.
Soal proposal, seperti di awal saya bilang saya bikin proposal dari provinsi masi satu, sampai hari ini provinsi enam ini saya tidak dapat bantuan dari pemerintah satu pun, saya bergerak secara mandiri. dan saya bergerak bantu banyak orang yang mau berusaha. Hari ini, justru saya bantu banyak pejabat dan kepala daerah untuk bangun usaha yang sama dengan saya.
Saya dorong anak anak muda Maybrat untuk sama-sama kita bergerak bangun diri lewat dagang dan saya tidak dapat satu rupihah pun dari pemerintah tapi saya berhasil, jadi saya selalu kasi motifasi kepada mereka untuk juga dagang supaya kita sama sama sukses, apalagi adik-adik ini punya punya pendidikan yang maju dan semua rata-rata sarjana pasti pemahaman soal usaha akan lebih mempermuda. “kalo dulu saya rintis di awal, siapa tang pandu dan tuntun saya, jalan di depan saya gelap dan jalan di belakang saya juga gelap, saya jalan sendiri dengan iman dan Tuhan yang jaga saya dalam gelap itu,” ujarnya.
Jadi saya harap, hari ini mari adik-dik geluti dunia usaha, karena Maybrat ini kita punya tanah, Sorong ini kita punya tanah, kita jangan jadi penonton tapi kita harus jadi tuan di negeri sendiri. Dengan jalan kita harus kerja keras dan jadi pedagang, kalo dilihat kaka ini bertahan dan jalan di awal dengan sakit hati, tapi kaka sabar untuk akhiri dengan sukacita sata tetap berdagang hanya untuk sukses.
Setelah saya keluar sekolah dari SMP kelas 1 di SMP ABT Sorong, saya berpikir bahwa saya bukan ditakdirkan jadi Pegawai Negeri Sipil, karena saya dilahirkan dari anak pekerja pemecah batu dan petani, saya berpikir bahwa saya harus bisa hidup, apalagi hanya Pendidikan seadaanya tidak ada jalan lain selain kerja keras.
Sukses ini bukan dari bantuan, sukses bukan dari Pendidikan, saya siap dan selalu siap jadi diri saya sendiri untuk berdagang dan beri inspirasi bagi anak anak-anak Maybrat lain untuk berusaha, karena saya mau adik-adik juga harus hebat.
Bukan cuma PNS, bukan cuma kontraktor, bukan cuma DPRD atau jadi pegawai honor yang bisa hidup kita tamat SD juga berhak sukses, kalo memang kita ada kemauan.
“Saya sudah buktikan itu, bahkan saya hampir pena pata di SD, waktu di SD Sorpus namun saya sabar dan ada kemauan hasil itu kita nikmati sekarang, saya sampaikan ini hanya untuk kasi motivasi adik-adik, bukan tujuan untuk promosi diri, saya tau orang Maybrat itu tidak bisa mengakui kelebihan orang lain, jadi yang saya bicara ini bukan untuk mengakui kelebihan, saya murni ingin kasi motivasi bagi adik-adik yang mau berusaha ” kenangnya.
Hari ini saya punya dagangan sukses dan saya punya karyawan lebih dari 56 orang, itu karyawan tetap dengan gaji lumayan dan ada karyawan yang gaji lebih dari UMP semua tergantung kepercayaan dan kejujuran beberapa karyawan seperti sopir, mekanik, operator alat berat, akuntan keuangan, pegawai administrasi, dan operator dan admin untuk PT, sementara yang untuk SPBU, toko, warung dan petani gaji mereka berfariasi.
orang Maybrat kalo sukses pasti lirik jalan politik sebagai jalan hidup untuk melayani, dan saya tidak mungkin ke jalan itu saya punya pendidika apa? saya tidak bisa salahkan takdir, apalagi salahkan orang tua yang melahirkan saya dan tidak mampu jamin saya sekolah, kalo dulu saya sekolah sampai sarjana juga mungkin saya hari ini su jadi PNS juga, Cuma jalan hidup ini, Tuhan sudah atur dengan Tuhan punya kerelaan hati sendiri, Tuhan berkati dengan Tuhan punya kehendak sendiri. Tuhan berkati dan Tuhan tidak berkati Tuhan tetap baik itu yang kita orang Maybrat lupa bagian itu.
