Oleh : Manuel Tahrin (*)
Langit biru di atas Kampung Susumuk, Distrik Aifat, Maybrat, siang itu tampak tenang. Tapi hati kami sekeluarga justru penuh gejolak.
Bapak saya, yang telah bertahun-tahun mengajar di SD YPK Emaus Susumuk, akhirnya harus mengakhiri tugasnya dan dipindahkan ke SD YPK Ebenhezer Yukase. Saya tidak pernah menginjakkan kaki di kampung itu sebelumnya.
Hanya cerita Mama yang kadang-kadang menyebut Yukase sebagai kampung kelahirannya, tempat ia tumbuh besar sebelum menikah dan ikut Ayah ke tempat tugas.
Yukase memiliki kepanjangan, Yubiyah, Karethubun dan Seta. Salah satu kampung tertua di wilayah Distrik Ayamaru Utara, wilayah seberang Danau Ayamaru yang legendaris.
Perjalanan menuju Yukase bukan hal yang mudah. Kami berjalan kaki, menembus rimbunnya hutan dan jalur setapak panjang nan sepi. Di beberapa titik, kami harus menyeberangi sungai kecil, merasakan panasnya batu, tajamnya ranting, dan dinginnya tanah.
Tapi langkah Ayah yang tegas di depan kami seolah memompa semangat. Aku dan adikku, Yohusua, bergantian menatap wajah Mama yang tetap tenang, meski peluh menetes di dahinya.
Sesampainya di Yukase, kami terdiam.
Pasir putih membentang seperti permadani yang disulam cahaya matahari. Pohon-pohon cemara menjulang seolah menyambut kami dalam keheningan yang khidmat.
Angin sepoi-sepoi membawa aroma khas hutan dan danau, membuat jantungku berdebar. Bukan karena lelah, tetapi karena kagum.
“Mama, kampung ini bagus sekali,” kataku, sambil mataku menyapu ke segala arah. “Pasir putih begini… ini seperti di pantai saja.”
Mama tersenyum. “Iya, Nak. Kampung ini memang begitu. Pasirnya rata, putih, bersih.”
Keluarga dari pihak Mama menyambut kami dengan hangat. Tawa, pelukan, dan cerita silih berganti. Ada keharuan yang tak bisa kujelaskan, seperti saya sedang pulang ke tempat yang selama ini menunggu.
Keesokan harinya, Ayah menyerahkan surat pindah ke sekolah. Saya masuk di kelas enam SD YPK Ebeheser Yukase, sementara Yohusua duduk di kelas lima.
Saat saya masuk kelas, saya langsung duduk di samping seorang anak berkepala cepak dengan senyum lebar. Namanya Samuel Arne, tapi dia biasa dipanggil Semar.
Hari-hari selanjutnya terasa seperti lembaran baru dalam hidupku. Saya mulai mengenal banyak teman baru: Aser Karet yang jago memanjat pohon, Maikel Ijie yang suka menggambar di pasir, Nikodemus Kareth yang kalem tapi pandai berhitung, Yulianus Naa yang pendiam, serta Hengki Kareth yang sering mengajakku bermain kawang mini.
Kami juga sering bermain ke rumah Herol Naa, adik kelas kami yang ramah.
Di sinilah saya belajar bahwa kebahagiaan itu bisa sesederhana memancing ikan di Danau Ayamaru atau disebut Maru dalam bahasa Maybrat. Memasang jerat tikus di semak-semak, atau main voli sore-sore di tanah lapang.
Saat matahari terbenam dan langit Maybrat mulai menguning, suara tawa kami masih terdengar menggema di antara pohon cemara.
Setelah menyelesaikan ujian akhir SD, Mama mendaftarkanku ke SMP Negeri 2 Ayamaru di Kampung Kambuaya. Ini adalah salah satu kampung tertua dari sejumlah kampung di wilayah Maybrat.
Kami tinggal di sana bersama teman-teman, jauh dari rumah, jauh dari pelukan Mama. Di Kambuaya, dunia terasa lebih luas. Kami bertemu banyak teman baru seperti Irmaf Murafer, Imanuel Kambuaya (yang kini telah tiada), Maikel Keret, Roby Jitmau, hingga Trifosa Kambuaya yang selalu membawa kue ubi setiap sore.
Setiap Sabtu, kami pulang ke Yukase untuk mengambil bahan makanan. Itu pun harus kami tempuh dengan perahu. Air dingin yang menggigit kulit, angin yang mengguncang, panas mentari yang membakar kulit kami hadapi dengan kepala tegak.
Bukan karena kami kuat, tapi karena kami tahu: kami harus sekolah supaya jadi tuan. Itulah kalimat sakti yang selalu Bapa dan Mama ucapkan. Bukan sekali, bukan dua kali, tapi berkali-kali hingga masuk ke dalam darah dan tulang kami.
Bahkan saat kami sudah duduk di SMA Negeri 1 Ayamaru, tekad kami tak berubah. Kami rela berjalan kaki setiap Sabtu dari Ayamaru ke Yukase, melewati jalan Johafah yang saat itu sudah mulai dibuka, tapi masih sepi, penuh lubang, dan terik.
Di tengah jalan, kami sering berteduh di bawah pohon besar sambil minum air hujan yang kami tampung di botol plastik.
Kami bukan siapa-siapa. Kami hanya anak guru biasa. Kami bukan anak pejabat atau pemilik tanah luas. Tapi kami tahu satu hal: mimpi tak mengenal kasta.
Kami ingin berhasil. Kami ingin menjadi orang yang berguna. Kami ingin orang tua kami bangga. Tapi yang lebih penting, kami ingin melangkah jauh di atas pasir putih itu, bukan untuk meninggalkannya, tapi untuk kembali suatu hari nanti dengan cerita keberhasilan.
Saya sadar, apa yang kami capai hari ini bukan semata hasil kerja keras kami sendiri. Di balik setiap langkah kami ada doa Mama, ada peluh Ayah, dan ada Tuhan yang selalu menguatkan.
Dan hingga hari ini, saat saya menoleh ke belakang, melihat jejak-jejak kami yang pernah tertinggal di atas pasir putih Yukase, saya tahu, setiap langkah itu adalah doa.
Setiap peluh itu adalah perjuangan. Dan setiap mimpi yang pernah ditanam di tanah pasir putih itu, kini mulai tumbuh dan mekar.
(*) Penulis adalah pemerhati lingkungan kabupaten Maybrat


