Oleh : Elis *

PAGI itu langit di atas Kota Sorong tampak kelabu. Kabut tipis menggantung di atas pucuk-pucuk pohon flamboyan yang belum sempat berbunga.
Dari jendela rumah sakit John Piet Wanane (JPW), samar-samar kulihat bocah-bocah kecil bermain riang seolah tak da masalah. Udara pagi nan segar dan biasa membawa harapan ini terasa berat, seolah turut menahan napas, menanti sesuatu yang tak pasti.
Ruang Tulip, tempatku bertugas pagi itu, belum sepenuhnya terisi. Suara langkah kaki perawat menyentuh lantai keramik dengan nada yang teratur. Suara mesin infus berdenting pelan. Kadang disela suara tangis kecil atau keluhan pelan dari pasien.
Aku melangkah masuk, menyapa rekan-rekan yang sudah lebih dulu datang.
“Selamat pagi, semoga hari ini tidak terlalu dramatis,” ujarku sambil tersenyum.
“Kalau ko yang jaga, Elis, biasanya memang dramanya level tinggi,” canda perawat Yohana sambil tertawa.
Baru saja aku duduk membuka buku laporan malam, seorang ibu dari keluarga pasien datang tergopoh-gopoh.
“Sa pu anak perempuan…, dia tidak bisa tidur, infus rusak, dia gelisah terus sampe subuh.”
Pasien itu, kebetulan namanya Elis juga. Mungkin itu sebabnya aku merasa ada keterikatan batin. Namanya sama denganku. Ia masuk kemarin sore dengan keluhan sakit kepala hebat, tubuh lemas, tremor, dan kejang berulang.
Kata dokter, bisa jadi awal dari stroke. Tapi bagi keluarga pasien, itu tak penting. Yang mereka lihat: obat diberi, tapi bukannya sembuh, malah tambah gelisah.
Aku langsung ke kamarnya. Elis si pasien, matanya sembab. Tubuhnya tampak menegang setiap beberapa menit. Seperti ada badai yang belum tuntas di dalam dirinya. Infusnya memang rembes. Nafasnya cepat.
Aku mencoba bicara, tapi dia hanya menggeleng pelan. Perlahan aku pasangkan selang oksigen ke hidungnya, sementara tangan satu lagi kugunakan mengganti infus.
“Tenang, nona… sa ada di sini,” bisikku.
Ia memejamkan mata, dan aku bisa merasakan, bukan hanya tubuhnya yang butuh dirawat. Ada sesuatu yang terluka lebih dalam dari sekadar urat saraf.
Tak lama, dokter jaga masuk. Dengan nada terburu-buru, ia langsung bicara dengan keluarga. Tapi nadanya tinggi.
Tidak ada waktu untuk menjelaskan panjang. Keluarga tersinggung, dan ketegangan seperti kabut tipis mulai memenuhi ruang Tulip.
“Sudah cukup, dok… izinkan saya bantu jembatani,” kataku sambil tersenyum, meski dalam hati ada gemetar halus.
Aku duduk bersama keluarga. Menjelaskan pelan-pelan apa yang sedang dilakukan dokter, bahwa obat belum sempat menunjukkan efek maksimal. Lalu aku kembali ke dokter dan menyampaikan ulang keluhan keluarga: lengkap, tenang, dan utuh.
Dokter akhirnya setuju untuk melanjutkan perawatan seperti biasa. Meski sebelum keluar dari ruangan ia sempat menoleh ke arahku dan berkata sambil setengah bercanda:
“Kalau ada apa-apa, nanti ko yang tanggung jawab ee.., Suster Elis.” Aku tersenyum, “Tenang, dok. Sa tanggung. Tapi dokter juga jangan lupa senyum, karena pasien sembuh itu bukan cuma soal obat, tapi juga soal rasa tenang.” Kami tertawa tipis.
Saat semua tenang kembali, aku duduk di samping Elis, si pasien dan menggenggam tangannya. Ia membuka mata pelan.
“Ko tahu…,” ujarnya dengan suara pelan, “saat tadi ko pasang infus, ko ingatkan sa pada sa pu kakak perempuan di kampung. Dia juga biasa bilang: ‘Tenang, sa ada di sini.’ Tapi dia sudah pergi. Sudah mati.”
Aku terdiam.
“Terima kasih… karena hari ini, ko bukan cuma perawat. Ko sudah seperti dia.”
Hatiku seketika hangat. Ada sesuatu yang tak tertulis di buku panduan medis, tak dijelaskan di ruang kuliah keperawatan bahwa kadang, kesembuhan pertama datang dari rasa tenang, dari sentuhan yang tulus, dari manusia yang hadir sepenuhnya.
Langit di luar kini mulai terang. Matahari malu-malu menembus celah awan, mewarnai ubin putih Rumah Sakit JPW dengan cahaya kekuningan. Daun flamboyan mulai bergerak pelan, seolah menyambut pagi yang benar-benar baru.
Di ruang Tulip, suara tawa kecil mulai terdengar, suara keluarga yang memanggil pasiennya dengan harapan baru.
Dan aku? Aku hanya berdiri di sudut ruangan, mengenakan seragam medis yang sudah mulai kusut.
Tapi di balik itu, ada jantung yang masih belajar mencintai pekerjaan ini, tidak sekadar karena sumpah profesi, tapi karena aku percaya, bahwa di balik setiap detak mesin infus, selalu ada ruang untuk kasih dan kemanusiaan.
Nama kami sama: Elis.
Tapi mungkin, kisah kami berbeda. Tapi pagi ini, kami saling sembuhkan.
“Ketika langit kelabu membuka jalan bagi terang, dan ruang Tulip jadi tempat di mana luka bukan hanya soal tubuh. Tapi juga tentang hati yang perlahan-lahan sembuh.”
(Tulisan ini didasarkan kisah nyata, yang ditulis oleh Suster Elis)