“Berawal dari mobil dum kantor pos yang dilelang harga 15 juta mobil rusak antara timbang dan tidak mesin bagus Cuma bodi yang rusak, saya sempat pake angkat penumpang. tapi polisi setiap bulan jaga di jalan untuk swiping kendaraan roda empat, saya juga kewalahan. Saya terpaksa suru bapa Edi Koromari untuk urus saya punya surat ijin jalan, SIM dan yang perbaiki STNK, jaman batu itu kaka Au Kadakolo di Samsat Sorong, buat saya bisa ada napas untuk mencari,” kenangnya.
Saya latar belakang orang tua tidak punya, bukan orang berada, saya bukan lanjutkan usaha yang orang tua warisi, saya bukan pewaris saya ini perintis. Kita punya orang tua ini toki batu, gali pasir, bikin kebun hasil dari semua kerja mereka jualan dan kerja itu dapat uang baru beli barang pulang masak untuk kita makan.
“Semua cara saya lakukan untuk hidup, asal jangan kita pencuri. Saya lihat tantangan hidup ini keras dan kita juga harus keras jangan kita jalani hidup ini seenaknya,” kata Harun.
Kita tidak lihat hal ini baik, untuk siapkan diri kita maka siap-siap kita akan tidak dihargai karena kita tidak akan punya barang apa-apa, apalagi kita datang dari suku dan budaya Maybrat. orang selalu pandang Bobot dan bangsawan sebagai standar nilai diri manusia.
“Saya perna rasakan itu saat bangrut dan saya gagal di semua pekerjaan yang perna saya lakukan di awal-awal usaha, itu tidak buat saya mundur. Untuk jualan minyak juga saya sempat kecewa dan saya hampir patah semangat,” kenangnya.
Ia mengisahkan, suatu kali kasi minyak saya bapa jual dan saya tidak punya uang, waktu yang sama saat saya ingin cek keuangan uang minyak hasil jualan habis, minyak habis dan saya tidak puang seribu rupiah pun di sak dan saya lihat hal ini terjadi 5x sampai 6x dan saya bilang coba saya sendiri yang jualan saya punya barang.
“Saya jualan sendiri, saya punya perjalanan untuk jualan minyak ke Maybrat, awal-awal itu mulai ada harapan sekalipun perjalanan di awal itu gelap. Jalan di depan gelap dan jalan di belakang itu gelap, siapa yang mau tolong saya, siapa yang mau tuntun saya untuk jualan minyak. Saya kerja sendiri dengan sabar dan tekun dan saya berusaha hidup jujur dengan diri sendiri, mungkin hal itu yang pemilik hidup perhitungkan dan Tuhan buka jalan untuk saya hari ini,” ujarnya.
Ia menambahkan, kalo ada yang sekarang saya bina, berarti sudah ada jalan, saya dulu tidak punya uang, saya tidak tau bikin surat hanya modal kemauan, kalo tidak ada kemauan memang tidak bisa, kemauan harus utama.
“Saya awalnya Main sembako, baru pindah bermain di BBM, saya sendiri beli beberapa trek, tengki, hilux , expander, avansa, L300, 2 Missubisi, L300, blakos, tronton mini, 2 exsavator, 4 moleng. Itu bukan karna saya pintar, saya hanya bersyukur dan kerja keras. Jalan itu yang sementara saya bangun untuk anak-anak Maybrat supaya semua harus kita maju sama-sama, cuma sayang pemerintah yang selalu pilih kasi untuk kasi hibah dan bantuan untuk hal-hal yang tidak bermanfaat dan cara ini yang harus kita desak pemerintah rubah, semua yang saya jelaskan ini bukan untuk banggakan diri, saya lebih ingin beri inspirasi untuk anak-anak muda Maybrat, karena semua yang hari ini saya jalani bukan warisan, kalo warisan saya malu untuk motivasi orang lain” ujarnya.
Saya selalu memberi teladan bagi adik-adik di Maybrat, kalo adik-adik mau dengar pejabat dan dengar anak pejabat juga silahkan untuk kasi motivasi soal binsis tapi masyarakat Maybrat harus ingat, pejabat siapapun yang hari ini sukses itu pantas, karena mereka pejabat dan pendidikan tinggi, anak-anak mereka sukses dan beri motivasi tapi mereka tidak perna merasakan penderitaan, karena mereka jalan itu ada donasi, ada yang bemper, ada yang jadi pengawal dalan rintis usaha mereka, mereka mau motivasi adik-adik silahkan tapi harus sampai berhasil jangan motivasi sedikit dan arahkan kerja politik praktis yang banyak.
