Oleh: Imanuel Tahrin (*)
Siang itu, langit terentang biru jernih, memantulkan kecerahan yang menaungi bumi. Saya bergegas menuju Kali Tahite Susumuk, Distrik Aifat, Kabupaten Maybrat, Provinsi Papua Barat Daya. Kunjungan pada Minggu, 9 November 2025, ini terasa sakral.
Namun, setibanya di sana, keelokan alam itu tercoreng. Mata kami menangkap tumpukan sampah yang berserakan, menodai kejernihan tepian air sungai.
Pemandangan kontras ini serta-merta mengingatkan kami pada pesan penting yang baru-baru ini kami serap dari acara “Sosialisasi Upaya Adaptasi Perubahan Iklim.” Acara yang digelar oleh Dinas Kehutanan, Lingkungan Hidup, dan Pertanahan Provinsi Papua Barat Daya di Yukase pada 5 November 2025 itu, menghadirkan inti sari yang sungguh mengena dari narasumber, Bapak Eko dan Bapak Nateniel Jitmau: “Menjaga lingkungan tetap bersih dan mengubah sampah menjadi nilai ekonomi.”
Dalam pemaparannya, Bapak Eko menyampaikan pengalaman masa kecilnya saat tinggal di Kota Sorong: “Kali Rumu dulu bersih sekali. Kalau memancing, kita bisa lihat ikan dari atas. Namun, sekarang sudah rusak sekali karena ulah kita sendiri. Dulu, kita minum air mentah, tetapi sekarang semua minum air kemasan atau yang dibawa oleh truk tangki air bersih. Sorong dengan Maybrat itu sangat dekat, bisa saja kerusakan serupa terjadi di Kabupaten Maybrat.”
Informasi yang kami serap terasa seperti suntikan vitamin bagi jiwa yang resah. Mengingat Yayasan Peduli Tata Ruang (Petarung)rumah kami memang menjadikan riset masalah sampah sebagai salah satu fokus utamanya, pesan dari sosialisasi itu adalah pemicu yang kuat.
Berbekal kesadaran yang tercerahkan, kami mulai bekerja. Sambil mandi di Kali, kami memungut sampah dan mulai berbagi cerita ini kepada beberapa keluarga di sekitar. “Bapak/Ibu sekalian,” ujar saya, “dari sosialisasi yang saya ikuti, sampah seperti botol air mineral dan botol detergen ini ternyata bisa dijual. Ada nilai ekonominya!”
Setelah itu, saya dan rekan-rekan mulai mengumpulkan apa pun yang kami temukan. Bahkan ketika kami kembali ke rumah, parkir mobil, dan beristirahat di teras, mata kami tak luput dari sampah yang berserakan di sekitar. Semua kami kumpulkan.
Seorang warga kemudian bertanya, “Anak-anak, untuk apa kalian kumpulkan barang-barang itu?” Kami menjawab singkat, “Sampah ini bisa dijual di Sorong, Bapa/Mama.” Raut wajah mereka menunjukkan keterkejutan, “Oh, iya kah, Anak?”
Kaka Semuel Tahrin kemudian bergabung. Kami mengambil beberapa kantung plastik besar dari rumah dan mulai bergerak. Kami menyusuri jalanan dari rumah hingga pertigaan Susumuk, lalu melanjutkan perjalanan ke Faitmayaf, ibu kota Kabupaten Maybrat, membersihkan area di samping alun-alun.
Kami berhasil mengisi tiga kantung plastik besar. Beberapa masyarakat lain kembali mendekat dan bertanya, “Kalian angkut barang-barang ini untuk apa?” Jawaban kami tetap sama, “Ada harganya di Sorong.”
Saat kami sedang memungut sampah, seorang pria paruh baya menghampiri dan bertanya. Ketika kami menjelaskan bahwa sampah ini bisa dijual, ia terkejut. “O… iya, Mas? Di Bandung, satu kilogramnya bisa enam ribu rupiah, lho,” katanya berbagi informasi.
”Benar sekali, Mang,” sambut kami. “Selain mendapat uang, kita juga turut serta menjaga lingkungan agar tetap lestari dan bersih. Ini adalah manfaat ganda yang luar biasa!”
Akhirnya, kami pulang ke Susumuk. Rencananya, kegiatan akan dilanjutkan besok, dan kami membawa serta tiga kantung plastik penuh sampah sebagai bukti nyata.
Ini, bagi kami, bukanlah sekadar urusan sampah semata. Ini adalah upaya melanjutkan semangat sosialisasi, sebuah jalan untuk mendapatkan berkah ekonomi, sekaligus sebuah pengabdian nyata dalam menjaga bumi.
Lingkungan yang bersih adalah sumber kesehatan kita. Ketika kita sehat, seluruh aktivitas dapat terlaksana dengan baik. Ingatlah selalu: Kita jaga lingkungan, maka lingkungan akan menjaga kita.
Kepada seluruh masyarakat Rae Bobot, mari bersama-sama selamatkan Tanah Maybrat dari sampah yang merusak hutan, mata air, kali (sungai), dan gunung. Jika kita diam, kita akan menyesal. Salam
(*) Imanuel Tahrin adalah aktivis lingkungan tinggal di Susumuk dan Pendiri Yayasan Peduli Tataruang