Pengusaha Maybrat banyak mengaku bangga kerja untuk organisasi provesi yang bergerak dibidang usaha, bahkan banyak yang mengaku diri pengusaha, cuma manfaatkan posisi pengurus untuk dapat hibah, dapat bantuan, jual nama organisasi untuk dapat modal namun tidak punya usaha, itu yang tidak boleh, pemerintah harus jujur, dana otsus 50% untuk pengembangan usaha harus data semua anak muda maybrat yang punya usaha untuk pemerintah bina, jangan biarkan mereka menderita seperti saya. Otsus itu sudah datang 25 tahun (2001-2022). dan sudah diperpanjang 20 tahun lagi dari tahun 2022-2041 Otsus jilid 2 selesai. Pertanyaan hari ini, pemerintah punya konsep untuk majukan ekonomi anak-anak Maybrat itu seperti apa, pemerintah punya konsep majukan ekonomi mama-mama Maybrat dan petani di Maybrat itu seperti apa? hal ini yang pemerintah tidak serius untuk lihat.
Kalo pemerintah ingin ada perubahan di Maybrat, pemerintah harus beri bantuan modal dan dampingi sampai anak-anak muda sukses, mama-mama Maybrat sukses, sampai mereka punya usaha besar baru lepas mereka, kita lihat ratusan kampung di Maybrat punya pasar tapi pemerintah miskin konsep untuk tata semua pasar ini, modal ekonomi 50% dari dana otsus itu harusnya pemerintah bina mama-mama, bina perempuan Maybrat dan pemuda Maybrat untuk usaha supaya kasi rame pasar yang pemerintah bangun megah saja baru tidak ada yang jualan itu.
Memang kita tidak bisa menyangkal, orang Maybrat punya gaya hidup, lahir dari kandungan mereka belum bersyukur, mereka dipelihara dan sibesarkan oleh orang tua mereka juga mereka belum bersyukur, mereka dijamin susa payah dari sekolah dasar sampai sarjana mereka tidak bersyukur, nanti mereka sudah jadi PNS dulu baru mereka bersyukur.
Itu cara yang salah, kita harus jadi tuan di negeri sendiri itu kita punya kebun, kita punya kios, kita punya kolam ikan, kita punya usaha usaha dan dagangan, yang selalu ada untuk topang kebutuhan kita di kampung. Jangan kasi ruang itu orang lain yang Kendalikan kita disini, ini kita punya negeri, ini kita punya kampung halaman dan Maybrat itu tanah air kita, kita harus kendalikan dan pemerintah harus mendukung, bukan pemerintah bangun diri mereka, bangun ekonomi mereka, bangun keluarga mereka sendiri..
Saya Pendidikan terbatas, saya hanya bantu orang lain untuk harus lebih dari saya, saya sekali lagi tidak ada urusan dengan Politik, politik itu orang yang sekolah punya pekerjaan, orang seperti kita yang pemuda dan pedagang macam kita hanya kerja urus dagangan.
Kalo ada pejabat di Maybrat, DPRD di Maybrat dan calon kepala daerah di Maybrat yang maju dan minta dukungan, sebagai pengusaha yang sukses kita harus adil, kita harus jujur dan mendukung mereka semua, tidak boleh pilih kasi, tidak boleh ada sentimen dan buat kubu atau terjebak dalam sekat politik praktis, yang merugikan masyarakat.
“Karena kesuksesan mereka yang kelak dinikmati hanya keluarga mereka, hanya kelompok kepentingan mereka, itu yang salah selama ini terjadi di Maybrat dan bagaimana Maybrat mau maju, Kalo model dan pola seperti ini yang mereka bangun. Memajukan Maybrat itu bukan hanya kemajuan pejabat, kemajuan ASN, kemajuan keluarga mereka, kemajuan Maybrat itu, kemajuan mama-mama di pasar-pasar kampung, kemajuan Maybrat itu terjadi di diri pemuda-pemuda maybrat di kampung yang bangun usaha, bangun dagangan dan semua itu disiapkan oleh pemerintah dan disampingi secara baik dengan dana otsus 50% untuk pengembangan usaha” ujar pria kelahiran 20 Desember 1981 yang hari ini berulang tahun dan ia rayakan secara sederhana bersama keluarga besar Kompleks Ayawasi Sorpus dalam pesta Natal Kompleks yang dilakukan hari ini. Sabtu, 20 Desember 2025 di lingkungan masa kecilnya. (*)




